Bukan Sekadar Istirahat, Ini yang Perlu Diperhatikan soal Tidur Siang dan Manajemen Kesehatan

Dya Laras Miftaqu Rohmah • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 16:17 WIB
tidur siang dan manajemen kesehatan menurut dr. tirta. (ilustrasi AI)
tidur siang dan manajemen kesehatan menurut dr. tirta. (ilustrasi AI)

RADARBONANG.ID – Kebutuhan istirahat, kemampuan mengelola stres, dan pola hidup sehari-hari menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan.

Praktisi kesehatan sekaligus pengusaha dr. Tirta Mandira Hudhi membahas sejumlah hal tersebut dalam perbincangan di kanal YouTube Rintik Obrolan, termasuk kebiasaan tidur siang yang dapat berubah seiring bertambahnya usia.

Menurut dr. Tirta, kebutuhan tidur setiap orang tidak selalu sama. Usia, aktivitas, kondisi kesehatan, serta kualitas tidur malam dapat memengaruhi kebutuhan tubuh untuk beristirahat pada siang hari.

Baca Juga: Memasuki Usia 60 Tahun Bukan Berarti Harus Pasif, Ini 7 Cara Menjaga Kesehatan Lansia Setiap Hari

Dia mencontohkan, orang yang lebih tua mungkin merasa lebih membutuhkan tidur siang dibandingkan mereka yang masih berusia muda.

Kebiasaan tersebut dapat menjadi cara untuk memulihkan energi ketika tubuh mulai terasa lelah.

"Semakin kita tua, kita tuh cenderung butuh tidur siang. Makanya bapak-bapak kita usia 40 butuh tidur siang, Mas Timoti usia 25 masih belum butuh tidur, masih kuat," ujar dr. Tirta.

Meski demikian, kebutuhan tidur siang tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan usia.

Kondisi fisik, aktivitas harian, dan kecukupan tidur pada malam sebelumnya juga perlu diperhatikan.

Durasi Tidur Siang Perlu Diperhatikan

Tidur siang dapat membantu mengurangi rasa kantuk dan meningkatkan kewaspadaan.

Namun, durasi dan waktu pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang agar tidak mengganggu waktu tidur malam.

Tidur singkat atau power nap kerap digunakan untuk membantu memulihkan konsentrasi di tengah aktivitas.

Durasi sekitar 10–20 menit umumnya dapat menjadi pilihan praktis bagi orang dewasa yang ingin mengurangi rasa kantuk tanpa terlalu lama tertidur.

Sebaliknya, tidur siang yang terlalu lama dapat membuat sebagian orang merasa pening atau lesu setelah bangun.

Kebiasaan tersebut juga berpotensi mengganggu tidur malam, terutama jika dilakukan menjelang sore.

Karena itu, tidur siang selama 45 menit tidak bisa dianggap sebagai durasi ideal bagi semua orang, terlebih jika dikaitkan langsung dengan perlindungan kesehatan jantung.

Begitu pula, tidur siang lebih dari dua jam tidak otomatis menyebabkan hipersomnia atau dehidrasi. Dampaknya bergantung pada kondisi individu dan kebiasaan tidur secara keseluruhan.

Jika seseorang terus-menerus merasa sangat mengantuk pada siang hari meski sudah tidur cukup pada malam hari, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.

Rasa kantuk berlebihan yang berulang dapat berkaitan dengan gangguan tidur atau masalah kesehatan lain sehingga perlu diperiksa lebih lanjut.

Mengelola Ekspektasi untuk Menekan Stres

Selain pola tidur, dr. Tirta menyoroti pentingnya mengelola ekspektasi agar tidak menjadi sumber tekanan berkepanjangan.

Harapan yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri maupun lingkungan dapat memicu kekecewaan ketika kenyataan tidak berjalan sesuai rencana.

Kondisi tersebut dapat membuat seseorang terus memikirkan masalah yang belum tentu dapat diselesaikan saat itu juga.

Jika berlangsung terus-menerus, stres dapat memengaruhi kualitas tidur, suasana hati, dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.

Dalam kondisi stres, tubuh juga melibatkan respons biologis, termasuk pelepasan hormon kortisol.

Namun, kecemasan atau overthinking tidak selalu disebabkan oleh ekspektasi yang tidak terpenuhi, dan peningkatan kortisol bukan satu-satunya faktor yang menentukan kondisi kesehatan seseorang.

Keluhan lambung pun memiliki beragam penyebab.

Stres dapat memperburuk gejala pada sebagian orang, tetapi gangguan lambung tidak bisa semata-mata disimpulkan sebagai akibat dari pikiran atau kecemasan.

Mengelola ekspektasi dapat dilakukan dengan menetapkan target yang realistis, membagi persoalan menjadi langkah-langkah kecil, serta menerima bahwa tidak semua keadaan bisa dikendalikan.

Menjaga pola tidur, melakukan aktivitas fisik, dan menyediakan waktu untuk beristirahat juga dapat mendukung kesehatan secara menyeluruh.

Pembahasan dr. Tirta tersebut mengingatkan bahwa menjaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas fisik, tetapi juga kebiasaan istirahat dan cara seseorang menghadapi tekanan.

Memahami kebutuhan tubuh sekaligus mengelola stres menjadi bagian penting untuk membangun pola hidup yang lebih seimbang. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
power nap pola tidur kesehatan istirahat tidur siang