RADARBONANG.ID – Anggapan bahwa 90 persen penyakit berasal dari pikiran tidak bisa diterima begitu saja sebagai fakta medis.
Penyakit memiliki beragam penyebab, mulai dari infeksi, faktor genetik, hingga gangguan metabolisme. Meski demikian, kondisi psikologis seseorang dapat memengaruhi kesehatan fisik dan proses pemulihan.
Praktisi kesehatan dr. Tirta Mandira Hudhi membahas anggapan tersebut dalam video di kanal YouTube miliknya, Tirta PengPengPeng.
Baca Juga: Memasuki Usia 60 Tahun Bukan Berarti Harus Pasif, Ini 7 Cara Menjaga Kesehatan Lansia Setiap Hari
Dalam pembahasannya, dr. Tirta menyoroti perbedaan antara penyebab penyakit dan faktor yang dapat memengaruhi proses kesembuhan.
Keduanya perlu dipahami secara terpisah agar masyarakat tidak keliru menafsirkan hubungan antara pikiran dan kondisi tubuh.
Penyakit tidak selalu muncul akibat tekanan mental. Infeksi bakteri atau virus, kelainan genetik, gangguan sistem kekebalan, serta faktor lingkungan dapat berperan dalam timbulnya berbagai masalah kesehatan.
Bahkan, pada sejumlah penyakit, penyebab pastinya belum diketahui secara menyeluruh. Karena itu, klaim bahwa sebagian besar penyakit berawal dari pikiran perlu disikapi secara kritis.
Kondisi psikologis memang penting, tetapi tidak dapat menggantikan penjelasan medis mengenai penyebab suatu penyakit.
Penyebab Penyakit Berbeda dengan Faktor Pemulihan
Dalam dunia kedokteran, penyakit dapat muncul melalui berbagai mekanisme.
Tuberkulosis, misalnya, disebabkan oleh infeksi bakteri, sedangkan diabetes tipe 1 berkaitan dengan kerusakan sel penghasil insulin akibat proses autoimun.
Adapun penyakit lain dapat melibatkan kombinasi faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup.
Di sisi lain, kondisi mental dapat memengaruhi cara tubuh merespons tekanan. Stres berkepanjangan dapat mengganggu kualitas tidur, mengubah kebiasaan makan, serta memengaruhi sejumlah proses fisiologis.
Salah satu mekanismenya melibatkan kortisol, hormon yang membantu tubuh menghadapi situasi penuh tekanan.
Dalam kondisi normal, kortisol memiliki fungsi penting. Namun, stres kronis dapat mengganggu regulasi hormon dan berkaitan dengan perubahan fungsi kekebalan tubuh serta metabolisme.
Pada orang dengan diabetes, misalnya, stres dapat berkontribusi terhadap peningkatan kadar gula darah.
Meski demikian, respons setiap orang berbeda dan tidak semua keluhan fisik dapat dijelaskan hanya melalui stres atau kecemasan.
Proses pemulihan juga melibatkan mekanisme alami tubuh, termasuk kerja sistem kekebalan dan regenerasi jaringan.
Pengobatan medis membantu mengatasi penyebab penyakit, mengendalikan gejala, atau mencegah kondisi memburuk, sesuai kebutuhan pasien.
Sikap optimis dapat membantu seseorang menghadapi pengobatan, mempertahankan rutinitas yang sehat, dan menjalani proses pemulihan dengan lebih baik.
Namun, optimisme bukan jaminan kesembuhan dan tidak menggantikan terapi medis yang diperlukan.
Kesehatan Mental Perlu Ditangani dengan Tepat
Hubungan antara kondisi psikologis dan kesehatan fisik juga menjadi alasan pentingnya menjaga kesehatan mental.
Stres berat, kecemasan, maupun depresi dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, kualitas tidur, konsentrasi, dan kemampuan seseorang merawat dirinya.
Jika berlangsung lama atau tidak tertangani, masalah tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan tertentu atau memperburuk kondisi yang sudah ada.
Karena itu, keluhan mental tidak seharusnya disepelekan hanya karena tidak selalu menunjukkan luka fisik yang terlihat.
Dukungan keluarga, lingkungan yang sehat, serta komunikasi yang baik dengan tenaga medis dapat membantu pasien menjalani perawatan.
Ketika diperlukan, bantuan psikolog atau psikiater juga menjadi bagian penting dalam penanganan masalah kesehatan mental.
Di sisi lain, pasien tidak seharusnya disalahkan apabila penyakitnya belum membaik hanya karena dianggap kurang optimis.
Perjalanan pemulihan dipengaruhi banyak faktor, termasuk jenis penyakit, tingkat keparahan, respons terhadap pengobatan, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Dengan memahami perbedaan tersebut, masyarakat dapat lebih bijak menyikapi informasi kesehatan.
Menjaga pikiran dan mengelola stres memang penting, tetapi diagnosis serta penanganan penyakit tetap perlu didasarkan pada pemeriksaan medis yang sesuai. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari