RADARBONANG.ID – Teh herbal tak hanya bisa menjadi pilihan minuman hangat untuk menemani aktivitas sehari-hari.
Sejumlah jenis teh herbal juga dikenal memiliki potensi manfaat bagi kesehatan wanita, mulai dari membantu meredakan ketidaknyamanan saat menstruasi hingga mendukung kualitas tidur.
Setiap jenis teh memiliki karakteristik dan kandungan yang berbeda. Teh daun raspberry, misalnya, kerap dikaitkan dengan upaya meredakan kram menstruasi.
Baca Juga: Bunga Lawang dan Cengkeh Bisa Jadi Minuman Herbal, Simak Manfaat dan Cara Membuatnya
Sementara itu, teh lemon balm dan lavender sering dipilih untuk membantu tubuh lebih rileks setelah menjalani aktivitas yang padat.
Dilansir dari Health, terdapat tujuh jenis teh herbal yang dapat dipertimbangkan wanita untuk melengkapi rutinitas harian.
Meski demikian, manfaatnya dapat berbeda pada setiap orang dan tidak menggantikan pengobatan medis.
Dari Menstruasi hingga Keseimbangan Hormon
1. Teh Daun Raspberry
Teh daun raspberry dikenal sebagai salah satu minuman herbal yang dikaitkan dengan kesehatan menstruasi.
Minuman ini disebut dapat membantu meredakan gejala sindrom pramenstruasi (PMS) dan mengurangi kram yang terasa menyakitkan.
Efek relaksasinya dipercaya membantu mengurangi ketidaknyamanan selama menstruasi. Namun, bukti ilmiah mengenai manfaat tersebut masih perlu diperhatikan sebelum menjadikannya sebagai pilihan penanganan utama.
2. Teh Sage
Teh sage menjadi pilihan herbal yang kerap dibahas dalam kaitannya dengan kesehatan hormonal wanita.
Jenis teh ini terutama direkomendasikan untuk membantu mengurangi keluhan yang muncul selama masa menopause.
Meski demikian, teh sage bukan pengganti terapi medis untuk mengatasi gejala menopause. Wanita yang mengalami keluhan berat sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
3. Teh Daun Jelatang
Daun jelatang atau nettle disebut sebagai pilihan yang dapat dipertimbangkan untuk wanita yang mengalami kelelahan akibat kekurangan zat besi. Tanaman ini mengandung sejumlah mineral, termasuk zat besi.
Namun, kandungan zat besi dalam seduhan teh tidak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh atau mengatasi anemia.
Jika sering merasa lemas, pusing, atau mudah lelah, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
4. Teh Jahe dan Lemon
Perpaduan jahe dan lemon menjadi pilihan minuman herbal yang menyegarkan. Jahe memiliki senyawa aktif yang banyak diteliti terkait efek antiinflamasi, sedangkan lemon mengandung vitamin C.
Kombinasi keduanya dapat menjadi bagian dari pola konsumsi yang beragam untuk mendukung kesehatan.
Meski demikian, minuman ini bukan jaminan untuk meningkatkan daya tahan tubuh atau membuat kulit awet muda.
Pilihan Teh Herbal untuk Relaksasi dan Kebugaran
5. Teh Kembang Sepatu
Teh kembang sepatu atau hibiscus tea memiliki warna merah rubi yang khas dan cita rasa sedikit asam.
Minuman ini menarik perhatian karena sejumlah penelitian menunjukkan potensi manfaatnya dalam membantu menurunkan tekanan darah.
Kendati demikian, teh kembang sepatu tidak dapat menggantikan obat hipertensi. Orang yang memiliki tekanan darah rendah atau sedang mengonsumsi obat tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum rutin meminumnya.
6. Teh Lemon Balm
Teh lemon balm cocok dijadikan minuman malam bagi mereka yang ingin bersantai setelah beraktivitas.
Tanaman herbal ini dikenal memiliki efek menenangkan dan kerap digunakan untuk membantu mengurangi stres serta kecemasan.
Lemon balm juga diteliti terkait potensinya dalam mendukung kualitas tidur. Namun, hasilnya dapat berbeda pada setiap orang dan bukti manfaatnya masih perlu terus dikembangkan.
7. Teh Lavender
Lavender dikenal dengan aroma khas yang memberikan kesan menenangkan.
Dalam bentuk teh herbal, lavender kerap dikaitkan dengan upaya memperbaiki suasana hati, mengurangi ketegangan, dan mendukung tidur yang lebih berkualitas.
Minuman ini dapat menjadi bagian dari rutinitas relaksasi sebelum tidur.
Akan tetapi, teh lavender tidak dapat dipastikan mengatasi gangguan kecemasan atau masalah tidur yang memerlukan penanganan profesional.
Sebelum mengonsumsi teh herbal secara rutin, wanita disarankan berkonsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan, terutama jika memiliki kondisi medis tertentu, sedang hamil atau menyusui, maupun mengonsumsi obat-obatan.
Langkah ini penting untuk mengantisipasi risiko alergi, intoleransi, dan interaksi dengan obat. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari