Sering Brain Fog setelah Main HP? Kenali Dampak Screen Time Berlebihan

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:20 WIB
ilustrasi saat anak sedang screen time. (unsplash.com/ kelly sikkema)
ilustrasi saat anak sedang screen time. (unsplash.com/ kelly sikkema)

RADARBONANG.ID – Kebiasaan screen time dengan menatap smartphone, komputer, dan perangkat digital dalam waktu lama dapat memengaruhi kenyamanan mata, konsentrasi, hingga kualitas tidur.

Karena itu, penggunaan gawai perlu dikelola dengan bijak, bukan sekadar menghitung berapa lama seseorang menatap layar.

Spesialis Bedah Saraf Dr. dr. Ronny Setiawan, Sp.BS, FINPS, menjelaskan bahwa hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan gawai adalah aktivitas yang dilakukan otak ketika menerima dan memproses informasi dari layar.

Baca Juga: Diam-Diam Mematikan Stimulus Anak! Kalimat ‘Nanti Juga Bisa Sendiri’ Ternyata Lebih Berbahaya dari Screen Time

Dalam tayangan video di kanal YouTube Rory Asyari, dr. Ronny menekankan bahwa mata menjadi jalur masuk informasi visual yang kemudian diproses oleh otak. 

Oleh sebab itu, kebiasaan menggunakan gawai perlu dilihat dari aktivitas yang dilakukan, bukan hanya durasinya.

"Yang kita perlu tahu bahwa bukan berapa lama kita melakukan itu. Mata punya peran sebagai jendela, pintu masuk semua informasi masuk ke otak. Jadi, yang harus kita konsen adalah justru apa yang otak sedang lakukan sepanjang kita melakukan screen time," ujar dr. Ronny.

Meski demikian, durasi penggunaan tetap penting diperhatikan. Aktivitas menatap layar dalam waktu lama, terutama pada jarak dekat tanpa jeda, dapat memicu keluhan pada mata.

Sementara itu, kebiasaan mengonsumsi informasi digital secara terus-menerus juga berpotensi mengganggu fokus dan waktu istirahat.

Mata Lelah hingga Gangguan Konsentrasi

Salah satu keluhan yang sering muncul setelah menatap layar terlalu lama adalah kelelahan mata atau digital eye strain.

Gejalanya dapat berupa mata kering, terasa perih, pandangan kabur, sakit kepala, dan kesulitan mempertahankan konsentrasi.

Saat melihat layar, seseorang cenderung lebih jarang berkedip. Akibatnya, permukaan mata lebih mudah mengering.

Aktivitas melihat objek dalam jarak dekat secara terus-menerus juga membuat sistem fokus mata bekerja tanpa jeda yang memadai.

Untuk mengurangi keluhan tersebut, masyarakat dapat menerapkan aturan 20-20-20.

Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan selama 20 detik ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau enam meter.

Selain itu, atur jarak pandang, pencahayaan ruangan, dan posisi layar agar lebih nyaman.

Penggunaan layar jarak dekat juga perlu diperhatikan, terutama pada anak-anak dan remaja.

Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara aktivitas melihat dekat dalam durasi panjang dan meningkatnya risiko rabun jauh atau miopia.

Namun, perkembangan miopia dipengaruhi banyak faktor, termasuk riwayat keluarga dan kurangnya aktivitas di luar ruangan.

Dari sisi fungsi otak, kebiasaan berpindah cepat dari satu konten ke konten lain dapat membuat perhatian terus berganti.

Ketika seseorang berulang kali beralih dari video pendek ke unggahan media sosial, otak harus menyesuaikan fokus dengan informasi yang berbeda-beda.

Pola tersebut dapat menimbulkan kelelahan mental dan membuat seseorang merasa sulit berkonsentrasi.

Istilah brain fog kerap digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika pikiran terasa berkabut, sulit fokus, atau lambat memproses informasi.

Namun, keluhan ini tidak memiliki satu penyebab tunggal dan tidak bisa langsung disimpulkan sebagai akibat penggunaan gawai saja.

Terapkan SMART Screen Time dalam Kehidupan Sehari-hari

Penggunaan gawai pada malam hari juga perlu mendapat perhatian karena dapat mengganggu waktu tidur.

Cahaya dari layar, terutama jika digunakan dengan intensitas tinggi menjelang waktu istirahat, dapat memengaruhi produksi melatonin dan menggeser ritme biologis tubuh.

Konten yang merangsang perhatian juga bisa membuat seseorang menunda waktu tidur.

Padahal, tidur yang cukup berperan penting dalam menjaga daya ingat, konsentrasi, dan pemulihan tubuh.

Karena itu, membatasi penggunaan gawai menjelang tidur menjadi salah satu langkah untuk menjaga kualitas istirahat.

Dr. Ronny menyarankan masyarakat menerapkan lima prinsip SMART dalam menggunakan gawai.

Prinsip tersebut mencakup beberapa kebiasaan yang dapat membantu menyeimbangkan aktivitas digital dengan kebutuhan fisik dan sosial.

Penerapan prinsip tersebut tidak berarti seseorang harus sepenuhnya menghindari teknologi.

Gawai tetap dapat menjadi sarana belajar, bekerja, dan berkomunikasi selama penggunaannya diimbangi dengan istirahat, aktivitas fisik, serta interaksi sosial.

Dengan pengelolaan yang tepat, masyarakat dapat memanfaatkan teknologi digital tanpa mengabaikan kesehatan mata, kualitas tidur, dan kemampuan berkonsentrasi. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
mengganggu fokus brain fog gawai kualitas tidur Screen Time