Tak Semua Lemak Buruk, MSG Juga Tak Perlu Ditakuti Berlebihan, Ini Faktanya

Dya Laras Miftaqu Rohmah • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 16:06 WIB
MSG DAN LEMAK, BENARKAH BERBAHAYA. (ilustrasi AI)
MSG DAN LEMAK, BENARKAH BERBAHAYA. (ilustrasi AI)

RADARBONANG.ID - MSG dan lemak kerap dianggap sebagai dua hal yang perlu dihindari demi menjaga kesehatan.

MSG atau penyedap rasa sering dikaitkan dengan berbagai keluhan tubuh, sedangkan lemak kerap dituding sebagai pemicu kenaikan berat badan hingga penyakit jantung.

Padahal, dampak keduanya perlu dipahami berdasarkan takaran konsumsi, jenis bahan, dan pola makan secara keseluruhan.

Baca Juga: Ramai Tren Masak Tanpa MSG, Benarkah Lebih Sehat? Ahli Gizi Bongkar Fakta yang Jarang Diketahui

Pembahasan mengenai stigma tersebut diangkat dalam video kanal YouTube TS Media bertajuk Kenapa Kita Selalu Takut SAMA MSG & Lemak? Ini Penjelasan Logisnya.

Diskusi itu mengajak masyarakat meninjau kembali anggapan yang telanjur berkembang mengenai keamanan pangan dan kebutuhan nutrisi.

Ketakutan terhadap bahan makanan tertentu dapat muncul ketika informasi kesehatan diterima secara tidak utuh. Akibatnya, masyarakat berisiko menghindari bahan pangan tanpa memahami bukti ilmiah maupun konteks konsumsinya.

Salah satu contohnya adalah monosodium glutamat (MSG), yang dikenal luas dengan sebutan vitsin.

Bahan tambahan pangan ini sering dikaitkan dengan keluhan seperti pusing dan istilah Chinese restaurant syndrome. Meski demikian, keluhan setelah makan tidak serta-merta membuktikan bahwa MSG menjadi penyebabnya.

Glutamat sendiri merupakan senyawa yang secara alami terdapat dalam tubuh manusia dan sejumlah makanan, termasuk tomat, keju, serta jamur.

Tubuh juga memiliki mekanisme untuk memproses glutamat dari berbagai sumber makanan.

MSG secara umum dinilai aman dikonsumsi dalam batas penggunaan yang wajar.

Namun, respons setiap orang dapat berbeda, sehingga keluhan yang berulang setelah mengonsumsi makanan tertentu tetap perlu diperhatikan.

Kualitas pola makan secara keseluruhan juga tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya MSG.

MSG Bukan Satu-Satunya Penentu Pola Makan Sehat

Ketakutan terhadap MSG sering kali membuat perhatian tertuju pada satu bahan, sementara komposisi makanan secara keseluruhan justru luput diperhitungkan.

Padahal, asupan gula, garam, lemak, serat, serta jumlah energi harian juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan.

Karena itu, menilai makanan hanya berdasarkan keberadaan MSG tidak cukup untuk menentukan apakah makanan tersebut sehat atau tidak.

Kandungan gizi, ukuran porsi, frekuensi konsumsi, dan kebutuhan tubuh perlu dipertimbangkan secara bersamaan.

Prinsip serupa berlaku terhadap lemak. Dalam berbagai program diet, lemak kerap dihindari karena dianggap selalu menyebabkan kegemukan.

Padahal, tubuh tetap membutuhkan lemak untuk menjalankan sejumlah fungsi penting.

Lemak menjadi sumber energi, membantu melindungi organ, serta mendukung penyerapan vitamin A, D, E, dan K yang larut dalam lemak. Nutrisi ini juga berperan dalam berbagai proses biologis tubuh.

Dengan demikian, menghilangkan lemak sepenuhnya dari pola makan bukanlah pendekatan yang tepat. Tubuh membutuhkan asupan lemak dalam jumlah sesuai kebutuhan, dengan tetap memperhatikan sumber dan jenisnya.

Jenis Lemak dan Takaran Konsumsi Tetap Penting

Tidak semua lemak memiliki dampak yang sama terhadap kesehatan. Lemak tak jenuh yang terdapat pada ikan, kacang-kacangan, dan alpukat dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang.

Sebaliknya, konsumsi lemak trans perlu dihindari sebisa mungkin, sedangkan asupan lemak jenuh perlu dibatasi sesuai anjuran gizi.

Selain jenis lemak, jumlah kalori yang dikonsumsi dibandingkan dengan energi yang digunakan tubuh turut memengaruhi perubahan berat badan.

Karena itu, kenaikan berat badan tidak bisa dijelaskan hanya dengan keberadaan lemak dalam makanan.

Pemahaman tersebut penting agar masyarakat tidak terjebak dalam food fear atau ketakutan berlebihan terhadap makanan tertentu.

Menghindari satu bahan secara mutlak tanpa mempertimbangkan kebutuhan nutrisi justru berpotensi membuat pola makan kurang beragam.

Pendekatan yang lebih bijak adalah mengutamakan makanan beragam dengan gizi seimbang, memperhatikan porsi, serta membatasi konsumsi bahan yang memang perlu dikendalikan.

Informasi kesehatan pun sebaiknya diperiksa melalui sumber tepercaya sebelum dijadikan dasar untuk mengubah pola makan.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan bukan berarti harus takut terhadap setiap bahan makanan.

Memahami fungsi nutrisi, memilih sumber pangan secara bijak, dan menyesuaikan asupan dengan kebutuhan tubuh menjadi langkah penting untuk membangun kebiasaan makan yang sehat dan berkelanjutan. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
MSG glutamat tubuh lemak