Sulit Konsentrasi Tak Selalu ADHD, Kecemasan hingga Depresi Bisa Jadi Penyebab

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 16:37 WIB
Ilustrasi seseorang yang tidak bisa fokus dengan pekerjaannya akrena mengalami kecemasan. (ilustrasi AI)
Ilustrasi seseorang yang tidak bisa fokus dengan pekerjaannya akrena mengalami kecemasan. (ilustrasi AI)

RADARBONANG.ID – Kesulitan berkonsentrasi, mudah terdistraksi, hingga kebiasaan menunda pekerjaan kerap membuat seseorang menduga dirinya mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Padahal, gejala tersebut tidak selalu menunjukkan gangguan perkembangan saraf tersebut dan dapat berkaitan dengan kondisi lain, seperti kecemasan, depresi, stres, atau kurang tidur.

Psikiater intervensi dr. Darmawan Adi Purnama, Sp.KJ, membahas kesalahpahaman mengenai gangguan konsentrasi dalam video di kanal YouTube MALAKA bertajuk Memahami Gangguan Konsentrasi dan Attention Span.

Baca Juga: Kenapa Ngobrol dengan Orang Tertentu Bikin Capek? Bisa Jadi Bukan karena Durasi, tapi Beban Mental

Dia menekankan pentingnya memahami kondisi seseorang secara menyeluruh sebelum menyimpulkan adanya gangguan psikologis tertentu.

Diagnosis ADHD tidak cukup didasarkan pada satu atau dua gejala yang dirasakan, melainkan memerlukan asesmen klinis untuk menilai riwayat gejala, pola perilaku, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

"Jangan main asal langsung self-diagnosis dan mencocokkan gejala-gejala. Gangguan konsentrasi bisa ditemukan pada gangguan cemas, depresi, atau OCD, dan belum tentu setiap orang yang susah fokus otomatis mengalami ADHD," ungkap dr. Darmawan, Sp.KJ, dalam podcast tersebut.

ADHD sendiri merupakan gangguan perkembangan saraf yang dapat memengaruhi perhatian, pengendalian impuls, dan aktivitas seseorang.

Gejalanya umumnya telah muncul sejak masa kanak-kanak dan dapat berlanjut hingga dewasa. Namun, tingkat kesulitan serta dampaknya berbeda pada setiap individu.

Sulit Fokus Bisa Berkaitan dengan Berbagai Kondisi

Kesulitan berkonsentrasi merupakan gejala yang dapat muncul dalam berbagai kondisi. Pada seseorang yang mengalami kecemasan, misalnya, pikiran yang terus dipenuhi kekhawatiran dapat mengganggu perhatian.

Sementara itu, depresi dapat memengaruhi energi, motivasi, daya ingat, dan kemampuan mengambil keputusan.

Stres berkepanjangan serta kurang tidur juga dapat membuat seseorang lebih mudah terdistraksi dan kesulitan menyelesaikan tugas.

Karena gejalanya dapat saling menyerupai, menilai kondisi hanya berdasarkan pengalaman sesaat berisiko menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Dalam pembahasannya, dr. Darmawan turut menyoroti pentingnya memahami cara kerja otak dalam melihat perilaku manusia.

Lobus frontalis, misalnya, berperan dalam fungsi eksekutif, seperti perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengendalian diri.

Sistem limbik terlibat dalam pemrosesan emosi dan memori, sedangkan lobus oksipitalis berperan utama dalam memproses informasi visual.

Meski setiap bagian memiliki fungsi tertentu, kerja otak melibatkan jaringan yang saling terhubung. Karena itu, perilaku kompleks seperti sulit fokus tidak dapat dijelaskan hanya dengan menunjuk satu bagian otak sebagai penyebabnya.

Psikiatri modern juga memandang manusia secara holistik dengan mempertimbangkan aspek biologis, psikologis, sosial, budaya, dan, sesuai konteks pasien, spiritual.

Pendekatan ini membantu tenaga profesional memahami faktor yang memengaruhi kondisi seseorang sekaligus menentukan penanganan yang sesuai.

Pemeriksaan Klinis Membantu Menentukan Penanganan

Ketika kesulitan berkonsentrasi mulai mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, pemeriksaan oleh tenaga profesional kesehatan mental dapat membantu mengidentifikasi penyebabnya.

Dalam asesmen ADHD, tenaga profesional akan menilai pola gejala, riwayat perkembangannya, kemunculan gejala di berbagai situasi, serta dampak yang ditimbulkan.

Pemeriksaan juga membantu mempertimbangkan kemungkinan kondisi lain yang dapat menyebabkan atau memperburuk gangguan konsentrasi.

Penanganan kemudian disesuaikan dengan kebutuhan individu. Pilihannya dapat mencakup edukasi, psikoterapi, perbaikan pola tidur dan rutinitas, serta pengobatan apabila dinilai diperlukan.

Tetapi, tidak semua orang dengan kesulitan konsentrasi membutuhkan intervensi yang sama.

Perkembangan teknologi juga menghadirkan pendekatan seperti neurofeedback dan neurostimulation.

Neurofeedback menggunakan umpan balik dari aktivitas fisiologis, termasuk aktivitas otak tertentu, untuk membantu seseorang mempelajari pengaturan responsnya. 

Sementara itu, neurostimulasi melibatkan teknik untuk memengaruhi aktivitas saraf dan digunakan pada indikasi klinis tertentu.

Meski demikian, efektivitas dan kesesuaian metode tersebut bergantung pada kondisi yang ditangani. Teknologi seperti brain mapping juga tidak dapat digunakan sendirian untuk memastikan diagnosis ADHD pada setiap orang.

dr. Darmawan menegaskan pentingnya memahami fungsi otak agar penanganan kesehatan mental tidak berhenti pada pemberian nasihat umum, tetapi mempertimbangkan kondisi biologis dan psikologis yang mendasarinya.

"Memahami fungsi dasar otak membantu kita menyadari bahwa merawat kesehatan mental bukan sekadar diberi nasihat klise, melainkan memperbaiki sistem dan fungsi biologisnya agar seseorang dapat kembali mengambil keputusan hidup dengan rasional," pungkasnya. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
kesulitan konsentrasi neurostimulasi adhd mental otak