RADARBONANG.ID – Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) selama ini dikenal sebagai tanaman hias yang banyak tumbuh di pekarangan. Namun, tanaman tersebut juga menarik perhatian karena kandungan senyawa alaminya yang berpotensi mendukung kesehatan.
Praktisi kesehatan dr. Fery Juliawan membahas potensi kembang sepatu dalam tayangan edukasi di kanal YouTube Dokter Fery TV.
Dia menjelaskan bahwa tanaman ini memiliki kekerabatan dengan rosella (Hibiscus sabdariffa), yang lebih banyak diteliti terkait manfaat kesehatannya.
Baca Juga: 3 Resep Herbal Ampuh Redakan Batuk Berdahak Secara Alami serta Cara Membuatnya
Kembang sepatu mengandung sejumlah senyawa, termasuk antosianin dan flavonoid. Senyawa tersebut diteliti karena aktivitas antioksidannya serta kemungkinan perannya dalam menjaga fungsi pembuluh darah.
Meski demikian, manfaat kesehatan kembang sepatu perlu dipahami secara hati-hati.
Bukti penelitian mengenai rosella tidak otomatis berlaku untuk kembang sepatu karena keduanya merupakan spesies berbeda.
Teh herbal dari tanaman ini juga tidak dapat dianggap sebagai pengganti pengobatan hipertensi atau kolesterol tinggi yang diresepkan dokter.
Potensi Kembang Sepatu untuk Tekanan Darah dan Kolesterol
Dalam tayangan edukasinya, dr. Fery Juliawan menjelaskan bahwa senyawa aktif dalam kembang sepatu berpotensi memengaruhi fungsi pembuluh darah.
"Senyawa aktif di dalamnya bekerja mirip seperti obat ACE inhibitor, yaitu membantu merelaksasi dan melebarkan pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi lebih lancar," ujar dr. Fery.
ACE inhibitor merupakan kelompok obat yang digunakan untuk menangani tekanan darah tinggi dan kondisi medis tertentu.
Namun, klaim bahwa kembang sepatu bekerja dengan mekanisme serupa masih perlu ditelaah berdasarkan bukti khusus mengenai spesies tanaman, dosis, dan keamanan penggunaannya.
Sejumlah penelitian terhadap teh rosella (Hibiscus sabdariffa) memang menunjukkan potensi penurunan tekanan darah pada sebagian orang.
Penelitian mengenai pengaruhnya terhadap kadar kolesterol juga telah dilakukan, tetapi hasilnya tidak dapat langsung disamakan dengan efek kembang sepatu.
Karena itu, klaim bahwa teh kembang sepatu terbukti menurunkan tekanan darah maupun memperbaiki seluruh profil kolesterol perlu didukung penelitian klinis yang secara khusus menguji tanaman tersebut.
Hipertensi dan kolesterol tinggi tetap memerlukan perhatian karena keduanya dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Pemeriksaan rutin, pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan penggunaan obat sesuai petunjuk tenaga medis tetap menjadi bagian penting dalam pengendalian kedua kondisi tersebut.
Cara Membuat Teh Kembang Sepatu di Rumah
Bunga kembang sepatu dapat diolah menjadi minuman herbal. Namun, penggunaan bunga untuk konsumsi perlu memperhatikan keamanan bahan baku.
Pilih bunga yang memang aman untuk dikonsumsi, tidak terpapar pestisida, dan telah dibersihkan dengan baik.
Berikut langkah sederhana membuat seduhan bunga kembang sepatu:
-
Siapkan bahan. Gunakan bunga yang aman untuk dikonsumsi dan sekitar 250–300 mililiter air bersih. Takaran tiga hingga lima bunga tidak dapat dianggap sebagai dosis medis yang terbukti aman atau efektif.
-
Bersihkan bunga. Pisahkan bagian bunga yang akan digunakan, lalu cuci dengan air mengalir untuk menghilangkan debu dan kotoran.
-
Pilih metode pengolahan. Bunga dapat diseduh dengan air panas dalam wadah tertutup selama beberapa menit. Alternatifnya, bunga direbus sebentar dengan api kecil.
-
Saring sebelum diminum. Pisahkan ampas bunga dari cairan. Madu atau perasan jeruk nipis dapat ditambahkan secukupnya jika diinginkan.
Tidak ada dosis harian teh kembang sepatu yang dapat direkomendasikan secara pasti untuk mengobati hipertensi atau kolesterol tinggi berdasarkan informasi tersebut.
Konsumsi rutin sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan, terutama bagi orang yang memiliki penyakit kronis atau sedang menggunakan obat.
Pasien yang mengonsumsi obat tekanan darah juga perlu berhati-hati karena produk herbal berpotensi memengaruhi tekanan darah atau berinteraksi dengan obat tertentu.
Jeda dua hingga tiga jam tidak menjamin interaksi dapat dicegah.
Karena itu, konsultasikan penggunaan teh herbal kepada dokter atau apoteker, dan jangan menghentikan maupun mengurangi dosis obat yang diresepkan tanpa arahan medis. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari