RADARBONANG.ID - Upaya menurunkan berat badan tidak selalu harus ditempuh melalui obat, suplemen, atau prosedur medis.
Pengaturan pola makan dan aktivitas fisik justru tetap menjadi dasar penting dalam penanganan obesitas.
Dokter spesialis gizi klinik dr. Meta Satyani Sp.GK mengatakan, terapi obesitas perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap pasien.
Faktor kesehatan juga menjadi pertimbangan sebelum menentukan langkah penanganan.
Baca Juga: Bukan Cuma Soal Diet, Ini Alasan Avocado Toast hingga Greek Yogurt Digemari Gen Z
Hal tersebut disampaikan dr. Meta dalam podcast Kelas Pakar Malaka yang tayang di kanal YouTube Malaka.
Menurutnya, perubahan berat badan yang sehat membutuhkan proses.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak mudah tergiur dengan berbagai klaim yang menjanjikan hasil secara instan.
“Terapi obesitas itu mau muter-muter gimana pun basic utamanya adalah tetap pola makan dan olahraga,” ujar dr. Meta.
Secara umum, penurunan berat badan sekitar 0,5 hingga satu kilogram per minggu dapat menjadi target yang lebih realistis.
Namun, angka tersebut tidak bisa dijadikan ukuran mutlak bagi semua orang.
Pasien dengan tingkat obesitas yang berbeda dapat menunjukkan respons penurunan berat badan yang berbeda pula.
Sehingga, prosesnya tetap perlu disesuaikan dan dipantau berdasarkan kondisi masing-masing.
Jangan Mudah Tergiur Klaim Turun Berat Badan Instan
Dr. Meta juga menyoroti banyaknya produk suplemen yang dipasarkan dengan klaim mampu membantu menurunkan berat badan dalam waktu singkat.
Dia menjelaskan, sejumlah kandungan seperti kafein dan ekstrak teh hijau memang dapat memberikan pengaruh terhadap metabolisme.
Meski begitu, efek tersebut tidak berarti dapat menggantikan peran pengaturan makan dan olahraga.
Penggunaan suplemen pun sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan klaim produk.
Kebutuhan serta kondisi tubuh masing-masing orang tetap perlu menjadi pertimbangan.
Hal yang sama berlaku pada tindakan sedot lemak atau liposuction. Prosedur tersebut dapat membantu mengurangi lemak pada bagian tubuh tertentu, tetapi bukan berarti menggantikan perubahan pola hidup.
Jika pola makan dan kebiasaan hidup setelah tindakan tidak diperbaiki, berat badan tetap berpotensi kembali meningkat.
Obat Obesitas Tetap Perlu Indikasi Medis
Selain perubahan pola makan dan aktivitas fisik, dokter dapat mempertimbangkan pemberian obat kepada pasien tertentu.
Pilihan terapi dapat mencakup obat penahan nafsu makan, fat blocker, hingga obat injeksi.
Namun, penggunaan obat tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dokter perlu melihat kondisi kesehatan, riwayat penyakit, hasil pemeriksaan, serta kebutuhan pasien sebelum menentukan terapi yang sesuai.
“Jangan mengira karena ada obat, kemudian bisa bebas makannya,” tegas dr. Meta.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa obat, suplemen, maupun prosedur medis bukanlah pengganti pola hidup sehat.
Bagi pasien obesitas, pengaturan makan dan olahraga tetap menjadi bagian penting dalam proses penanganan.
Karena itu, upaya menurunkan berat badan sebaiknya tidak hanya mengejar perubahan dalam waktu singkat.
Proses bertahap yang disesuaikan dengan kondisi tubuh menjadi bagian penting agar penanganan obesitas dapat dilakukan secara lebih tepat. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari