Tubuh Tak Bisa Bergerak Saat Terbangun? Kenali Sleep Paralysis dan Cara Mengurangi Risikonya

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 09:17 WIB
Pernah terbangun tetapi tubuh tidak bisa bergerak? Kondisi yang sering disebut ketindihan ternyata punya penjelasan medis dan dikenal sebagai sleep paralysis. (istimewa)
Pernah terbangun tetapi tubuh tidak bisa bergerak? Kondisi yang sering disebut ketindihan ternyata punya penjelasan medis dan dikenal sebagai sleep paralysis. (istimewa)

RADARBONANG.ID – Pernah terbangun di tengah malam tetapi tubuh terasa tidak bisa digerakkan? Mulut ingin berbicara, tetapi suara seperti tertahan.

Sebagian masyarakat mengenalnya sebagai ketindihan.

Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan pengalaman mistis karena seseorang bisa merasa melihat sosok tertentu atau merasakan seperti ada sesuatu yang menekan tubuh.

Namun, secara medis, pengalaman tersebut dikenal sebagai sleep paralysis atau kelumpuhan tidur.

Kondisi ini terjadi ketika seseorang sudah sadar atau mulai terbangun, tetapi tubuh masih berada dalam kondisi relaksasi yang berkaitan dengan fase REM.

Sleep paralysis umumnya berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit.

Meski bisa terasa sangat menakutkan, kondisi tersebut pada banyak kasus tidak berbahaya.

Mengapa Tubuh Seperti Tidak Bisa Bergerak?

Saat tidur, manusia melewati beberapa tahapan tidur. Salah satunya adalah fase REM atau Rapid Eye Movement.

Baca Juga: Bukan Sekadar Masalah Modern, Stres Ternyata Mekanisme Bertahan Hidup Manusia

Pada fase tersebut, aktivitas otak cukup tinggi dan mimpi biasanya muncul.

Tubuh juga secara alami mengalami relaksasi otot sehingga seseorang tidak bergerak mengikuti apa yang terjadi dalam mimpi.

Masalah dapat muncul ketika proses antara tidur dan bangun tidak berlangsung secara bersamaan.

Otak sudah mulai sadar, tetapi tubuh masih berada dalam kondisi seperti saat fase REM.

Akibatnya, seseorang dapat membuka mata dan menyadari keadaan di sekitarnya, tetapi belum mampu menggerakkan tubuh atau berbicara.

Kondisi tersebut kemudian dapat disertai pengalaman lain.

Beberapa orang merasa melihat sosok di kamar, mendengar suara tertentu, atau merasakan seperti ada sesuatu yang menyentuh maupun menekan tubuh.

Pengalaman tersebut dapat terasa sangat nyata karena terjadi ketika kondisi sadar dan karakteristik mimpi masih saling tumpang tindih.

Kurang Tidur Bisa Jadi Pemicu

Salah satu faktor yang berkaitan dengan sleep paralysis adalah kurang tidur.

Kebiasaan tidur terlalu larut, sering begadang, atau tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup dapat mengganggu pola tidur.

Kondisi tersebut kemudian dapat meningkatkan kemungkinan mengalami kelumpuhan tidur.

Karena itu, kebiasaan tidur menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan.

Bukan hanya jumlah jam tidur, waktu tidur dan bangun yang berubah-ubah juga dapat membuat ritme tidur menjadi tidak teratur.

Orang yang sering berganti jadwal tidur, misalnya karena pekerjaan atau kebiasaan begadang, perlu lebih memperhatikan pola tersebut.

Stres Juga Bisa Berpengaruh

Kondisi psikologis juga dapat berkaitan dengan kualitas tidur.

Stres dan kecemasan dapat membuat seseorang sulit tidur atau menyebabkan tidur menjadi kurang berkualitas.

Gangguan tersebut kemudian dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami sleep paralysis.

Pikiran yang masih aktif menjelang tidur juga dapat membuat tubuh sulit memasuki pola istirahat yang baik.

Karena itu, mengurangi aktivitas yang memicu stres sebelum tidur dapat membantu menciptakan kondisi tidur yang lebih nyaman.

Paparan informasi yang membuat cemas, penggunaan media sosial hingga larut malam, atau kebiasaan terus memikirkan pekerjaan juga sebaiknya mulai dikurangi menjelang waktu tidur.

Posisi Tidur Bisa Diperhatikan

Posisi tidur juga disebut sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan sleep paralysis.

Kementerian Kesehatan melalui informasi mengenai sleep paralysis menyebut posisi tidur telentang sebagai salah satu kondisi yang dapat menjadi pemicu pada sebagian orang.

Jika seseorang cukup sering mengalami ketindihan ketika tidur dalam posisi tertentu, perubahan posisi tidur dapat dicoba.

Namun, pengalaman setiap orang bisa berbeda.

Karena itu, seseorang tidak perlu langsung menganggap satu posisi tidur sebagai penyebab utama tanpa memperhatikan faktor lainnya.

Pola tidur, tingkat stres, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan tetap perlu diperhatikan.

Bagaimana Cara Mengurangi Risikonya?

Tidak ada cara yang bisa menjamin seseorang tidak akan pernah mengalami sleep paralysis.

Namun, kebiasaan tidur yang sehat dapat membantu mengurangi risiko gangguan tidur.

Salah satunya adalah menjaga jadwal tidur dan bangun agar tetap teratur.

Waktu tidur yang cukup juga penting untuk membantu tubuh mempertahankan pola tidur yang lebih stabil.

Aktivitas fisik secara rutin juga dapat menjadi bagian dari pola hidup sehat.

Namun, olahraga sebaiknya tidak dilakukan terlalu dekat dengan waktu tidur jika justru membuat tubuh sulit beristirahat.

Selain itu, penggunaan ponsel dan perangkat elektronik menjelang tidur dapat dikurangi.

Membuat kamar lebih nyaman, tenang, dan tidak terlalu terang juga dapat membantu menjaga kualitas tidur.

Jangan Langsung Panik Saat Mengalaminya

Sleep paralysis bisa membuat seseorang panik karena merasa tubuh tidak dapat dikendalikan.

Jika kondisi tersebut terjadi, berusaha tetap tenang dapat membantu. Ingat bahwa episode tersebut biasanya hanya berlangsung sementara.

Seseorang dapat mencoba mengatur napas dan memusatkan perhatian pada proses untuk tetap rileks hingga kemampuan bergerak kembali.

Yang juga penting, pengalaman melihat atau merasakan sesuatu ketika mengalami sleep paralysis tidak otomatis berarti ada gangguan mental atau kejadian mistis.

Baca Juga: Verstappen Menang di Sepang, Red Bull Bawa Momentum Baru ke GP Singapura

Halusinasi yang menyertai kelumpuhan tidur dapat terjadi karena adanya tumpang tindih antara kondisi tidur dan bangun.

Kapan Perlu Memeriksakan Diri?

Jika sleep paralysis hanya terjadi sesekali, biasanya tidak membutuhkan penanganan khusus.

Namun, seseorang sebaiknya mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga kesehatan apabila gangguan tidur terjadi berulang, membuat aktivitas sehari-hari terganggu, atau disertai rasa sangat mengantuk pada siang hari.

Sleep paralysis juga dapat berkaitan dengan gangguan tidur tertentu.

Salah satunya adalah narkolepsi, meski tidak semua orang yang mengalami sleep paralysis memiliki kondisi tersebut.

Jadi, pengalaman “ketindihan” tidak selalu berkaitan dengan hal mistis.

Dalam dunia medis, kondisi tersebut memiliki penjelasan yang berhubungan dengan mekanisme tidur, khususnya ketika seseorang berpindah dari fase REM menuju kondisi terjaga.

Menjaga waktu tidur, mengurangi stres, memperbaiki kebiasaan sebelum tidur, serta memperhatikan kondisi kesehatan dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi risikonya.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : jawapos.com
ketindihan saat tidur sleep paralysis penyebab ketindihan cara mencegah sleep paralysis kelumpuhan tidur