Hipertensi Kini Mengintai Anak Muda, dr. Tirta Ungkap Kebiasaan yang Memicu Tekanan Darah Tinggi

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 17:28 WIB
Waspada hipertensi di usia muda. (ilustrasi)
Waspada hipertensi di usia muda. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID - Hipertensi atau tekanan darah tinggi kini tidak hanya mengancam kelompok lanjut usia.

Kebiasaan sehari-hari seperti stres berkepanjangan, kurang tidur, konsumsi kopi berlebihan, hingga merokok turut menjadi faktor yang perlu diwaspadai anak muda.

Praktisi kesehatan dr. Tirta Mandira Hudhi menyoroti kaitan antara tekanan mental, pola tidur yang buruk, dan gaya hidup tidak sehat dengan meningkatnya tekanan darah.

Baca Juga: Bukan Olahraga, dr. Tirta Mandira Hudhi Sebut Rahasia Umur Panjang Ada di Dapur

Hal tersebut disampaikan melalui video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya, Tirta PengPengPeng.

Menurut dr. Tirta, kombinasi berbagai kebiasaan tersebut dapat mengaktifkan sistem saraf simpatis secara terus-menerus.

Sistem ini berperan dalam respons tubuh terhadap tekanan atau kondisi fight or flight.

"Kombinasi stres tinggi, kurang tidur, minum kopi berlebihan, dan merokok atau vaping membuat tubuh terus berada dalam kondisi tertekan. Ini memicu sistem saraf simpatis yang merilis adrenalin, sehingga pembuluh darah menyempit dan tekanan darah melonjak," kata dr. Tirta.

Stres dan Gaya Hidup Tidak Sehat Berisiko Memicu Hipertensi

Aktivasi sistem saraf simpatis dapat memicu pelepasan adrenalin yang membuat pembuluh darah menyempit.

Jika berlangsung berulang, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah.

Hipertensi pada usia muda juga kerap berkaitan dengan masalah kesehatan lain, seperti obesitas dan resistensi insulin.

Apabila tidak terdeteksi dan ditangani dalam jangka panjang, tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah serta meningkatkan risiko gangguan organ vital, terutama jantung dan ginjal.

Kerusakan ginjal kronis pada kondisi tertentu dapat berkembang hingga memerlukan terapi pengganti fungsi ginjal, termasuk hemodialisis atau cuci darah.

Karena itu, tekanan darah tinggi pada usia produktif tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele.

Hipertensi Kerap Tidak Menunjukkan Gejala

Salah satu hal yang membuat hipertensi berbahaya adalah kondisi ini sering tidak menimbulkan gejala yang jelas.

Seseorang bisa saja merasa sehat dan tetap aktif beraktivitas meski tekanan darahnya sudah berada di atas batas normal.

Keluhan seperti pusing atau leher kaku bukan patokan pasti untuk mengetahui seseorang mengalami hipertensi.

Pemeriksaan tekanan darah secara berkala menjadi cara penting untuk mendeteksi kondisi tersebut sejak dini.

"Banyak anak muda merasa badannya sehat-sehat saja karena tidak merasakan pusing atau leher kaku. Padahal tekanan darahnya sudah tinggi di atas normal. Jangan tunggu sakit, lakukan pemeriksaan tekanan darah rutin dan cek fungsi organ untuk mencegah komplikasi sejak dini," tegasnya.

Selain melakukan pemeriksaan kesehatan, anak muda juga perlu mulai membenahi kebiasaan harian.

Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga pola tidur dan mencukupi waktu istirahat sekitar 7 hingga 8 jam setiap hari.

Masyarakat juga disarankan membatasi konsumsi natrium dan makanan olahan, mengurangi atau menghindari rokok serta vape, dan rutin melakukan aktivitas fisik.

Salah satu anjuran umum bagi orang dewasa adalah berolahraga dengan intensitas sedang setidaknya 150 menit dalam sepekan.

Perubahan gaya hidup tersebut dapat membantu menjaga tekanan darah sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan yang berkaitan dengan hipertensi. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
dr. tirta gaya hidup tak sehat hipertensi usia muda tekanan darah tinggi