CKG Nasional Temukan 26,8 Ribu Kasus TBC Baru, Ada 360,7 Ribu Orang dengan Gejala

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 17:05 WIB
CKG nasional menemukan 26,8 ribu kasus TBC baru dari 20,6 juta peserta skrining. Program ini membantu mempercepat deteksi TBC di masyarakat. (ilustrasi TBC)
CKG nasional menemukan 26,8 ribu kasus TBC baru dari 20,6 juta peserta skrining. Program ini membantu mempercepat deteksi TBC di masyarakat. (ilustrasi TBC)

RADARBONANG.ID - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mulai memberikan gambaran lebih luas mengenai kondisi kesehatan masyarakat Indonesia.

Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah ditemukannya 26,8 ribu kasus tuberkulosis atau TBC baru dari peserta yang telah menjalani skrining.

Data tersebut berasal dari 20,6 juta orang yang sudah mengikuti pemeriksaan melalui CKG.

Dari jumlah itu, sebanyak 360,7 ribu orang teridentifikasi memiliki tanda dan gejala yang mengarah pada TBC.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan skrining melalui CKG menjadi salah satu cara pemerintah mempercepat penemuan kasus TBC di masyarakat.

Pemeriksaan dilakukan melalui berbagai fasilitas kesehatan dan lokasi pelayanan, termasuk puskesmas, sekolah, serta pesantren.

Baca Juga: Tak Harus Selalu Produktif, Ini Alasan Jeda, Gagal, dan Berjalan Pelan Juga Termasuk Bertumbuh

Puluhan Ribu Kasus Baru Berhasil Ditemukan

Angka 26,8 ribu kasus baru tersebut menunjukkan pentingnya skrining untuk menemukan penderita yang sebelumnya mungkin belum teridentifikasi.

TBC merupakan penyakit menular yang membutuhkan penanganan secara cepat. Penemuan kasus menjadi salah satu tahap penting karena pasien yang sudah terdiagnosis dapat segera mendapatkan pengobatan sekaligus mengurangi risiko penularan kepada orang lain.

Kementerian Kesehatan sebelumnya juga memperluas skrining TBC dengan memanfaatkan rontgen dada berbasis kecerdasan artifisial atau AI, terutama di lingkungan pesantren dan kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi.

Kemenkes menyebut penemuan kasus secara dini menjadi salah satu kunci untuk menekan penularan dan kematian akibat TBC.

Estimasi Kasus TBC Indonesia Menurun

Di tengah temuan kasus baru melalui CKG, pemerintah juga menyampaikan adanya penurunan estimasi jumlah kasus TBC nasional.

Pada 2024, estimasi kasus TBC berada di sekitar 1.092.000 kasus.

Angka tersebut kemudian menjadi sekitar 1.090.000 kasus pada 2025.

Untuk 2026, jumlahnya diperkirakan kembali turun menjadi sekitar 1.080.000 kasus.

Dante mengatakan penurunan estimasi tersebut salah satunya didukung oleh upaya skrining yang semakin luas.

Artinya, semakin banyak masyarakat yang diperiksa, semakin besar pula peluang menemukan kasus yang sebelumnya belum masuk dalam sistem pelayanan kesehatan.

CKG Mulai Terhubung dengan Data TBC

Upaya menemukan kasus TBC juga didukung oleh integrasi data kesehatan.

Kementerian Kesehatan telah mengintegrasikan data CKG melalui SATUSEHAT IndonesiaKu dengan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) sejak April 2026.

Integrasi tersebut memungkinkan hasil skrining yang mengarah pada TBC untuk lebih cepat ditindaklanjuti.

Sebaliknya, pasien TBC aktif yang sudah tercatat dalam sistem juga dapat dikenali sehingga tidak perlu menjalani skrining yang sama secara berulang.

Kemenkes menyebut integrasi ini bertujuan membuat proses penemuan kasus hingga tindak lanjut pengobatan berjalan lebih efektif.

Pengobatan TBC Juga Terus Dikembangkan

Pemerintah tidak hanya berfokus pada penemuan kasus.

Durasi pengobatan juga menjadi salah satu perhatian dalam penanganan TBC.

Dante menjelaskan bahwa pengobatan TBC sebelumnya dapat berlangsung cukup lama, terutama pada kondisi tertentu.

Sejak 2024, pengobatan TBC resisten obat melalui regimen TB RO BPaL/M dapat dipersingkat menjadi sekitar enam bulan.

Pemerintah kini juga mengembangkan regimen pengobatan baru bersama TB Alliance yang diharapkan mampu memangkas durasi terapi menjadi satu bulan.

Namun, pengobatan tersebut masih dalam tahap pengembangan dan tidak berarti seluruh pasien TBC saat ini dapat menjalani terapi hanya selama satu bulan.

Desa dan Kelurahan Ikut Dilibatkan

Penanganan TBC juga mulai diperluas hingga tingkat desa dan kelurahan.

Melalui program Siaga TBC, sebanyak 9.759 desa dan kelurahan di 154 kabupaten/kota yang tersebar di 29 provinsi telah menyatakan komitmen untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan TBC secara mandiri.

Pemerintah pusat dan daerah juga melakukan pemantauan secara berkala untuk melihat perkembangan penanganan TBC di lapangan.

Menurut Dante, evaluasi dilakukan setiap minggu sebagai bagian dari pemantauan bersama antara pemerintah pusat dan daerah.

Mengapa Temuan dari CKG Penting?

Temuan 26,8 ribu kasus TBC baru dari CKG menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan massal dapat berfungsi lebih dari sekadar mengetahui kondisi kesehatan seseorang.

Program tersebut juga dapat membantu pemerintah menemukan penyakit menular yang mungkin belum terdeteksi sebelumnya.

Baca Juga: Silent Friendship Gen Z: Ketika Bisa Diam Bareng Justru Jadi Tanda Pertemanan yang Sudah Nyaman

Kemenkes sendiri menargetkan pengendalian TBC hingga eliminasi pada 2030.

Salah satu strategi yang diterapkan adalah memperluas pelacakan kontak erat pasien agar orang yang berisiko dapat segera diperiksa dan mendapatkan penanganan apabila diperlukan.

Dengan semakin luasnya skrining, data kesehatan masyarakat juga menjadi lebih lengkap.

Bagi masyarakat, temuan tersebut menjadi pengingat bahwa pemeriksaan kesehatan bukan hanya dilakukan ketika sudah merasa sakit.

Deteksi lebih awal dapat membantu seseorang mendapatkan tindak lanjut sesuai kondisi yang ditemukan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : jawapos.com
CKG nasional kasus TBC Indonesia 8 ribu kasus TBC Cek Kesehatan Gratis TBC 2026