RADARBONANG.ID - Kerutan pada wajah tidak selalu muncul karena pertambahan usia. Paparan sinar matahari, polusi, faktor genetik, hingga stres juga dapat memengaruhi kondisi kulit dan mempercepat munculnya tanda-tanda penuaan.
Dilansir dari unggahan video dalam kanal Youtube milik dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Hendri Andreas, kemunculan kerutan dipengaruhi dua faktor utama, yakni faktor internal dari dalam tubuh dan faktor eksternal dari lingkungan.
Baca Juga: Rahasia Kulit Sehat Tanpa Ribet, dr. Stanley Setiawan Sebut Cukup 3 Langkah Basic Skincare Ini
Dari faktor eksternal, paparan sinar ultraviolet (UV) menjadi salah satu pemicu utama kerusakan kulit.
Radiasi matahari dapat merusak serat kolagen dan elastin yang berperan menjaga kekencangan serta kelenturan kulit.
Ketika kedua komponen tersebut mengalami kerusakan, kulit perlahan kehilangan elastisitasnya.
Kondisi ini membuat wajah lebih rentan mengalami garis halus, kerutan, hingga kulit yang tampak mengendur.
Selain sinar matahari, polusi udara juga dapat meningkatkan paparan radikal bebas yang berpotensi merusak sel kulit.
Sementara itu, faktor internal berkaitan dengan proses penuaan alami.
Seiring bertambahnya usia, produksi kolagen tubuh cenderung menurun sehingga struktur kulit menjadi lebih tipis dan elastisitasnya berkurang.
Faktor genetik dan stres juga dapat memengaruhi kesehatan kulit.
Stres berkepanjangan, misalnya, berkaitan dengan peningkatan hormon kortisol yang dapat memengaruhi berbagai proses dalam tubuh, termasuk kondisi kulit.
Kenali Perbedaan Kerutan Dinamis dan Statis
dr. Hendri menjelaskan, bahwa kerutan pada wajah dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kerutan dinamis dan kerutan statis.
Kerutan dinamis muncul akibat gerakan otot wajah yang dilakukan berulang kali.
Contohnya, garis di sudut mata ketika tertawa, lipatan pada dahi saat mengernyit, serta garis di sekitar mulut ketika berbicara atau berekspresi.
Pada awalnya, garis tersebut biasanya terlihat ketika otot wajah bergerak.
Namun, seiring berkurangnya kolagen dan elastisitas kulit, kerutan dinamis dapat berkembang menjadi kerutan statis.
Berbeda dengan kerutan dinamis, kerutan statis tetap terlihat meskipun wajah sedang dalam kondisi rileks.
Garis-garis tersebut terbentuk akibat perubahan struktur kulit yang berlangsung secara bertahap.
"Kondisi ini membuat kerutan lebih sulit dihilangkan hanya dengan mengandalkan perubahan ekspresi atau perawatan sederhana," ujarnya dalam tayangan video edukasinya.
Perawatan Medis dan Cara untuk Mengatasi Kerutan
Untuk memperlambat munculnya kerutan, dr. Hendri menyarankan sejumlah langkah perawatan yang dapat dilakukan secara rutin.
Pertama, menggunakan tabir surya atau sunscreen setiap hari.
Perlindungan dari sinar UV menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko kerusakan kolagen akibat paparan matahari.
Kedua, menerapkan gaya hidup sehat dengan mencukupi kebutuhan cairan, mengonsumsi makanan bergizi yang kaya antioksidan, menghindari kebiasaan merokok, serta mengelola stres.
Ketiga, memilih produk perawatan kulit atau skincare dengan bahan aktif yang sesuai kebutuhan dan kondisi kulit.
Penggunaan produk secara tepat dapat mendukung perawatan kulit, meskipun hasilnya berbeda pada setiap orang.
Sementara itu, kerutan yang sudah dalam atau menetap dapat memerlukan penanganan medis.
Beberapa pilihan prosedur estetika yang dapat dikonsultasikan dengan dokter antara lain injeksi botox, dermal filler, dan perawatan lain sesuai kondisi kulit.
Pemilihan prosedur perlu mempertimbangkan jenis kerutan, kondisi kesehatan, serta tujuan perawatan.
Konsultasi dengan tenaga medis profesional diperlukan agar penanganan yang dipilih sesuai dan mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi.
Pada dasarnya, kerutan merupakan bagian dari proses penuaan yang alami. Namun, perlindungan kulit dan kebiasaan hidup sehat dapat membantu menjaga kondisi kulit sekaligus memperlambat munculnya tanda-tanda penuaan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari