Vape Dikira Lebih Aman dari Rokok? Penelitian Terbaru Justru Temukan Risiko pada Paru-paru

Widodo • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 08:33 WIB
Vape sering dianggap lebih aman daripada rokok konvensional. Tapi benarkah demikian? Sejumlah penelitian terbaru justru menemukan berbagai risiko kesehatan yang perlu diperhatikan, mulai dari gangguan pernapasan hingga sistem kardiovaskular. (ilustrasi)
Vape sering dianggap lebih aman daripada rokok konvensional. Tapi benarkah demikian? Sejumlah penelitian terbaru justru menemukan berbagai risiko kesehatan yang perlu diperhatikan, mulai dari gangguan pernapasan hingga sistem kardiovaskular. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID - Anggapan bahwa vape lebih aman daripada rokok konvensional masih cukup sering terdengar.

Namun, lebih rendahnya paparan terhadap zat tertentu bukan berarti rokok elektronik bebas dari risiko kesehatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan rokok elektronik tetap dapat menghasilkan aerosol yang mengandung nikotin dan berbagai zat berbahaya.

Karena itu, WHO menyatakan tidak menggunakan rokok maupun rokok elektronik tetap menjadi pilihan paling aman.

Peringatan tersebut kembali disampaikan WHO pada 2026, terutama karena penggunaan rokok elektronik semakin banyak ditemukan di kalangan anak-anak dan remaja.

Vape Tetap Mengandung Zat yang Berisiko

Rokok elektronik bekerja dengan memanaskan cairan atau e-liquid hingga menghasilkan aerosol yang kemudian dihirup pengguna.

Baca Juga: 4 Weton yang Disebut Bakal Ketiban Rezeki di Oktober 2026 Menurut Ramalan Primbon Jawa

Cairan tersebut dapat mengandung nikotin, bahan tambahan, perisa, serta berbagai senyawa kimia.

WHO menyebut aerosol rokok elektronik dapat mengandung zat toksik yang berbahaya bagi pengguna maupun orang lain yang terpapar.

Beberapa komponen yang ditemukan dalam produk tertentu antara lain logam berat serta senyawa karbonil.

Nikotin juga menjadi perhatian utama. Zat tersebut memiliki sifat sangat adiktif dan dapat memengaruhi perkembangan otak pada anak-anak serta remaja.

WHO Indonesia mencatat, berdasarkan Global School Health Survey 2023, sebanyak 12 persen pelajar Indonesia berusia 13–17 tahun menggunakan rokok elektronik.

Angka tersebut menunjukkan persoalan vape tidak hanya berkaitan dengan orang dewasa yang sebelumnya merupakan perokok.

Penggunaan di kalangan usia sekolah juga menjadi perhatian kesehatan masyarakat.

Penelitian Menemukan Gangguan pada Jantung dan Paru-paru

Bukti ilmiah mengenai dampak vape juga terus berkembang.

Salah satu kajian besar yang diterbitkan pada 2025 berupa umbrella review menganalisis 69 tinjauan sistematis mengenai dampak kesehatan electronic nicotine delivery systems atau ENDS.

Hasilnya menunjukkan penggunaan ENDS berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, terutama pada sistem kardiovaskular dan pernapasan.

Dalam sejumlah penelitian yang ditinjau, penggunaan ENDS dikaitkan dengan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, gangguan fungsi pembuluh darah, penurunan fungsi paru, serta peningkatan kejadian asma.

Kajian tersebut juga menemukan adanya bukti zat karsinogen dalam pemeriksaan urine pada sebagian pengguna ENDS.

Meski begitu, peneliti menegaskan masih diperlukan penelitian dengan pemantauan lebih panjang untuk memahami sepenuhnya dampak penggunaan vape dalam jangka panjang.

Artinya, penelitian saat ini sudah menemukan sejumlah sinyal risiko kesehatan, tetapi para ilmuwan masih terus mengumpulkan bukti mengenai dampak penggunaan vape selama puluhan tahun.

Risiko Pernapasan Juga Menjadi Perhatian

Penelitian lain yang diterbitkan pada 2025 secara khusus menelaah hubungan penggunaan rokok elektronik dengan kesehatan sistem pernapasan.

Kajian sistematis dan meta-analisis tersebut memasukkan 119 penelitian dalam analisis utama dan menemukan adanya hubungan penggunaan vape dengan sejumlah gangguan pernapasan.

Pengguna vape yang sebelumnya tidak merokok memiliki risiko gejala pernapasan yang lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak pernah menggunakan vape.

Penelitian juga menemukan bukti dengan tingkat kepastian sedang mengenai peningkatan risiko gejala pernapasan, PPOK, asma, serta peradangan dan kerusakan paru.

Namun, peneliti juga memberikan catatan penting. Tingkat kepastian sejumlah hasil meta-analisis masih tergolong rendah hingga sangat rendah.

Karena itu, penelitian jangka panjang tetap diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih kuat mengenai dampaknya.

Penelitian lain pada 2025 yang secara khusus membahas PPOK juga menemukan hubungan antara penggunaan rokok elektronik dan peningkatan kemungkinan mengalami penyakit tersebut.

Meta-analisis itu mencakup lebih dari 3,5 juta peserta dari tujuh penelitian observasional.

Vape dan Rokok Bersamaan Bukan Berarti Lebih Aman

Persoalan lain muncul ketika seseorang menggunakan vape dan rokok konvensional secara bersamaan.

Pola tersebut dikenal sebagai dual use. WHO memperingatkan bahwa penggunaan dua produk sekaligus tidak otomatis mengurangi risiko kesehatan.

Penelitian mengenai dampak pernapasan juga menemukan pengguna ganda memiliki risiko gejala pernapasan dan PPOK yang lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak menggunakan produk tersebut.

Dalam sejumlah hasil analisis, risiko pengguna ganda secara statistik tidak berbeda secara signifikan dari perokok aktif.

Temuan ini menunjukkan bahwa mengganti sebagian konsumsi rokok dengan vape belum tentu menghilangkan risiko kesehatan yang berkaitan dengan kebiasaan merokok.

WHO sendiri menyebut produk rokok elektronik dapat mendorong penggunaan ganda dan menambah persoalan ketergantungan nikotin, terutama pada kelompok usia muda.

Penelitian 2026 Mulai Menyoroti Risiko Kanker

Perhatian terhadap vape juga berkembang ke dampak jangka panjang, termasuk kaitannya dengan kanker paru.

Pada Juni 2026, International Agency for Research on Cancer (IARC) menyoroti penelitian terhadap sekitar 4,5 juta orang yang pernah merokok di Korea Selatan.

Penelitian tersebut membandingkan perokok aktif, orang yang berhenti merokok tetapi kemudian menggunakan rokok elektronik, serta orang yang berhenti merokok tanpa menggunakan vape.

Hasil penelitian menunjukkan penggunaan rokok elektronik setelah berhenti merokok berpotensi mengurangi manfaat berhenti merokok dalam menekan risiko dan kematian akibat kanker paru.

Namun, IARC juga menekankan masih terdapat keterbatasan dan kesenjangan pengetahuan sehingga temuan tersebut perlu diteliti lebih lanjut.

Temuan itu penting karena memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai vape tidak cukup hanya membandingkan kandungan aerosol dengan asap rokok konvensional.

Jadi, Apakah Vape Aman?

Jawabannya tidak sesederhana membandingkan mana yang memiliki lebih banyak atau lebih sedikit zat berbahaya.

Risiko rokok elektronik dapat dipengaruhi oleh jenis produk, kandungan cairan, kadar nikotin, frekuensi penggunaan, pola konsumsi, riwayat merokok, hingga penggunaan vape bersama rokok konvensional.

Baca Juga: Kopi Hitam vs Latte, Mana Favoritmu? Pilihan Sederhana Ini Ternyata Dikaitkan dengan Sifat Kepribadi

WHO menyatakan rokok elektronik mengandung zat yang dapat membahayakan kesehatan dan belum dapat dianggap sebagai produk yang aman.

Pada saat yang sama, WHO juga mengakui bahwa dampak kesehatan jangka panjang dari berbagai jenis produk rokok elektronik masih terus diteliti.

Karena itu, anggapan bahwa vape aman hanya karena tidak menghasilkan asap seperti rokok konvensional perlu dilihat kembali.

Bagi orang yang sebelumnya tidak merokok, menggunakan vape berarti menambah paparan terhadap nikotin dan zat lain yang sebenarnya dapat dihindari.

Sementara bagi perokok yang sedang berusaha berhenti, penggunaan vape juga tidak otomatis berarti terbebas dari risiko, terutama jika konsumsi rokok konvensional tetap berjalan bersamaan.

Pada akhirnya, perkembangan penelitian menunjukkan satu hal yang semakin jelas: vape bukan produk tanpa risiko.

Bukti mengenai dampak jangka panjangnya memang masih terus berkembang, tetapi berbagai penelitian telah menemukan kaitan dengan gangguan sistem pernapasan dan kardiovaskular serta persoalan ketergantungan nikotin.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
vape berbahaya bahaya rokok elektronik risiko vape bagi kesehatan vape dan paru-paru dampak rokok elektronik