Kenapa Kita Sering Menguap? Ternyata Bukan Cuma Karena Mengantuk, Ini 5 Penjelasannya

Arinie Khaqqo • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 08:53 WIB
Menguap ternyata bukan sekadar tanda mengantuk. Ada berbagai teori yang mencoba menjelaskan respons tubuh ini, termasuk mengapa menguap bisa ikut menular. (ilustrasi)
Menguap ternyata bukan sekadar tanda mengantuk. Ada berbagai teori yang mencoba menjelaskan respons tubuh ini, termasuk mengapa menguap bisa ikut menular. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID - Menguap merupakan salah satu respons tubuh yang sangat umum dan sering terjadi tanpa disadari.

Aktivitas sederhana ini biasanya muncul ketika seseorang mengantuk, lelah, bosan, atau baru bangun tidur.

Namun, menguap ternyata tidak sesederhana membuka mulut dan menarik napas panjang.

Proses tersebut melibatkan gerakan rahang, otot wajah, saluran pernapasan, perubahan volume paru-paru, hingga sejumlah perubahan fisiologis lainnya. Penelitian bahkan masih terus dilakukan untuk mengetahui apa sebenarnya fungsi utama menguap.

Selama ini terdapat sejumlah teori yang mencoba menjelaskan alasan seseorang menguap.

Mulai dari perubahan tingkat kewaspadaan, pengaturan suhu otak, hingga respons ketika melihat orang lain menguap.

Baca Juga: Lima Bulan Berselang, Indonesia Kembali Bertemu Taiwan di Asian Games 2026, Skuad Kini Berbeda

1. Berkaitan dengan Rasa Kantuk dan Kewaspadaan

Alasan paling mudah dikaitkan dengan menguap adalah rasa lelah atau mengantuk.

Ketika seseorang mulai kehilangan kewaspadaan, menguap dapat muncul sebagai bagian dari perubahan kondisi tubuh.

Gerakan tersebut melibatkan peregangan rahang dan otot wajah serta tarikan napas yang dalam.

Sejumlah penelitian juga menemukan adanya perubahan fisiologis ketika seseorang menguap, termasuk peningkatan detak jantung dan perubahan volume paru-paru.

Hal tersebut menunjukkan bahwa menguap bukan sekadar aktivitas pernapasan biasa.

Itulah sebabnya seseorang mungkin lebih sering menguap ketika bekerja terlalu lama, belajar, menonton televisi, mengikuti rapat, atau melakukan perjalanan panjang.

Meski demikian, menguap tidak selalu berarti seseorang kurang tidur.

Kondisi yang monoton atau minim stimulasi juga dapat membuat seseorang lebih mudah merasa mengantuk dan akhirnya menguap.

2. Bukan Sekadar Karena Kekurangan Oksigen

Ada anggapan yang sudah lama beredar bahwa seseorang menguap karena tubuh kekurangan oksigen.

Namun, teori tersebut tidak lagi dianggap cukup untuk menjelaskan fenomena menguap.

Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar oksigen atau perubahan karbon dioksida tidak secara sederhana membuat seseorang berhenti atau mulai menguap.

Karena itu, menguap tidak dapat dijelaskan hanya sebagai mekanisme tubuh untuk mengambil oksigen tambahan.

Hal tersebut membuat para peneliti melihat menguap sebagai respons tubuh yang jauh lebih kompleks.

Bahkan, menguap telah diamati pada janin sebelum lahir.

Kondisi tersebut turut membuat teori bahwa menguap semata-mata berfungsi memasukkan lebih banyak oksigen menjadi kurang memadai sebagai penjelasan utama.

3. Ada Teori Berkaitan dengan Suhu Otak

Salah satu teori yang cukup banyak dibahas dalam penelitian adalah hubungan antara menguap dan pengaturan temperatur otak.

Ketika seseorang menguap, terjadi tarikan napas dalam serta gerakan kuat pada rahang dan otot di sekitar kepala serta leher.

Sejumlah penelitian mengajukan kemungkinan bahwa perubahan aliran darah dan udara tersebut dapat membantu proses pertukaran panas di sekitar kepala.

Beberapa eksperimen juga menemukan hubungan antara kondisi suhu lingkungan dengan kecenderungan menguap.

Hasil tersebut kemudian menjadi salah satu dasar berkembangnya teori thermoregulation atau pengaturan suhu.

Meski begitu, teori tersebut belum bisa dianggap sebagai jawaban final.

Para peneliti masih memperdebatkan fungsi biologis utama menguap.

Bahkan, terdapat penelitian dan tinjauan yang mengajukan penjelasan alternatif mengenai mekanisme menguap.

Artinya, menguap kemungkinan melibatkan lebih dari satu mekanisme.

4. Mengapa Melihat Orang Menguap Bisa Ikut Menguap?

Pernah melihat teman menguap, kemudian beberapa detik kemudian Anda ikut menguap?

Fenomena tersebut dikenal sebagai contagious yawning atau menguap yang menular.

Menguap memang dapat dipicu hanya dengan melihat orang lain melakukannya.

Bahkan, pada beberapa situasi, mendengar atau mengetahui seseorang sedang menguap juga dapat memunculkan dorongan untuk melakukan hal yang sama.

Penelitian menggunakan pencitraan otak menemukan adanya aktivitas pada area yang berkaitan dengan pemrosesan isyarat sosial ketika seseorang melihat orang lain menguap.

Karena itu, sejumlah peneliti mengaitkan menguap menular dengan mekanisme sosial dan respons otomatis terhadap perilaku orang lain.

Namun, mekanisme pastinya masih belum sepenuhnya dipahami.

Menguap menular kemungkinan melibatkan interaksi antara proses neurologis, respons sosial, dan mekanisme fisiologis lainnya.

Jadi, ketika satu orang di ruangan mulai menguap dan orang lain ikut menguap, fenomena tersebut memang memiliki dasar biologis dan bukan sekadar kebetulan.

5. Kapan Menguap Terlalu Sering Perlu Diperhatikan?

Menguap sesekali sepanjang hari merupakan hal yang normal.

Namun, perubahan pola yang cukup drastis patut diperhatikan, terutama jika seseorang tiba-tiba jauh lebih sering menguap dibandingkan biasanya.

Menguap berlebihan dapat berkaitan dengan rasa kantuk pada siang hari, kurang tidur, atau gangguan tidur tertentu.

Baca Juga: Bukan Sekadar Pesantren, Begini Sejarah Gontor dari Pondok yang Sekarang Berusia 100 Tahun

Dalam kondisi tertentu, frekuensi menguap yang tidak biasa juga pernah dikaitkan dengan kondisi neurologis maupun penggunaan obat tertentu.

Karena itu, yang penting bukan sekadar menghitung berapa kali seseorang menguap dalam sehari.

Perhatikan apakah terdapat perubahan dari kebiasaan sebelumnya dan apakah menguap disertai keluhan lain, seperti rasa kantuk berat atau kesulitan berkonsentrasi.

Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu mengetahui penyebabnya.

Pada akhirnya, menguap merupakan refleks tubuh yang jauh lebih kompleks daripada sekadar tanda mengantuk.

Rasa lelah, perubahan kewaspadaan, kemungkinan mekanisme pengaturan suhu, hingga respons ketika melihat orang lain menguap menjadi bagian dari berbagai teori yang terus diteliti.

Sampai sekarang, belum ada satu penjelasan yang dapat sepenuhnya menjawab mengapa manusia menguap. Justru, kesederhanaan gerakan tersebut menyimpan mekanisme biologis yang masih terus dipelajari.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
penyebab menguap kenapa sering menguap menguap saat mengantuk menguap menular fakta tentang menguap