RADARBONANG.ID - Hepatitis merupakan kondisi ketika organ hati mengalami peradangan.
Penyebabnya beragam, mulai dari infeksi virus, konsumsi alkohol, penggunaan obat tertentu, hingga kondisi kesehatan lainnya.
Hepatitis virus sendiri terdiri atas beberapa jenis, yaitu hepatitis A, B, C, D, dan E.
Masing-masing memiliki jalur penularan dan faktor risiko yang berbeda.
Karena itu, cara pencegahannya juga tidak bisa disamakan seluruhnya.
Beberapa kebiasaan sederhana dapat dilakukan untuk membantu menurunkan risiko hepatitis.
Mulai dari menjaga kebersihan, memastikan makanan dan air yang dikonsumsi aman, melakukan vaksinasi sesuai kebutuhan, hingga menghindari penggunaan barang pribadi secara bergantian.
Baca Juga: Kenapa Kamera 0,5x Jadi Andalan Gen Z? Ternyata Bukan Cuma Soal Foto Lebih Luas
Biasakan Cuci Tangan dan Jaga Kebersihan
Menjaga kebersihan menjadi langkah penting untuk mencegah sejumlah jenis hepatitis, terutama hepatitis A dan E yang dapat menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi.
Kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun perlu dilakukan, terutama sebelum makan dan setelah menggunakan toilet.
Kebersihan lingkungan serta sanitasi juga ikut berperan dalam mengurangi risiko penularan.
Makanan sebaiknya diolah dengan baik, sementara air minum perlu berasal dari sumber yang aman.
WHO menyebut keamanan makanan, air bersih, sanitasi, dan kebersihan sebagai bagian penting dalam pencegahan hepatitis A.
Vaksinasi Bisa Memberi Perlindungan
Vaksinasi menjadi salah satu cara pencegahan yang tersedia untuk jenis hepatitis tertentu.
Vaksin hepatitis A dapat membantu mencegah infeksi hepatitis A, sedangkan vaksin hepatitis B memberikan perlindungan terhadap hepatitis B.
Vaksin hepatitis B juga memiliki manfaat dalam mencegah hepatitis D karena virus hepatitis D hanya dapat menginfeksi orang yang memiliki hepatitis B.
WHO merekomendasikan vaksinasi hepatitis B, termasuk pemberian dosis pertama kepada bayi sesegera mungkin setelah lahir.
Kebutuhan vaksinasi pada orang dewasa dapat berbeda berdasarkan kondisi dan faktor risikonya.
Karena itu, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat dilakukan untuk mengetahui jenis dan jadwal vaksin yang sesuai.
Jangan Saling Berbagi Barang Pribadi
Barang pribadi yang berpotensi terkena darah sebaiknya tidak digunakan bersama.
Contohnya sikat gigi, alat cukur, atau benda lain yang dapat menyebabkan luka kecil pada kulit.
Kebiasaan berbagi barang tersebut perlu dihindari karena hepatitis B dan C dapat menular melalui paparan darah yang terinfeksi.
Hepatitis C terutama menyebar melalui darah, termasuk akibat penggunaan jarum atau peralatan medis yang tidak aman.
Jarum suntik juga tidak boleh digunakan secara bergantian.
Peralatan yang digunakan untuk menembus kulit harus steril dan, untuk penggunaan medis tertentu, menggunakan jarum sekali pakai.
Pastikan Alat Tato dan Tindik Steril
Risiko penularan hepatitis B dan C juga dapat muncul melalui prosedur yang melibatkan darah atau penetrasi kulit apabila peralatan yang digunakan tidak aman.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kebersihan dan sterilisasi ketika melakukan tato, tindik, atau prosedur lain yang menggunakan jarum maupun alat untuk menembus kulit.
WHO menempatkan keamanan darah dan injeksi sebagai bagian penting dalam pencegahan hepatitis B dan C.
Penggunaan jarum serta alat medis yang steril menjadi salah satu langkah untuk mengurangi risiko penularan.
Hindari Konsumsi Alkohol Berlebihan
Menjaga kesehatan hati tidak hanya berkaitan dengan mencegah infeksi virus.
Kebiasaan hidup sehari-hari juga perlu diperhatikan karena alkohol dan sejumlah zat tertentu dapat memengaruhi kondisi hati.
Penggunaan obat-obatan maupun suplemen sebaiknya dilakukan sesuai petunjuk.
Jangan mengonsumsi obat secara berlebihan atau sembarangan, terutama jika tidak mengetahui dampaknya terhadap fungsi hati.
Jika sedang menjalani pengobatan tertentu, konsultasikan penggunaannya dengan tenaga kesehatan.
Langkah tersebut membantu mengurangi risiko penggunaan obat yang tidak sesuai.
Jangan Menunggu Sampai Muncul Gejala
Salah satu hal yang membuat hepatitis perlu diwaspadai adalah infeksi tertentu dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas.
WHO mencatat hepatitis akut dapat terjadi dengan gejala yang terbatas atau bahkan tanpa gejala.
Ketika gejala muncul, beberapa tanda yang dapat dirasakan antara lain tubuh mudah lelah, kehilangan nafsu makan, mual, muntah, nyeri perut, urine berwarna gelap, serta kulit atau bagian putih mata menguning.
Namun, gejala tersebut tidak selalu muncul pada setiap orang.
Karena itu, seseorang yang memiliki faktor risiko tertentu sebaiknya tidak hanya mengandalkan muncul atau tidaknya gejala untuk mengetahui kondisi kesehatan hati.
Baca Juga: Daftar Lengkap 108 Korban Selamat Kapal Virgo Transport 8, Ada Warga Tuban hingga Lamongan
Pemeriksaan Tetap Penting
Selain menerapkan kebiasaan pencegahan, pemeriksaan juga dapat menjadi bagian penting untuk mengetahui infeksi hepatitis.
Hal ini terutama relevan bagi orang yang memiliki faktor risiko atau pernah mengalami paparan yang berpotensi menyebabkan penularan.
WHO dalam panduan terbarunya menempatkan pengujian, pencegahan, dan pengobatan hepatitis B serta C sebagai bagian dari upaya menekan dampak penyakit tersebut.
Hepatitis C bahkan belum memiliki vaksin, sehingga pencegahan paparan darah dan deteksi dini menjadi penting.
Menjaga kebersihan, mengonsumsi makanan dan air yang aman, melakukan vaksinasi sesuai kebutuhan, tidak berbagi barang pribadi, serta memastikan penggunaan alat yang menembus kulit dilakukan secara aman merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan sehari-hari.
Jika memiliki faktor risiko atau mengalami gejala yang mengarah pada gangguan hati, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Dengan mengetahui kondisi lebih awal, penanganan dapat dilakukan sesuai penyebab dan kondisi masing-masing.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang