Kenapa Minuman Rendah Kalori Tetap Terasa Manis? Ternyata Ini Peran Pemanis Intensitas Tinggi

Arinie Khaqqo • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 12:38 WIB
Pernah heran kenapa minuman “zero sugar” tetap terasa manis? Bisa jadi jawabannya ada pada jenis pemanis yang digunakan. Jangan cuma lihat bagian depan kemasan, cek juga komposisi dan informasi nilai gizinya. (ilustrasi)
Pernah heran kenapa minuman “zero sugar” tetap terasa manis? Bisa jadi jawabannya ada pada jenis pemanis yang digunakan. Jangan cuma lihat bagian depan kemasan, cek juga komposisi dan informasi nilai gizinya. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID - Minuman rendah kalori atau tanpa gula tetap bisa memiliki rasa manis yang kuat meski kandungan gulanya sedikit atau bahkan tidak menggunakan gula.

Salah satu alasannya adalah penggunaan pemanis berintensitas tinggi yang mampu menghasilkan rasa manis dalam jumlah sangat kecil.

Pemanis jenis tersebut memiliki tingkat kemanisan berkali-kali lipat dibandingkan gula pasir.

Karena hanya diperlukan dalam jumlah kecil, kontribusi kalorinya dapat jauh lebih rendah dibandingkan penggunaan gula dalam jumlah yang menghasilkan tingkat kemanisan serupa.

Bahan tersebut banyak ditemukan pada minuman rendah kalori, produk berlabel tanpa gula atau diet, serta berbagai makanan olahan.

Namun, istilah pemanis tidak hanya merujuk pada satu jenis bahan.

Baca Juga: Tahun 2027 Punya 26 Hari Libur, Nyepi dan Lebaran Berdekatan hingga Berpotensi Jadi Long Holiday

Apa yang Dimaksud Pemanis Intensitas Tinggi?

Secara sederhana, pemanis digunakan untuk memberikan rasa manis pada makanan dan minuman.

Pemanis intensitas tinggi memiliki karakter khusus karena tingkat kemanisannya jauh melampaui sukrosa atau gula meja.

Karena itu, produsen tidak perlu menggunakan bahan tersebut dalam jumlah sebanyak gula untuk mendapatkan rasa manis yang sama.

FDA, misalnya, mencatat sejumlah pemanis intensitas tinggi memiliki tingkat kemanisan mulai dari sekitar 200 kali hingga ribuan kali dibandingkan gula, tergantung jenisnya.

Karakter tersebut membuat pemanis banyak digunakan dalam produk yang ingin mengurangi penggunaan gula sekaligus mempertahankan rasa manis.

Namun, rendah kalori tidak otomatis berarti sebuah produk bebas dari berbagai pertimbangan gizi.

Konsumen tetap perlu melihat keseluruhan komposisi dan informasi nilai gizi pada kemasan.

Jenis Pemanis Tidak Cuma Satu

Ada berbagai jenis pemanis yang digunakan dalam produk pangan.

Beberapa nama yang mungkin ditemukan pada daftar komposisi antara lain aspartam, sukralosa, sakarin, asesulfam-K, neotam, dan advantam.

Aspartam merupakan salah satu pemanis intensitas tinggi yang tingkat kemanisannya sekitar 200 kali gula.

Bahan ini digunakan dalam berbagai produk makanan dan minuman.

Namun, ada kondisi khusus yang perlu diperhatikan.

Orang dengan fenilketonuria atau PKU perlu menghindari atau membatasi aspartam karena tubuh akan menghasilkan fenilalanin dari pemanis tersebut.

Sementara itu, sukralosa memiliki tingkat kemanisan sekitar 600 kali gula.

Ada pula sakarin yang kemanisannya dapat mencapai ratusan kali gula, serta asesulfam-K yang sekitar 200 kali lebih manis daripada gula.

Neotam dan advantam juga termasuk kelompok pemanis intensitas tinggi dengan tingkat kemanisan yang jauh lebih besar daripada gula.

Karena karakter setiap bahan berbeda, penggunaannya dalam produk pangan juga disesuaikan dengan fungsi dan formulasi produk.

Ada Pula Pemanis dari Sumber Lain

Pemanis tidak selalu berasal dari bahan sintetis. Steviol glikosida yang berasal dari tanaman stevia juga digunakan sebagai pemanis dengan intensitas tinggi.

Selain itu, terdapat kelompok sugar alcohol atau poliol seperti sorbitol, xylitol, eritritol, manitol, dan maltitol.

Kelompok ini berbeda dari pemanis intensitas tinggi karena memiliki karakteristik metabolisme dan kontribusi energi yang berbeda.

Karena itu, tulisan “mengandung pemanis” pada suatu produk belum cukup untuk mengetahui bahan yang digunakan.

Konsumen perlu melihat daftar komposisi secara langsung.

Nama bahan yang tercantum dapat membantu mengetahui apakah rasa manis berasal dari gula, pemanis intensitas tinggi, poliol, stevia, atau kombinasi beberapa bahan.

Mengapa Tanpa Gula Tetap Manis?

Pertanyaan ini cukup sering muncul ketika seseorang melihat minuman dengan klaim “sugar free” atau “zero sugar”.

Jika gula dikurangi, lalu dari mana rasa manisnya berasal?

Jawabannya bisa berupa pemanis intensitas tinggi. Karena tingkat kemanisannya sangat tinggi, sedikit saja bahan tersebut dapat menghasilkan rasa manis yang kuat.

Inilah yang memungkinkan produsen membuat produk dengan rasa manis tanpa menggunakan gula dalam jumlah besar.

FDA menjelaskan bahwa pemanis intensitas tinggi umumnya memberikan sedikit atau bahkan tidak memberikan kalori ketika digunakan untuk memberikan rasa manis pada makanan dan minuman.

Meski begitu, label rendah kalori atau tanpa gula tetap perlu dibaca secara utuh.

Sebuah produk bisa memiliki kandungan gula yang rendah, tetapi tetap mengandung bahan lain yang berkontribusi terhadap energi atau zat gizi tertentu.

Jangan Cuma Lihat Tulisan di Depan Kemasan

Tulisan seperti “sugar free”, “zero sugar”, “tanpa gula”, atau “rendah kalori” biasanya dibuat agar konsumen mudah mengenali karakter utama sebuah produk.

Informasi tersebut memang berguna, tetapi sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar ketika memilih makanan atau minuman.

Coba perhatikan bagian komposisi. Di sana konsumen dapat mengetahui bahan apa saja yang digunakan, termasuk jenis pemanis yang memberikan rasa manis.

Informasi nilai gizi juga tidak kalah penting.

Dengan membaca kedua bagian tersebut, gambaran mengenai produk akan menjadi lebih lengkap daripada hanya melihat klaim yang tercetak paling besar di bagian depan.

Perhatikan Ukuran Sajian

Satu hal yang sering terlewat saat membaca informasi nilai gizi adalah ukuran sajian.

Satu kemasan belum tentu dihitung sebagai satu sajian.

Jika sebuah produk mencantumkan lebih dari satu sajian dalam satu kemasan, konsumsi seluruh kemasan berarti jumlah energi dan zat gizi yang masuk juga perlu disesuaikan dengan jumlah sajian yang dikonsumsi.

Kebiasaan membaca ukuran sajian dapat membantu konsumen memahami informasi pada label dengan lebih tepat.

Jadi, jangan langsung menganggap sebuah produk memiliki kandungan yang sama dengan angka yang tertera jika angka tersebut sebenarnya berlaku untuk satu sajian saja.

Pemanis Tidak Perlu Langsung Dianggap Buruk

Mengenali pemanis bukan berarti konsumen harus otomatis menghindari semua produk yang menggunakannya.

Baca Juga: Sempat Umumkan Bubar, Kangen Band Akhirnya Kembali Bersatu, Dodhy Minta Maaf ke Penggemar

Berbagai pemanis telah melalui penilaian keamanan oleh otoritas terkait dan memiliki ketentuan penggunaan masing-masing.

Namun, WHO memberikan catatan bahwa pemanis non-gula tidak sebaiknya dijadikan strategi utama untuk mengendalikan berat badan dalam jangka panjang.

Rekomendasi tersebut bersifat kondisional dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan penilaian keamanan masing-masing pemanis.

Karena itu, pendekatan yang lebih sederhana adalah tidak hanya terpaku pada satu klaim di kemasan.

Konsumen dapat membandingkan daftar bahan, ukuran sajian, informasi nilai gizi, serta pola konsumsi secara keseluruhan.

Pada akhirnya, memahami pemanis membantu konsumen mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalam minuman atau makanan yang dikonsumsi.

Bukan sekadar melihat tulisan “rendah kalori” atau “tanpa gula”, tetapi membaca informasi produk secara lebih menyeluruh sebelum memasukkannya ke dalam pilihan sehari-hari. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
pemanis intensitas tinggi minuman rendah kalori minuman tanpa gula jenis pemanis makanan pemanis buatan