Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Bisa Bikin Kulit Iritasi, Ini Cara Membersihkannya yang Tepat

Siska Yudianti • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 08:14 WIB
Bukan cuma pernapasan yang perlu dilindungi saat erupsi. Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau juga bisa menempel di kulit dan memicu iritasi. (istimewa)
Bukan cuma pernapasan yang perlu dilindungi saat erupsi. Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau juga bisa menempel di kulit dan memicu iritasi. (istimewa)

RADARBONANG.ID – Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya membuat masyarakat perlu mewaspadai gangguan pada saluran pernapasan.

Abu vulkanik yang terbawa angin juga dapat menempel pada kulit dan memicu berbagai keluhan.

Paparan abu dapat membuat kulit terasa gatal, kemerahan, hingga menimbulkan rasa perih.

Kondisi tersebut bisa semakin mengganggu bagi orang yang memiliki kulit sensitif atau mudah mengalami iritasi.

Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak perlu memberikan perlindungan ekstra.

Cara membersihkan kulit setelah terkena abu juga tidak boleh dilakukan sembarangan.

Skin Expert Claudia Christin, MBBS, Ph.D. (Dermatology), menjelaskan bahwa abu vulkanik berbeda dari debu biasa.

Partikelnya dapat memiliki permukaan yang tajam sehingga berpotensi menimbulkan gesekan pada kulit.

Baca Juga: Naik Dokar Keliling Tuban, Sensasi Wisata Tradisional yang Bikin Nostalgia dan Cocok untuk Keluarga

Hal yang paling penting adalah menghindari kebiasaan langsung menggosok kulit ketika abu masih menempel.

Langkah tersebut justru dapat meningkatkan gesekan dan memperbesar risiko iritasi.

Sebisa Mungkin Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

Ketika sebaran abu vulkanik masih terjadi, berada di dalam rumah menjadi salah satu langkah perlindungan yang dapat dilakukan.

Namun, tidak semua aktivitas bisa dihentikan. Masyarakat mungkin tetap perlu keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan tertentu atau menjalankan pekerjaan.

Dalam kondisi tersebut, perlindungan tubuh perlu menjadi perhatian utama.

Gunakan masker, terutama jenis N95 atau KN95, untuk membantu mengurangi paparan partikel di udara.

Masker medis juga dapat digunakan sebagai alternatif jika jenis respirator tersebut tidak tersedia.

Perlindungan sebaiknya tidak hanya berfokus pada wajah.

Kenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang dengan bahan yang cukup rapat agar kulit yang terbuka semakin sedikit.

Topi juga dapat digunakan untuk mengurangi abu yang menempel pada rambut dan kulit kepala.

Sementara itu, kacamata atau goggles dapat membantu melindungi area mata dari partikel abu.

Jangan Gosok Kulit Saat Abu Masih Menempel

Setelah kembali dari luar rumah, jangan langsung menggosok bagian tubuh yang terkena abu.

Langkah pertama yang disarankan adalah membilas kulit menggunakan air mengalir.

Tujuannya untuk membantu melepaskan partikel abu dari permukaan kulit tanpa memberikan gesekan berlebihan.

Hindari menggunakan tangan untuk menggosok kulit sebelum abu benar-benar terangkat. Hal serupa berlaku ketika menggunakan cleanser maupun handuk.

Setelah partikel abu terbilas, wajah dapat dibersihkan secara perlahan menggunakan pembersih yang lembut.

Ketika mengeringkan wajah, jangan menggosoknya dengan handuk.

Cukup tepuk perlahan menggunakan permukaan handuk agar gesekan terhadap kulit tetap minimal.

Pelembap Bisa Menjadi Perlindungan Tambahan

Bagi pemilik kulit kering atau sensitif, penggunaan pelembap juga dapat menjadi bagian dari perlindungan.

Pelembap dengan tekstur lebih kaya atau rich dapat diaplikasikan sedikit lebih tebal untuk membantu menjaga kondisi lapisan pelindung kulit.

Perlindungan fisik tetap menjadi prioritas ketika seseorang harus berada di tengah paparan abu.

Produk skincare tidak dapat menggantikan fungsi masker maupun pakaian tertutup.

Karena itu, penggunaan skincare sebaiknya ditempatkan sebagai pelengkap setelah perlindungan dasar terpenuhi.

Double Cleansing Tidak Perlu Berlebihan

Setelah beraktivitas di luar ruangan dan terpapar abu, double cleansing dapat dipertimbangkan untuk membersihkan wajah.

Tahap pertama dapat menggunakan cleansing oil atau cleansing balm.

Setelah itu, wajah bisa dicuci menggunakan facial wash yang memiliki formula lembut.

Air suam-suam kuku dapat digunakan saat membersihkan wajah.

Hindari menggosok kulit terlalu kuat karena permukaan kulit mungkin sedang lebih sensitif setelah terkena abu.

Namun, double cleansing bukan berarti wajah harus dicuci berulang kali sepanjang hari.

Jika seseorang lebih banyak berada di dalam rumah dan tidak terpapar abu, membersihkan wajah secara berlebihan justru berpotensi mengganggu skin barrier.

Saat Kulit Sensitif, Sederhanakan Skincare

Paparan abu dapat membuat kondisi kulit berubah. Jika muncul rasa perih atau sensitif, rutinitas skincare sebaiknya dibuat lebih sederhana.

Penggunaan bahan aktif yang berpotensi menimbulkan iritasi dapat dikurangi sementara.

Produk eksfoliasi berbasis asam maupun retinoid bisa dihentikan sementara jika kulit menunjukkan tanda-tanda sensitif.

Fokus utama dapat dialihkan pada produk yang membantu menjaga kelembapan dan mendukung kondisi skin barrier.

Dalam kondisi tertentu, produk berbentuk spray juga dapat dipertimbangkan untuk mengurangi kontak langsung dengan permukaan kulit.

Hal tersebut dapat menjadi pertimbangan ketika ingin mengaplikasikan ulang sunscreen tanpa terlalu banyak menggosok wajah.

Abu Vulkanik Juga Bisa Masuk ke Rumah

Perlindungan tidak berhenti setelah masyarakat kembali ke dalam rumah.

Abu yang terbawa angin tetap berpotensi masuk melalui celah pintu atau jendela.

Selama udara di luar masih dipenuhi abu, pintu dan jendela sebaiknya ditutup.

Celah di bagian bawah pintu juga dapat ditutup menggunakan kain atau bahan lain untuk membantu mengurangi masuknya partikel dari luar.

Bagi rumah yang menggunakan air purifier, kondisi filter perlu diperiksa secara berkala.

Filter yang sudah terlalu kotor dapat membuat perangkat bekerja kurang optimal.

Kenali Tanda Iritasi yang Membutuhkan Pemeriksaan

Keluhan ringan akibat paparan abu dapat berupa gatal, kemerahan, atau rasa tidak nyaman pada kulit.

Baca Juga: Indonesia Rawan Bencana, Kenapa Anggaran Mitigasi Harus Terus Diperkuat? Ini Penjelasannya

Setelah kulit dibersihkan dengan benar dan tidak lagi terpapar abu, keluhan tersebut dapat membaik.

Namun, masyarakat tetap perlu memperhatikan perkembangannya.

Jika kemerahan tidak kunjung membaik, rasa perih terus bertahan, atau kondisi kulit justru semakin parah, pemeriksaan oleh dokter kulit dapat dipertimbangkan.

Sunscreen tetap dapat digunakan ketika kulit masih membutuhkan perlindungan.

Jika kulit sedang sensitif dan membutuhkan aplikasi ulang, produk dengan format spray bisa menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi gesekan.

Erupsi Gunung Anak Krakatau memang membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan.

Selain menjaga pernapasan dan kualitas udara, kondisi kulit juga tidak boleh diabaikan.

Dengan pakaian yang tertutup, perlindungan wajah, serta cara membersihkan kulit yang tepat, risiko iritasi akibat paparan abu vulkanik dapat diminimalkan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dampak abu vulkanik pada kulit cara membersihkan abu vulkanik kulit terkena abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau