RADARBONAG.ID — Bagi sebagian orang, hari rasanya belum benar-benar dimulai sebelum menyeruput secangkir kopi.
Ada yang minum kopi saat bekerja, menemani rapat, nongkrong bersama teman, hingga menjadikannya teman untuk memulai pagi.
Namun, di balik kenikmatan tersebut muncul pertanyaan yang cukup sering terdengar: apakah minum kopi setiap hari bisa merusak ginjal?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana "kopi berbahaya untuk ginjal".
Dalam jumlah yang wajar, kopi justru dikaitkan dengan sejumlah manfaat bagi kesehatan ginjal.
Meski begitu, cara mengonsumsinya tetap perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Baca Juga: Bukan Cuma Panjat Pinang, Ini 6 Cara Elegan Gen Z Merayakan Kemerdekaan yang Kreatif dan Tetap Berma
Kopi Setiap Hari Tidak Otomatis Merusak Ginjal
Ginjal memiliki pekerjaan penting dalam tubuh.
Organ ini bertugas menyaring limbah dan kelebihan cairan sekaligus membantu menjaga keseimbangan elektrolit.
Bagi orang dewasa sehat, konsumsi kafein hingga sekitar 400 miligram per hari secara umum masih dianggap dapat ditoleransi.
Jumlah tersebut kira-kira setara dengan empat cangkir kopi, meski kandungan kafein setiap minuman bisa berbeda.
Kebutuhan setiap orang pun tidak sama. Faktor seperti tekanan darah, sensitivitas terhadap kafein, kondisi kesehatan, serta jenis dan ukuran kopi yang dikonsumsi perlu diperhitungkan.
Karena itu, seseorang yang bisa minum beberapa cangkir kopi tanpa masalah belum tentu memiliki respons tubuh yang sama dengan orang lain.
Minum Kopi Dikaitkan dengan Risiko Penyakit Ginjal Lebih Rendah
Salah satu temuan yang menarik adalah hubungan antara konsumsi kopi dan risiko penyakit ginjal kronis.
Sebuah meta-analisis yang dikutip dalam laporan tersebut menemukan bahwa orang yang mengonsumsi dua cangkir kopi atau lebih per hari memiliki risiko penyakit ginjal yang 14 persen lebih rendah dibandingkan kelompok tertentu yang menjadi pembanding.
Potensi manfaat tersebut diduga tidak hanya berasal dari kafein.
Kopi mengandung berbagai senyawa alami, termasuk asam klorogenat, polifenol, dan melanoidin yang memiliki sifat antioksidan dan anti-inflamasi.
Dengan kata lain, kandungan alami kopi bisa memberikan efek yang berbeda dari sekadar efek kafeinnya.
Menariknya, kopi tanpa kafein juga dapat memiliki sejumlah manfaat serupa karena sebagian senyawa yang berpotensi memberikan efek positif tersebut bukan berasal dari kafein.
Ada Kaitan dengan Risiko Batu Ginjal
Bukan hanya penyakit ginjal kronis, konsumsi kopi juga dikaitkan dengan risiko batu ginjal yang lebih rendah.
Salah satu penjelasannya berkaitan dengan produksi urine.
Kopi dapat meningkatkan volume urine. Kondisi tersebut berpotensi membantu mengencerkan sekaligus mengeluarkan mineral pembentuk batu sebelum terkumpul dan membentuk kristal di saluran kemih.
Namun, bukan berarti minum kopi saja sudah cukup untuk mencegah batu ginjal.
Air putih tetap menjadi kunci utama menjaga tubuh tetap terhidrasi.
Jika seseorang minum kopi dalam jumlah banyak tetapi justru mengurangi konsumsi air putih, manfaat tersebut tentu tidak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan kebutuhan cairan tubuh.
Kopi Manis Justru Perlu Diwaspadai
Masalahnya terkadang bukan terletak pada kopinya, melainkan pada apa yang ditambahkan ke dalam minuman tersebut.
Kopi hitam tanpa tambahan berlebihan tentu berbeda dengan minuman kopi kekinian yang dipenuhi gula, sirup, krimer, susu, atau berbagai topping.
Konsumsi gula yang terlalu tinggi secara rutin dapat berdampak buruk terhadap kesehatan secara keseluruhan.
Karena itu, menambahkan terlalu banyak gula atau krim justru dapat mengurangi keuntungan dari pilihan minuman kopi yang lebih sederhana.
Bahkan, minuman kopi manis tertentu dapat mengandung gula dalam jumlah sangat tinggi.
Jadi, jika ingin tetap menikmati kopi setiap hari, pilihan kopi dengan tambahan gula yang lebih terkendali bisa menjadi pertimbangan.
Punya Penyakit Ginjal Tetap Boleh Minum Kopi?
Pertanyaan ini menjadi lebih rumit bagi orang yang sudah memiliki penyakit ginjal kronis.
Menurut ahli gizi yang dikutip dalam laporan tersebut, konsumsi kopi dalam jumlah sedang, sekitar dua hingga tiga cangkir standar berukuran 8 ons per hari, dapat aman bagi sebagian besar penderita penyakit ginjal kronis.
Namun, kebutuhan setiap pasien tetap berbeda.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kandungan kalium. Secangkir kopi berukuran 8 ons disebut mengandung sekitar 100 miligram kalium.
Bagi orang yang harus membatasi kalium atau memiliki kadar kalium darah tinggi, konsumsi beberapa cangkir kopi setiap hari perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Karena itu, penderita penyakit ginjal sebaiknya tidak menjadikan informasi umum sebagai patokan pribadi.
Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi tetap diperlukan untuk menentukan jumlah yang sesuai.
Jadi, Boleh Ngopi Setiap Hari?
Jawabannya: bisa, selama jumlahnya wajar dan sesuai kondisi tubuh.
Kopi bukan otomatis musuh ginjal. Bahkan, penelitian menunjukkan adanya potensi manfaat dari konsumsi kopi dalam jumlah sedang terhadap risiko penyakit ginjal kronis maupun batu ginjal.
Namun, kebiasaan minum kopi tetap perlu diimbangi dengan pola hidup sehat.
Jangan lupa minum air putih yang cukup, batasi gula tambahan, perhatikan total asupan kafein, dan jangan mengabaikan kondisi kesehatan yang sudah dimiliki.
Baca Juga: Kabar Bahagia untuk NCTzen! NCT DREAM Resmi Perpanjang Kontrak dengan SM Entertainment, Enam Member
Yang juga perlu diingat, tidak semua produk yang disebut "kopi" memiliki kandungan yang sama.
Kopi herbal atau produk kopi dengan klaim tertentu perlu diperiksa keamanan dan izin edarnya, terutama jika mengandung bahan tambahan yang tidak jelas.
Pada akhirnya, secangkir kopi setiap hari bukan berarti ginjal pasti rusak.
Justru yang perlu diperhatikan adalah keseluruhan pola konsumsi.
Kopi hitam dalam jumlah wajar tentu berbeda dengan kebiasaan mengonsumsi minuman kopi tinggi gula berkali-kali dalam sehari.
Jadi, bagi Anda yang tidak bisa memulai pagi tanpa kopi, mungkin tidak perlu langsung panik.
Nikmati secukupnya, tetap hidrasi, dan yang paling penting, kenali kondisi tubuh sendiri.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : detik.com