RADARBONAG.ID – Pernah bersin sekali, lalu beberapa detik kemudian terdengar suara “hacih!” lagi? Bahkan tidak berhenti di bersin kedua dan berlanjut hingga tiga atau empat kali?
Bagi sebagian orang, bersin berkali-kali dalam satu waktu merupakan hal yang cukup sering terjadi.
Ada yang mengalaminya ketika berada di tempat berdebu, terkena udara dingin, mencium aroma tertentu, atau bahkan saat tiba-tiba melihat cahaya terang.
Meski terlihat sepele, bersin sebenarnya merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh.
Refleks tersebut membantu saluran pernapasan mengeluarkan berbagai benda atau partikel yang dianggap mengganggu, mulai dari debu, serbuk sari, asap, lendir, hingga pemicu alergi.
Lalu, kenapa tubuh terkadang tidak cukup hanya dengan satu kali bersin?
Sekali Bersin Belum Tentu Berhasil
Bersin terjadi ketika bagian dalam hidung mengalami iritasi. Saraf sensorik di area tersebut akan mendeteksi gangguan dan mengirimkan sinyal ke otak untuk memicu refleks bersin.
Tubuh kemudian menarik napas dan mengeluarkannya kembali dengan tekanan kuat melalui hidung dan mulut.
Gerakan tersebut membantu mendorong keluar partikel yang mengganggu saluran pernapasan.
Namun, satu kali bersin belum tentu langsung menyelesaikan masalah.
Jika masih terdapat debu, lendir, alergen, atau iritan lain yang menempel di saluran hidung, rangsangan tersebut dapat tetap dirasakan oleh tubuh. Akibatnya, refleks bersin bisa kembali aktif.
Inilah salah satu alasan seseorang dapat bersin dua, tiga, bahkan beberapa kali secara berturut-turut.
Jadi, bersin berkali-kali bukan berarti tubuh sengaja “mengulang” hal yang sama. Bisa saja refleks tersebut memang masih dibutuhkan karena pemicunya belum sepenuhnya tersingkir.
Kenapa Ada yang Bersin Sekali, Ada yang Berkali-kali?
Jumlah bersin yang dialami seseorang tidak memiliki angka baku yang berlaku untuk semua orang.
Setiap tubuh memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap iritan.
Faktor penyebab bersin juga dapat menentukan seberapa sering refleks tersebut muncul.
Salah satu penyebab yang cukup umum adalah alergi. Ketika seseorang sensitif terhadap debu, serbuk sari, jamur, bulu hewan, atau alergen tertentu, sistem kekebalan tubuh dapat memberikan respons yang memicu berbagai gejala, termasuk bersin berulang.
Selain alergi, pilek dan infeksi saluran pernapasan juga dapat membuat hidung mengalami iritasi dan peradangan.
Kondisi tersebut kemudian memicu refleks bersin lebih sering.
Karena itu, orang yang bersin berkali-kali belum tentu mengalami kondisi yang sama dengan orang lain. Bisa jadi pemicunya berbeda, begitu pula tingkat sensitivitas tubuhnya.
Ada yang Bersin Saat Melihat Cahaya Terang
Pemicu bersin ternyata tidak selalu berasal dari debu atau alergi.
Sebagian orang justru mengalami bersin ketika tiba-tiba terpapar cahaya terang, terutama setelah berada di tempat yang gelap. Fenomena tersebut dikenal sebagai photic sneeze reflex.
Kondisi ini merupakan respons refleks yang dialami sebagian orang dan diduga berkaitan dengan faktor bawaan.
Misalnya, seseorang keluar dari ruangan gelap menuju area yang terkena sinar matahari terang. Tidak lama kemudian, ia tiba-tiba bersin.
Bagi orang yang mengalaminya, bersin tersebut bukan berarti ada debu yang masuk ke hidung.
Respons tubuh terhadap perubahan cahaya dapat menjadi pemicunya.
Fenomena ini menjadi salah satu contoh bahwa refleks bersin ternyata cukup kompleks dan tidak selalu berkaitan dengan penyakit.
Bersin Tidak Selalu Berarti Sedang Sakit
Masih ada anggapan bahwa bersin merupakan tanda tubuh sedang lemah atau pasti akan sakit. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Bersin merupakan mekanisme pertahanan alami tubuh. Dalam banyak situasi, refleks tersebut justru menunjukkan bahwa tubuh sedang berusaha mengeluarkan sesuatu yang dianggap mengganggu saluran pernapasan.
Bersin sesekali tanpa disertai keluhan lain umumnya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Namun, situasinya berbeda jika bersin terus-menerus muncul bersama gejala lain yang cukup berat atau mengganggu aktivitas.
Misalnya, disertai sesak napas, demam, mata sangat gatal dan berair, ruam, atau keluhan pernapasan lainnya.
Gejala tambahan tersebut dapat memberikan petunjuk bahwa bersin berkaitan dengan alergi, infeksi, atau kondisi lain yang perlu diperhatikan.
Jika keluhan berlangsung terus atau semakin mengganggu, pemeriksaan medis dapat membantu mengetahui penyebabnya.
Jangan Sengaja Menahan Bersin
Ada satu kebiasaan yang sebaiknya tidak dilakukan, yaitu menahan bersin dengan paksa.
Ketika bersin, tubuh menghasilkan tekanan untuk mendorong udara keluar.
Menutup hidung dan mulut secara paksa dapat membuat tekanan tersebut tidak keluar sebagaimana mestinya.
Dalam kondisi tertentu, menahan bersin dengan paksa dapat menyebabkan komplikasi atau cedera, termasuk masalah pada telinga maupun pembuluh darah.
Karena itu, daripada berusaha menghentikan bersin dengan menutup rapat hidung dan mulut, lebih baik bersin dengan cara yang higienis.
Gunakan tisu atau arahkan bersin ke bagian dalam siku untuk membantu mengurangi penyebaran percikan.
Jadi, Kenapa Bisa Bersin Sampai Berkali-kali?
Pada dasarnya, tidak ada jumlah bersin tertentu yang harus dianggap sebagai “normal” untuk semua orang.
Jika tubuh masih mendeteksi adanya iritan atau rangsangan pada hidung, refleks bersin dapat kembali muncul. Alergi, pilek, perubahan lingkungan, hingga cahaya terang bisa menjadi beberapa pemicunya.
Jadi, ketika setelah satu kali bersin tubuh kembali mengeluarkan suara “hacih!”, tidak perlu langsung menganggap ada sesuatu yang aneh.
Bisa saja tubuh memang belum selesai melakukan tugasnya.
Satu bersin mungkin belum cukup untuk membersihkan pemicu iritasi dari hidung.
Karena itu, bersin kedua atau ketiga sebenarnya dapat menjadi bagian dari mekanisme pertahanan tubuh.
Namun, jika frekuensinya sangat sering dan terus disertai gejala lain, jangan hanya menganggapnya sebagai kebiasaan. Perhatikan kondisi tubuh dan cari tahu pemicunya.
Karena di balik suara “hacih!” yang terdengar sederhana, sebenarnya ada sistem pertahanan tubuh yang sedang bekerja.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang