RADARBONAG.ID – Perut kenyang, mata mulai berat, lalu sofa terasa seperti tempat paling nyaman di dunia. Siapa yang sering melakukan ini?
Setelah makan, keinginan untuk sekadar selonjoran memang sulit ditolak. Apalagi setelah seharian beraktivitas.
Niatnya hanya rebahan sebentar sambil bermain ponsel, tetapi tidak jarang malah berujung tidur.
Meski terlihat sepele, kebiasaan langsung berbaring setelah makan patut diperhatikan, terutama bagi orang yang memiliki kecenderungan mengalami refluks asam atau gastroesophageal reflux disease (GERD).
Mayo Clinic menyarankan penderita GERD memberikan jeda setidaknya tiga jam antara waktu makan dan berbaring atau tidur.
Tujuannya untuk membantu mengurangi kemungkinan munculnya gejala refluks.
Jadi, persoalannya bukan berarti setiap orang yang rebahan setelah makan pasti mengalami GERD. Namun, posisi tubuh setelah makan memang dapat memengaruhi gejala pada orang yang rentan.
Kenapa Rebahan Setelah Makan Bisa Memicu Refluks?
Setelah makan, lambung sedang bekerja mencerna makanan.
Dalam posisi berdiri atau duduk tegak, gravitasi membantu menjaga isi lambung tetap berada di bawah.
Ketika tubuh langsung berbaring, bantuan gravitasi tersebut berkurang.
Pada orang yang memiliki masalah refluks, kondisi ini dapat membuat isi lambung lebih mudah bergerak kembali ke arah kerongkongan.
Akibatnya, berbagai keluhan bisa muncul.
Mulai dari sensasi panas atau terbakar di dada, rasa asam di mulut, tenggorokan terasa tidak nyaman, hingga sensasi seperti makanan atau cairan naik kembali.
Keluhan tersebut bisa terasa semakin mengganggu ketika seseorang langsung tidur setelah makan dalam jumlah banyak.
Awalnya Terasa Nyaman, Tapi Gejalanya Bisa Muncul Belakangan
Hal yang membuat kebiasaan ini sering diabaikan adalah gejalanya tidak selalu muncul setiap kali dilakukan.
Hari ini makan lalu rebahan dan tidak merasakan apa-apa. Besok dilakukan lagi, masih terasa aman. Akhirnya kebiasaan tersebut dianggap tidak memiliki masalah.
Padahal, respons tubuh setiap orang berbeda.
Bagi seseorang yang sudah memiliki GERD atau mudah mengalami refluks, berbaring setelah makan dapat menjadi salah satu pemicu yang membuat keluhan lebih mudah muncul.
Rasa panas di dada, tenggorokan terasa mengganjal, atau asam yang naik saat malam hari bisa menjadi tanda yang perlu diperhatikan jika terjadi berulang.
Tidak Rebahan Bukan Berarti Harus Langsung Olahraga
Lalu, kalau tidak boleh rebahan, apakah setelah makan harus langsung olahraga?
Tentu tidak.
Tubuh juga membutuhkan waktu untuk mencerna makanan. Aktivitas berat sesaat setelah makan bukan sesuatu yang harus dipaksakan.
Sebagai gantinya, aktivitas ringan seperti berjalan santai dapat menjadi pilihan.
Berjalan sebentar di sekitar rumah, membereskan meja makan, atau melakukan kegiatan ringan lainnya dapat membantu tubuh tetap berada dalam posisi tegak.
Selain berkaitan dengan pencernaan dan refluks, aktivitas setelah makan juga memiliki kaitan dengan respons gula darah.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik setelah makan, termasuk berjalan, dapat membantu mengurangi respons kenaikan gula darah dibandingkan langsung tidak melakukan aktivitas.
Efeknya cenderung lebih terlihat ketika aktivitas dilakukan tidak terlalu lama setelah makan.
Jalan Santai Bisa Jadi Kebiasaan Sederhana
Tidak perlu mengubah waktu setelah makan menjadi sesi olahraga.
Cukup hindari langsung menjadikan sofa sebagai tempat rebahan.
Setelah makan, cobalah tetap duduk tegak atau melakukan aktivitas ringan. Berjalan santai beberapa saat di sekitar rumah juga bisa menjadi pilihan apabila tubuh terasa nyaman.
Kebiasaan kecil seperti ini relatif mudah dimasukkan ke dalam rutinitas harian.
Yang terpenting, jangan memaksakan aktivitas apabila tubuh sedang tidak fit atau terdapat kondisi medis tertentu yang membuat aktivitas fisik perlu dibatasi.
Bagaimana Kalau Mengantuk Setelah Makan Siang?
Ini mungkin bagian yang paling sulit.
Makan siang sudah selesai, perut kenyang, suasana tenang, lalu rasa kantuk datang. Sementara pekerjaan masih menunggu.
Kalau langsung tidur, terutama bagi orang yang rentan mengalami refluks, posisi berbaring dapat membuat gejala menjadi lebih mudah muncul.
Karena itu, memberikan jeda sebelum tidur merupakan pilihan yang lebih baik.
Mayo Clinic merekomendasikan penderita GERD menunggu sekitar tiga jam setelah makan sebelum berbaring atau tidur.
Jika kantuk datang, usahakan tetap berada dalam posisi tegak terlebih dahulu. Setelah jeda tersebut, barulah pertimbangkan untuk beristirahat.
Jangan Salah Paham: Rebahan Tidak Otomatis Menyebabkan GERD
Informasi kesehatan di media sosial sering kali dibuat sangat sederhana. Misalnya, muncul anggapan bahwa rebahan setelah makan pasti menyebabkan penyakit tertentu.
Padahal, kondisi kesehatan seseorang dipengaruhi banyak faktor.
Kebiasaan berbaring segera setelah makan lebih tepat dipahami sebagai salah satu faktor yang dapat memperburuk gejala refluks pada orang yang memang rentan, bukan penyebab tunggal bahwa setiap orang pasti mengalami GERD.
Begitu pula dengan aktivitas ringan setelah makan.
Meski penelitian menunjukkan manfaat terhadap respons gula darah, bukan berarti berjalan setelah makan bisa menggantikan pola makan sehat, olahraga teratur, atau penanganan medis.
Mulai Ganti Kebiasaan “Rebahan Dulu” Jadi “Jalan Dulu”
Godaan setelah makan memang sederhana: makanan sudah habis, sofa empuk, ponsel di tangan, lalu muncul kalimat, “Rebahan dulu.”
Tidak perlu menghilangkan waktu istirahat sepenuhnya. Cukup berikan tubuh sedikit waktu sebelum kembali berbaring.
Tetap tegak, bergerak ringan jika memungkinkan, dan hindari langsung tidur setelah makan, terutama apabila Anda memiliki riwayat refluks.
Jika rasa panas di dada, asam naik, atau keluhan lainnya sering terjadi dan mengganggu aktivitas maupun tidur, jangan hanya mengandalkan perubahan posisi.
Konsultasikan kondisi tersebut kepada tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat diketahui.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Kadang, langkah sederhananya hanya menunda rebahan beberapa saat setelah makan.
Sofa masih akan tetap ada. Kasur juga tidak akan pergi ke mana-mana.
Jadi, setelah makan, mungkin kali ini pilih “jalan dulu” daripada “rebahan dulu.”
Artikel ini tidak bermaksud menyatakan bahwa rebahan setelah makan otomatis menyebabkan penyakit.
Posisi berbaring setelah makan terutama perlu diperhatikan pada orang yang rentan mengalami refluks atau GERD.
Informasi dalam artikel bersifat edukasi dan tidak menggantikan diagnosis maupun saran dari tenaga kesehatan.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang