Perut Tetap Buncit Meski Berat Badan Normal? Ternyata Hormon Kortisol Bisa Jadi Penyebab Utama Penumpukan Lemak

Amaliya Syafithri • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 13:07 WIB
Sudah diet dan rutin olahraga tetapi perut tetap buncit? Penyebabnya bisa jadi bukan hanya makanan, melainkan hormon kortisol akibat stres berkepanjangan. Simak penjelasan lengkapnya dan pelajari cara mengatasinya agar lemak perut lebih mudah berkurang. (Sumber: Top Shape Gym)
Sudah diet dan rutin olahraga tetapi perut tetap buncit? Penyebabnya bisa jadi bukan hanya makanan, melainkan hormon kortisol akibat stres berkepanjangan. Simak penjelasan lengkapnya dan pelajari cara mengatasinya agar lemak perut lebih mudah berkurang. (Sumber: Top Shape Gym)

RADARBONAG.ID – Banyak orang mengira berat badan ideal adalah tanda tubuh sehat sepenuhnya.

Namun, kenyataannya tidak sedikit individu yang memiliki tubuh terlihat langsing, tetapi tetap menyimpan timbunan lemak di area perut.

Kondisi ini sering membuat seseorang merasa frustrasi karena perut tetap buncit meski sudah menjalani diet atau rutin berolahraga.

Fenomena tersebut dikenal dengan istilah skinny fat, yaitu kondisi ketika berat badan berada dalam kisaran normal, tetapi persentase lemak tubuh, terutama di area perut, masih tergolong tinggi. Penyebabnya pun tidak selalu berkaitan dengan pola makan berlebihan.

Para ahli menjelaskan bahwa salah satu faktor yang berperan besar adalah ketidakseimbangan hormon, terutama hormon kortisol yang dikenal sebagai hormon stres.

Jika kadarnya terus meningkat dalam waktu lama, tubuh akan lebih mudah menyimpan lemak di sekitar organ dalam perut.

Baca Juga: Tren Berkebun di Rumah Masih Bertahan atau Sudah Mulai Ditinggalkan? Ternyata Banyak Orang Kini Menjadikannya Gaya Hidup

Apa Itu Hormon Kortisol dan Mengapa Penting bagi Tubuh?

Kortisol merupakan hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal. Dalam kondisi normal, hormon ini memiliki banyak fungsi penting, mulai dari membantu mengatur metabolisme, menjaga tekanan darah, mengontrol kadar gula darah, hingga membantu tubuh merespons situasi darurat.

Saat seseorang menghadapi tekanan fisik maupun emosional, tubuh secara alami akan meningkatkan produksi kortisol sebagai bagian dari mekanisme pertahanan.

Respons ini sebenarnya sangat bermanfaat dalam jangka pendek karena membantu tubuh memiliki energi tambahan untuk menghadapi situasi yang dianggap mengancam.

Namun, masalah muncul ketika stres berlangsung terus-menerus tanpa diimbangi pemulihan yang cukup.

Produksi kortisol yang terus tinggi dapat memengaruhi berbagai sistem tubuh, termasuk distribusi lemak.

Stres Berkepanjangan Memicu Penumpukan Lemak di Perut

Tekanan pekerjaan, masalah keuangan, kurang tidur, hingga beban emosional sehari-hari dapat membuat kadar kortisol tetap tinggi selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Dalam kondisi tersebut, tubuh akan mengubah cara menyimpan energi.

Kortisol membantu memobilisasi cadangan energi, termasuk trigliserida, yang kemudian lebih banyak disimpan kembali pada jaringan lemak viseral, yaitu lemak yang berada jauh di dalam rongga perut dan mengelilingi organ-organ penting.

Mengapa lemak lebih banyak menumpuk di perut?

Hal ini disebabkan karena sel-sel lemak di area perut memiliki jumlah reseptor kortisol yang lebih tinggi dibandingkan jaringan lemak di paha atau pinggul.

Akibatnya, ketika hormon stres meningkat, bagian perut menjadi lokasi yang paling mudah mengalami penumpukan lemak.

Inilah sebabnya mengapa seseorang dapat memiliki lengan dan kaki yang relatif ramping, tetapi tetap memiliki lingkar perut yang besar.

Lemak Viseral Lebih Berbahaya daripada Lemak di Bawah Kulit

Tidak semua lemak tubuh memiliki dampak yang sama terhadap kesehatan.

Lemak yang berada tepat di bawah kulit atau lemak subkutan memang dapat memengaruhi penampilan, tetapi umumnya tidak seberbahaya lemak viseral.

Lemak viseral berada di sekitar organ vital seperti hati, pankreas, dan usus.

Jika jumlahnya berlebihan, lemak ini dapat mengganggu fungsi organ sekaligus meningkatkan peradangan dalam tubuh.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penumpukan lemak viseral berkaitan dengan meningkatnya risiko sindrom metabolik, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, hingga gangguan pembuluh darah.

Karena letaknya tersembunyi di dalam rongga perut, seseorang tidak selalu menyadari jumlah lemak viseral yang dimiliki hanya dengan melihat angka timbangan.

Diet Ketat Saja Belum Tentu Menjadi Solusi

Banyak orang mencoba menghilangkan perut buncit dengan mengurangi makan secara ekstrem atau melakukan olahraga dalam intensitas sangat tinggi setiap hari.

Sayangnya, strategi tersebut tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan.

Pembatasan kalori berlebihan justru dapat membuat tubuh mengalami stres tambahan.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan produksi kortisol sehingga proses penyimpanan lemak di area perut tetap berlangsung.

Begitu pula dengan latihan fisik tanpa waktu istirahat yang cukup atau dikenal sebagai overtraining. Tubuh yang terus dipaksa bekerja keras tanpa pemulihan dapat memicu respons stres yang sama.

Karena itu, program penurunan lemak sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan pola makan seimbang, aktivitas fisik yang terukur, serta waktu istirahat yang memadai.

Cara Menurunkan Kortisol agar Lemak Perut Lebih Mudah Berkurang

Mengelola kadar kortisol tidak hanya penting untuk kesehatan mental, tetapi juga dapat mendukung upaya mengurangi lemak di area perut.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

Baca Juga: Kenapa Matcha Semakin Populer di Kalangan Gen Z? Ternyata Bukan Sekadar Ikut Tren, Ini Manfaat dan Fakta Menariknya

Dengan menerapkan kebiasaan tersebut secara konsisten, kadar kortisol dapat lebih terkontrol sehingga metabolisme tubuh bekerja lebih optimal.

Pada akhirnya, menghilangkan lemak perut bukan hanya soal mengurangi kalori atau mengejar angka di timbangan.

Keseimbangan hormon, kualitas tidur, pengelolaan stres, serta pola hidup sehat secara keseluruhan memiliki peran yang sama pentingnya.

Jika perut buncit tetap bertahan meski berat badan normal, jangan hanya menyalahkan makanan.

Bisa jadi, tubuh sedang memberikan sinyal bahwa tingkat stres perlu lebih diperhatikan agar kesehatan dan komposisi tubuh menjadi lebih baik.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : health.detik.com
skinny fat hormon kortisol lemak perut penyebab perut buncit cara menurunkan kortisol