Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Dulu Buka Toko Vape di Rumah Sakit, Kini Inggris Beri Vape Gratis untuk Bantu Perokok Berhenti, Begini Penjelasan Kebijakan Harm Reduction

Muhammad Azlan Syah • Kamis, 16 Juli 2026 | 08:05 WIB
Inggris pernah bikin dunia heboh karena membuka toko vape di rumah sakit. Kini kebijakan itu berubah menjadi program vape gratis bagi perokok dewasa sebagai bagian dari strategi berhenti merokok. (internasional.kontan.co.id)
Inggris pernah bikin dunia heboh karena membuka toko vape di rumah sakit. Kini kebijakan itu berubah menjadi program vape gratis bagi perokok dewasa sebagai bagian dari strategi berhenti merokok. (internasional.kontan.co.id)

RADARBONAG.ID – Kebijakan kesehatan di Inggris pernah menjadi sorotan dunia setelah sejumlah rumah sakit membuka toko vape di dalam area fasilitas kesehatan.

Langkah yang saat itu menuai pro dan kontra tersebut bukan dilakukan untuk mempromosikan gaya hidup vaping, melainkan sebagai bagian dari strategi mengurangi angka perokok aktif.

Kini, beberapa tahun berselang, kebijakan tersebut kembali menjadi pembahasan setelah pemerintah Inggris memilih pendekatan yang berbeda.

Toko vape yang dulu sempat hadir di lingkungan rumah sakit memang sudah tidak lagi beroperasi, namun konsep pengurangan risiko atau harm reduction justru semakin diperkuat melalui program nasional yang membantu perokok beralih dari rokok konvensional.

Baca Juga: KPK Sebut Belum Ada Urgensi Ambil Alih Kasus Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Masih Tunggu Proses Kejaksaan Agung

Pendekatan ini menjadi salah satu contoh bagaimana kebijakan kesehatan publik dapat berbeda di setiap negara, terutama dalam menangani persoalan merokok yang masih menjadi penyebab berbagai penyakit kronis.

Rumah Sakit Pernah Membuka Toko Vape untuk Perokok Dewasa

Pada 2019, salah satu rumah sakit di kawasan West Midlands, Inggris, menjadi perhatian internasional setelah menghadirkan toko vape di dalam area rumah sakit.

Keberadaan toko tersebut bukan ditujukan untuk menarik masyarakat umum membeli produk vape, melainkan memberikan alternatif bagi pasien maupun pengunjung dewasa yang masih merokok agar memiliki pilihan lain selain rokok tembakau.

Saat itu, kawasan rumah sakit juga menerapkan aturan bebas asap rokok sehingga penggunaan rokok konvensional semakin dibatasi.

Kehadiran toko vape dipandang sebagai salah satu cara untuk membantu proses transisi bagi mereka yang ingin mengurangi atau menghentikan kebiasaan merokok.

Kebijakan tersebut sempat memunculkan beragam reaksi. Sebagian pihak menilai langkah itu cukup berani karena dianggap tidak lazim melihat produk vape dijual di lingkungan rumah sakit.

Namun di sisi lain, otoritas kesehatan Inggris menjelaskan bahwa kebijakan tersebut didasarkan pada berbagai kajian ilmiah mengenai pengurangan risiko bagi perokok dewasa.

Harm Reduction Jadi Dasar Strategi Pemerintah Inggris

Alih-alih menargetkan larangan total terhadap seluruh produk nikotin, pemerintah Inggris mengembangkan pendekatan harm reduction, yakni mengurangi dampak kesehatan yang ditimbulkan akibat kebiasaan merokok.

Konsep ini berangkat dari pemahaman bahwa sebagian perokok mengalami kesulitan berhenti secara langsung.

Karena itu, pemerintah menyediakan berbagai pilihan terapi, mulai dari konseling, terapi pengganti nikotin, hingga penggunaan rokok elektrik sebagai salah satu alternatif bagi perokok dewasa.

Pendekatan tersebut bukan berarti vape dianggap aman sepenuhnya.

Otoritas kesehatan tetap menegaskan bahwa pilihan terbaik adalah berhenti menggunakan seluruh produk tembakau dan nikotin.

Namun bagi perokok dewasa yang belum berhasil berhenti, perpindahan dari rokok konvensional menuju alternatif yang dinilai memiliki paparan zat berbahaya lebih rendah dianggap dapat membantu mengurangi risiko kesehatan dibanding terus merokok.

Program Swap to Stop Bagikan Vape Gratis

Strategi tersebut kemudian berkembang melalui program nasional bertajuk Swap to Stop.

Melalui program ini, pemerintah Inggris menargetkan sekitar satu juta perokok dewasa memperoleh perangkat vape secara gratis sebagai bagian dari layanan berhenti merokok.

Program tersebut tidak diberikan secara sembarangan kepada seluruh masyarakat.

Peserta tetap mendapatkan pendampingan melalui layanan kesehatan dan diarahkan agar penggunaan vape menjadi langkah transisi untuk meninggalkan kebiasaan merokok.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa fokus pemerintah bukan pada peningkatan konsumsi vape, melainkan menekan jumlah perokok aktif yang selama bertahun-tahun menjadi beban bagi sistem kesehatan nasional.

Selain perangkat vape, peserta juga memperoleh edukasi mengenai proses berhenti merokok, pendampingan, serta pemantauan perkembangan selama menjalani program.

Mengapa Toko Vape di Rumah Sakit Kini Sudah Tidak Ada?

Banyak yang mengira penutupan toko vape di rumah sakit terjadi karena pemerintah Inggris melarang penggunaan vape.

Faktanya, kebijakan tersebut berkembang mengikuti perubahan strategi pelayanan kesehatan.

Alih-alih mengandalkan toko ritel di lingkungan rumah sakit, layanan berhenti merokok kini lebih banyak dilakukan melalui sistem pelayanan kesehatan yang terintegrasi.

Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena pasien dapat memperoleh edukasi, konsultasi, hingga rekomendasi terapi sesuai kondisi masing-masing.

Dengan demikian, keberadaan toko vape tidak lagi menjadi kebutuhan utama dalam mendukung program berhenti merokok.

Kebijakan Berbeda, Tujuan Tetap Sama

Perbedaan kebijakan antarnegara menunjukkan bahwa tidak ada satu pendekatan yang diterapkan secara seragam dalam menghadapi persoalan merokok.

Inggris memilih mengembangkan strategi harm reduction berdasarkan kajian ilmiah yang terus diperbarui, sementara negara lain memiliki regulasi yang berbeda sesuai kondisi kesehatan masyarakat, budaya, hingga kebijakan nasional masing-masing.

Baca Juga: PM Malaysia Anwar Ibrahim Klaim Harga Bensin RON95 Lebih Murah dari Arab Saudi, Sebut Janji Pemerintah Telah Terpenuhi

Meski demikian, para ahli kesehatan tetap mengingatkan bahwa vape bukan produk bebas risiko.

Produk tersebut tidak dianjurkan bagi anak-anak, remaja, ibu hamil, maupun individu yang sebelumnya tidak merokok.

Tujuan utama berbagai kebijakan tersebut tetap sama, yakni mengurangi dampak buruk rokok terhadap kesehatan masyarakat sekaligus menekan angka penyakit yang berkaitan dengan konsumsi tembakau.

Perdebatan mengenai efektivitas harm reduction memang masih terus berlangsung.

Namun pengalaman Inggris menunjukkan bagaimana kebijakan kesehatan dapat berubah mengikuti perkembangan bukti ilmiah, evaluasi program, dan kebutuhan masyarakat dalam upaya menciptakan generasi yang semakin terbebas dari kebiasaan merokok.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : instagram.com/vapeindo_official
toko vape rumah sakit program Swap to Stop harm reduction vape untuk berhenti merokok inggris