RADARBONANG.ID – Tato permanen semakin populer sebagai bentuk ekspresi diri, identitas, maupun karya seni yang melekat di tubuh.
Beragam desain, warna, dan makna membuat banyak orang memilih menghiasi kulit mereka dengan tato yang dapat bertahan seumur hidup.
Namun, di balik hasil akhirnya yang artistik, proses pembuatan tato ternyata melibatkan serangkaian reaksi biologis yang cukup kompleks.
Saat jarum mulai memasukkan tinta ke dalam kulit, tubuh tidak hanya menerima gambar baru, tetapi juga langsung mengaktifkan mekanisme pertahanan alami.
Mulai dari respons sistem kekebalan tubuh, proses penyembuhan luka, hingga kemungkinan partikel tinta berpindah ke bagian tubuh lain, semuanya merupakan bagian dari reaksi alami yang terjadi ketika seseorang membuat tato permanen.
Sistem Imun Langsung Menganggap Tinta sebagai Zat Asing
Proses pembuatan tato dilakukan dengan menggunakan jarum khusus yang menusukkan tinta berkali-kali ke lapisan dermis, yaitu lapisan kulit yang berada di bawah epidermis.
Begitu tinta masuk ke dalam jaringan kulit, sistem kekebalan tubuh segera mengenalinya sebagai benda asing.
Hal ini memicu aktivasi berbagai sel imun yang bertugas melindungi tubuh dari zat yang dianggap bukan bagian dari tubuh.
Salah satu sel yang berperan penting adalah makrofag, yaitu sel imun yang bertugas "memakan" partikel asing.
Sebagian partikel tinta berhasil dibersihkan oleh sel-sel tersebut, tetapi tidak semuanya dapat dihilangkan.
Partikel tinta yang berukuran lebih besar akan tetap tertahan di lapisan dermis.
Inilah yang membuat gambar tato dapat terlihat jelas dan bertahan selama bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.
Luka Kecil Memicu Proses Peradangan
Selain memasukkan tinta, jarum tato juga menciptakan ribuan luka mikro pada permukaan kulit.
Luka-luka kecil ini memicu respons peradangan yang sebenarnya merupakan bagian normal dari proses penyembuhan.
Karena itulah, setelah membuat tato, area kulit biasanya tampak kemerahan, sedikit membengkak, terasa hangat, atau nyeri saat disentuh.
Pada beberapa orang, rasa tidak nyaman tersebut hanya berlangsung beberapa hari.
Namun, proses penyembuhan kulit secara menyeluruh umumnya membutuhkan waktu beberapa minggu, tergantung ukuran tato, kondisi kesehatan, serta cara perawatan setelah penatoan.
Selama masa penyembuhan, tubuh bekerja memperbaiki jaringan kulit yang rusak sekaligus menjaga agar tinta tetap berada di lapisan dermis.
Mengapa Tato Bisa Bertahan Sangat Lama?
Banyak orang bertanya-tanya mengapa tato permanen tidak hilang meskipun kulit terus beregenerasi.
Jawabannya terletak pada lokasi tinta berada. Kulit bagian paling luar memang terus berganti setiap beberapa minggu, tetapi tinta tato disimpan lebih dalam, yaitu di lapisan dermis yang tidak mengalami pergantian secepat epidermis.
Makrofag yang telah menyerap partikel tinta juga berperan mempertahankan keberadaan pigmen tersebut.
Ketika sel imun mati, partikel tinta akan kembali ditangkap oleh sel imun lain di sekitarnya sehingga gambar tato tetap terlihat.
Inilah sebabnya tato permanen dapat bertahan selama puluhan tahun meski warnanya perlahan memudar akibat paparan sinar matahari, proses penuaan, atau perubahan pada kulit.
Sebagian Partikel Tinta Dapat Berpindah ke Kelenjar Getah Bening
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tidak semua partikel tinta tetap berada di lokasi tato.
Sebagian partikel berukuran sangat kecil dapat berpindah melalui sistem limfatik menuju kelenjar getah bening.
Sistem limfatik sendiri merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh yang membantu menyaring berbagai zat asing.
Peneliti bahkan menemukan adanya pigmen tinta pada beberapa kelenjar getah bening orang yang memiliki tato.
Meski demikian, hingga saat ini para ilmuwan masih terus meneliti apakah keberadaan partikel tinta tersebut memiliki dampak kesehatan dalam jangka panjang.
Bukti ilmiah yang tersedia masih belum cukup untuk menyimpulkan adanya efek tertentu pada sebagian besar orang yang bertato.
Risiko Tetap Ada Jika Proses Tidak Dilakukan dengan Benar
Selain respons alami tubuh, tato permanen juga memiliki sejumlah risiko apabila prosedurnya tidak memenuhi standar kebersihan.
Penggunaan jarum yang tidak steril dapat meningkatkan risiko infeksi bakteri maupun penularan penyakit tertentu.
Selain itu, sebagian orang juga dapat mengalami reaksi alergi terhadap kandungan pigmen tinta, terutama tinta dengan warna tertentu.
Gejala yang muncul bisa berupa gatal berkepanjangan, ruam, pembengkakan, hingga peradangan yang tidak kunjung membaik.
Karena itu, penting memilih studio tato yang memiliki reputasi baik, menggunakan peralatan steril sekali pakai, serta menerapkan prosedur kebersihan yang ketat.
Perawatan Setelah Membuat Tato Tidak Boleh Diabaikan
Keberhasilan proses penyembuhan tidak hanya bergantung pada kemampuan seniman tato, tetapi juga pada perawatan setelahnya.
Area tato perlu dijaga tetap bersih, mengikuti petunjuk perawatan dari pembuat tato, menghindari menggaruk kulit yang sedang mengelupas, serta membatasi paparan sinar matahari langsung selama proses penyembuhan.
Jika muncul tanda-tanda infeksi seperti nyeri hebat, keluar nanah, demam, atau kemerahan yang semakin meluas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke tenaga kesehatan.
Pada akhirnya, tato permanen memang merupakan bentuk seni yang memiliki makna bagi banyak orang.
Namun, memahami bagaimana tubuh bereaksi terhadap proses penatoan dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih bijak sekaligus menjaga kesehatan kulit setelah prosedur dilakukan.
Editor : Muhammad Azlan Syah