Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Makanan Bertepung Ramai Dianggap “Red Flag” Diet, Ini Penjelasan Ilmiah Mengapa Nasi, Kentang hingga Roti Tidak Selalu Berbahaya

Siska Yudianti • Selasa, 23 Juni 2026 | 15:57 WIB
Ilustrasi makanan bertepung seperti nasi, kentang, dan roti yang ternyata tidak selalu buruk bagi kesehatan tubuh. (ilustrasi makanan bertepung)
Ilustrasi makanan bertepung seperti nasi, kentang, dan roti yang ternyata tidak selalu buruk bagi kesehatan tubuh. (ilustrasi makanan bertepung)

RADARBONANG.ID – Dalam beberapa waktu terakhir, makanan bertepung seperti nasi, kentang, roti, mie, hingga singkong kembali menjadi sorotan di media sosial.

Banyak konten yang menempatkan makanan ini sebagai “tersangka utama” dalam berbagai masalah kesehatan, mulai dari kenaikan berat badan, perut buncit, hingga gangguan metabolisme.

Tren ini membuat sebagian orang mulai mengurangi bahkan menghilangkan karbohidrat secara ekstrem dari pola makan sehari-hari.

Namun, muncul pertanyaan penting: apakah benar semua makanan bertepung harus dihindari?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Baca Juga: India Blokir Telegram Sementara Demi Cegah Kebocoran Soal Ujian Nasional

Tren Diet Membuat Karbohidrat Jadi Tersangka

Fenomena diet rendah karbohidrat yang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir turut mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap makanan bertepung.

Banyak orang menganggap semua jenis karbohidrat memiliki dampak buruk yang sama terhadap tubuh.

Padahal, pati atau starch merupakan bentuk karbohidrat kompleks yang justru menjadi sumber energi utama bagi tubuh.

Pati terdapat secara alami dalam berbagai bahan makanan seperti nasi, jagung, kentang, ubi, singkong, oat, kacang-kacangan, hingga roti dan pasta.

Tubuh manusia akan mengubah pati menjadi glukosa yang digunakan sebagai bahan bakar aktivitas harian.

Masalahnya bukan pada keberadaan pati itu sendiri, melainkan pada jumlah konsumsi dan cara pengolahannya.

Tidak Semua Karbohidrat Memberikan Efek yang Sama

Dalam ilmu gizi, karbohidrat tidak bisa disamaratakan. Ada perbedaan besar antara makanan bertepung alami dan makanan bertepung olahan.

1. Pati Alami yang Lebih Bernutrisi

Pati alami ditemukan pada bahan makanan utuh seperti kentang, jagung, ubi, dan kacang-kacangan.

Makanan ini tidak hanya mengandung karbohidrat, tetapi juga serat, vitamin, mineral, dan antioksidan.

Kandungan serat di dalamnya membantu memperlambat proses pencernaan, sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama dan kadar gula darah lebih stabil.

2. Pati Olahan yang Perlu Diwaspadai

Berbeda dengan itu, pati olahan biasanya sudah kehilangan banyak nutrisi akibat proses pengolahan berlebihan.

Contohnya adalah roti putih tinggi gula, keripik kentang, kue manis, hingga camilan kemasan.

Jenis makanan ini cenderung lebih cepat meningkatkan gula darah dan mengandung kalori yang lebih tinggi tanpa memberikan rasa kenyang yang tahan lama.

Kentang Bukan Musuh Diet

Kentang sering mendapat stigma buruk dalam dunia diet. Padahal, kentang rebus atau panggang justru mengandung nutrisi penting seperti vitamin C, kalium, dan serat.

Yang membuat kentang dianggap “tidak sehat” biasanya adalah cara pengolahannya.

Kentang goreng, potato chips, atau menu cepat saji umumnya mengandung minyak berlebih, garam tinggi, dan kalori tambahan yang tidak diperlukan tubuh.

Dengan kata lain, masalahnya bukan pada kentangnya, melainkan pada cara manusia mengolahnya.

Nasi Putih Masih Aman Dikonsumsi

Sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia, nasi putih sulit dipisahkan dari pola makan sehari-hari. Kabar baiknya, nasi putih tidak perlu dihindari sepenuhnya.

Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti porsi makan, keseimbangan dengan sayuran, serta tambahan protein dalam satu piring.

Kombinasi ini membantu memperlambat penyerapan gula dan menjaga energi tetap stabil.

Pati Resisten yang Baik untuk Usus

Tidak banyak yang tahu bahwa ada jenis pati yang justru bermanfaat bagi kesehatan, yaitu resistant starch atau pati resisten.

Jenis pati ini tidak sepenuhnya dicerna di usus halus dan akan menjadi makanan bagi bakteri baik di usus.

Pati resisten bisa ditemukan pada pisang yang masih agak hijau, kacang-kacangan, oat, nasi yang didinginkan, hingga kentang yang telah didinginkan setelah dimasak.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pati resisten dapat membantu kesehatan pencernaan dan mendukung pengendalian gula darah.

Bahaya Ketakutan Berlebihan terhadap Karbohidrat

Tren “carb phobia” atau ketakutan berlebihan terhadap karbohidrat kini mulai banyak terlihat, terutama di kalangan anak muda yang terpengaruh konten media sosial.

Padahal, menghindari karbohidrat sepenuhnya tanpa perencanaan dapat menyebabkan tubuh cepat lelah, sulit berkonsentrasi, perubahan mood, hingga penurunan performa fisik.

Karbohidrat tetap dibutuhkan sebagai sumber energi utama, terutama bagi mereka yang aktif bekerja, belajar, atau berolahraga.

Baca Juga: Libur Sekolah Makin Seru, Jembatan Kaca Bromo Resmi Beroperasi Akhir Juni dengan Panorama Gunung Bromo dan Semeru

Kesimpulan: Tidak Perlu “Cancel” Makanan Bertepung

Pada akhirnya, makanan bertepung tidak bisa langsung dicap sebagai musuh kesehatan.

Yang lebih penting adalah memahami jenis karbohidrat, cara pengolahan, dan keseimbangan pola makan secara keseluruhan.

Alih-alih menghapus nasi, kentang, atau singkong dari menu harian, yang perlu dilakukan adalah mengatur porsi dan memilih cara pengolahan yang lebih sehat.

Karena sering kali, masalah kesehatan bukan berasal dari satu jenis makanan tertentu, melainkan dari pola konsumsi yang tidak seimbang.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#makanan bertepung #diet karbohidrat #nasi putih sehat #kentang dan gizi #karbohidrat kompleks