RADARBONANG.ID – Kabar duka menyelimuti gelaran BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 setelah seorang peserta dilaporkan meninggal dunia usai mengikuti ajang lari bergengsi tersebut.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa olahraga ketahanan seperti marathon bukan hanya soal kekuatan fisik dan mental, tetapi juga kemampuan mengenali batas kemampuan tubuh.
Di tengah semangat para pelari mengejar garis finis, dokter spesialis kedokteran olahraga mengingatkan pentingnya memahami sinyal yang diberikan tubuh selama berlari.
Mengabaikan tanda-tanda bahaya dapat meningkatkan risiko cedera serius, heat stroke, gangguan jantung, hingga kondisi yang mengancam nyawa.
Insiden di JAKIM 2026 Jadi Sorotan
Jakarta International Marathon 2026 yang digelar pada 13-14 Juni lalu diikuti ribuan peserta dari berbagai daerah.
Namun di balik kemeriahan acara tersebut, sejumlah pelari dilaporkan tumbang di lintasan akibat berbagai faktor, mulai dari kelelahan ekstrem, cedera, hingga dugaan gangguan akibat cuaca panas.
Salah satu peserta bahkan meninggal dunia setelah mengikuti perlombaan tersebut.
Peristiwa ini memicu diskusi luas di kalangan komunitas lari mengenai pentingnya keselamatan peserta dan kesadaran untuk berhenti ketika tubuh sudah tidak mampu melanjutkan aktivitas fisik berat.
"Listen to Your Body" Bukan Sekadar Slogan
Menurut dokter spesialis kedokteran olahraga dr. Andi Kurniawan, SpKO, prinsip "listen to your body" atau mendengarkan tubuh sendiri merupakan hal yang wajib diterapkan setiap pelari.
Saat berlari, tubuh sebenarnya terus memberikan sinyal mengenai kondisi yang sedang dialami.
Masalahnya, banyak pelari yang terlalu fokus mengejar target waktu atau garis finis sehingga mengabaikan peringatan tersebut. Akibatnya, kondisi tubuh dapat memburuk dalam waktu singkat.
Dokter menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama dibandingkan ambisi menyelesaikan perlombaan.
Tanda-Tanda Anda Sebaiknya DNF Saat Berlari
Dalam dunia lari, istilah DNF atau Did Not Finish sering dianggap sebagai kegagalan.
Padahal dalam kondisi tertentu, keputusan untuk berhenti justru merupakan pilihan yang paling bijaksana.
Berikut beberapa tanda yang perlu diwaspadai:
1. Nyeri yang Tidak Normal
Rasa pegal akibat aktivitas fisik memang umum terjadi. Namun jika muncul nyeri tajam pada lutut, betis, pergelangan kaki, dada, atau bagian tubuh lainnya, pelari sebaiknya segera mengurangi kecepatan dan mengevaluasi kondisinya.
Nyeri yang diabaikan dapat berkembang menjadi cedera serius yang membutuhkan waktu pemulihan panjang.
2. Napas Semakin Sulit Dikendalikan
Sesak napas berlebihan yang tidak membaik meskipun kecepatan lari diturunkan merupakan tanda tubuh mengalami tekanan berat.
Apabila pernapasan terasa sangat berat hingga sulit berbicara atau menarik napas dengan normal, pelari disarankan segera berhenti dan mencari bantuan medis.
3. Detak Jantung Terlalu Tinggi
Heart rate atau denyut jantung menjadi salah satu indikator penting saat berlari.
Jika denyut jantung terasa sangat cepat, tidak stabil, atau disertai rasa tidak nyaman di dada, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele. Pelari perlu beristirahat dan memastikan tubuh kembali stabil sebelum melanjutkan aktivitas.
4. Pusing dan Linglung
Pusing, kehilangan fokus, hingga linglung merupakan tanda serius yang bisa berkaitan dengan dehidrasi, kelelahan ekstrem, atau gangguan akibat suhu panas.
Gejala ini menunjukkan otak tidak mendapatkan suplai oksigen dan cairan yang optimal. Jika muncul selama berlari, pelari harus segera berhenti.
Cuaca Panas Bisa Menjadi Musuh Utama Pelari
Salah satu faktor yang sering memengaruhi performa pelari adalah kondisi cuaca.
Paparan suhu tinggi dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko heat exhaustion hingga heat stroke. Karena itulah, hidrasi menjadi aspek yang sangat penting dalam olahraga ketahanan.
Kurangnya cairan dapat mengganggu keseimbangan elektrolit tubuh dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan mulai dari sakit kepala, mulut kering, hingga gangguan kesadaran.
Bahkan pada Piala Dunia 2026, FIFA menerapkan kebijakan hydration break sebagai langkah pencegahan terhadap risiko kesehatan akibat dehidrasi dan panas berlebih.
Sebelum Start, Tanyakan pada Diri Sendiri
Dokter juga mengingatkan bahwa evaluasi kondisi tubuh harus dilakukan bahkan sebelum perlombaan dimulai.
Kurang tidur, sedang sakit, mengalami cedera, atau merasa tidak fit saat bangun pagi bisa menjadi alasan kuat untuk menunda atau membatalkan keikutsertaan dalam lomba.
Memaksakan diri berlari dalam kondisi tidak prima hanya akan meningkatkan risiko gangguan kesehatan selama perlombaan.
Finis Bukan Segalanya
Di kalangan pelari, menyelesaikan marathon memang menjadi pencapaian yang membanggakan.
Namun para ahli menegaskan bahwa tidak ada medali atau catatan waktu yang sebanding dengan keselamatan jiwa.
Keputusan untuk berhenti ketika tubuh memberikan sinyal bahaya bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bukti bahwa seorang pelari memahami kondisi fisiknya dengan baik.
Insiden yang terjadi di JAKIM 2026 menjadi pengingat bagi seluruh komunitas lari bahwa garis finis terpenting sesungguhnya adalah pulang ke rumah dalam keadaan sehat dan selamat.
Editor : Muhammad Azlan Syah