RADARBONAG.ID - Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM kembali mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih produk herbal dan jamu tradisional yang beredar di pasaran.
Dalam operasi pengawasan rutin yang dilakukan secara intensif, BPOM berhasil menemukan dan menyita sebanyak 22 merek obat herbal ilegal yang terbukti mengandung Bahan Kimia Obat atau BKO.
Keberadaan bahan kimia sintetis di dalam produk herbal tersebut sangat dilarang karena dapat membahayakan kesehatan konsumen.
BPOM menegaskan produk jamu tradisional seharusnya menggunakan bahan alami dan tidak dicampur zat kimia obat tanpa pengawasan medis.
Namun, sejumlah produsen nakal diduga sengaja menambahkan bahan tertentu agar produk memberikan efek instan sehingga lebih diminati konsumen.
Mengandung Sildenafil hingga Deksametason
Berdasarkan hasil pemeriksaan BPOM, beberapa bahan kimia obat yang ditemukan dalam jamu ilegal tersebut antara lain sildenafil sitrat, parasetamol, fenilbutazon, dan deksametason.
Bahan-bahan tersebut sebenarnya merupakan zat aktif obat medis yang penggunaannya harus melalui pengawasan tenaga kesehatan.
Sildenafil misalnya dikenal sebagai zat yang digunakan untuk terapi gangguan tertentu dan tidak boleh dikonsumsi sembarangan.
Sementara deksametason merupakan obat golongan kortikosteroid yang dapat menimbulkan efek samping serius jika digunakan tanpa kontrol dokter.
Produsen ilegal biasanya mencampurkan zat-zat tersebut ke dalam jamu agar konsumen merasakan efek cepat seperti stamina meningkat, nyeri pegal berkurang, atau tubuh terasa lebih bugar.
Padahal efek instan tersebut justru bisa menimbulkan risiko berbahaya bagi kesehatan tubuh dalam jangka panjang.
Risiko Kerusakan Organ hingga Kematian
BPOM mengingatkan konsumsi jamu yang terkontaminasi bahan kimia obat dapat menimbulkan dampak serius terhadap organ tubuh.
Penggunaan bahan kimia tanpa dosis yang tepat berpotensi menyebabkan kerusakan ginjal, gangguan fungsi hati, hingga pendarahan lambung.
Selain itu, kandungan obat tertentu juga dapat memengaruhi sistem kardiovaskular dan memaksa jantung bekerja lebih keras.
Dalam kondisi tertentu, efek tersebut bahkan dapat memicu serangan jantung mendadak maupun stroke tanpa gejala awal yang jelas.
Bahaya semakin besar apabila produk herbal ilegal dikonsumsi dalam jangka panjang atau dikombinasikan dengan obat medis lain tanpa pengawasan dokter.
Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah tergiur dengan klaim produk herbal yang menjanjikan khasiat instan.
BPOM Imbau Masyarakat Terapkan Cek KLIK
Untuk menghindari risiko mengonsumsi produk berbahaya, BPOM mengimbau masyarakat agar selalu menjadi konsumen yang cerdas dan teliti sebelum membeli obat herbal.
Masyarakat diminta menerapkan prinsip Cek KLIK sebelum membeli produk kesehatan.
Cek KLIK terdiri dari memeriksa kondisi Kemasan, membaca informasi pada Label, memastikan produk memiliki Izin edar resmi, serta mengecek tanggal Kedaluwarsa.
Produk yang tidak memiliki nomor izin edar BPOM sebaiknya dihindari karena belum dipastikan keamanan dan kualitasnya.
Selain itu, masyarakat juga diminta membeli produk herbal hanya dari sumber resmi dan terpercaya.
Produsen dan Distributor Terancam Sanksi Hukum
BPOM menegaskan akan terus melakukan pengawasan ketat terhadap peredaran obat herbal ilegal di Indonesia.
Selain melakukan penyitaan produk, aparat juga akan memproses secara hukum produsen maupun distributor yang terbukti melanggar aturan.
Baca Juga: Bukan Soal IQ Saja, Cara Bicara dan Pilihan Kata Ini Disebut Tanda Orang Berpikiran Cerdas
Langkah tegas tersebut dilakukan untuk melindungi masyarakat dari risiko kesehatan akibat penggunaan produk berbahaya.
BPOM juga mengajak masyarakat untuk aktif melaporkan apabila menemukan produk herbal mencurigakan yang beredar di lingkungan sekitar.
Peningkatan kesadaran masyarakat dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menekan peredaran jamu ilegal yang mengandung bahan kimia obat.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak semua produk herbal aman dikonsumsi, terutama jika menjanjikan efek cepat tanpa penjelasan ilmiah yang jelas.
Masyarakat diharapkan lebih bijak memilih produk kesehatan demi menjaga keselamatan dan kesehatan jangka panjang.