Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Wabah Ebola Langka Mengganas di Kongo, WHO Tetapkan Darurat Global Setelah 88 Orang Tewas dan Ratusan Kasus Bermunculan

Muhammad Azlan Syah • Senin, 18 Mei 2026 | 09:11 WIB
Wabah Ebola langka kembali mengguncang Afrika. WHO kini menetapkan status darurat internasional setelah puluhan orang meninggal dan virus mulai menyebar lintas negara. (detik.com)
Wabah Ebola langka kembali mengguncang Afrika. WHO kini menetapkan status darurat internasional setelah puluhan orang meninggal dan virus mulai menyebar lintas negara. (detik.com)

RADARBONANG.ID – Dunia kembali dibuat waspada setelah wabah Ebola baru menghantam Republik Demokratik Kongo dan menyebabkan puluhan korban jiwa dalam waktu singkat.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO bahkan telah menetapkan wabah tersebut sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional setelah jumlah kasus dan kematian terus meningkat.

Hingga pertengahan Mei 2026, wabah Ebola terbaru di Kongo dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 88 orang dengan ratusan kasus suspek lainnya yang masih dalam proses penanganan.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran global karena wabah kali ini dipicu oleh strain Bundibugyo, salah satu varian Ebola langka yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus.

Baca Juga: Baru Mulai Bangkit, Paul Pogba Kembali Dihantam Cedera hingga Absen Bela Monaco di Akhir Musim

Penyebaran Cepat Picu Alarm Dunia

Wabah pertama kali terdeteksi di Provinsi Ituri, wilayah timur Republik Demokratik Kongo yang berbatasan langsung dengan Uganda dan Sudan Selatan.

Daerah tersebut dikenal memiliki mobilitas penduduk yang tinggi karena aktivitas perdagangan dan pertambangan, sehingga memperbesar risiko penyebaran virus lintas wilayah.

WHO mengungkapkan sebagian besar kasus berasal dari Kongo, namun penyebaran kini mulai merambah negara tetangga seperti Uganda.

Bahkan, satu pasien asal Kongo dilaporkan meninggal dunia di Kampala setelah terinfeksi virus tersebut.

Laporan terbaru juga menyebutkan terdapat lebih dari 300 kasus suspek Ebola yang sedang dipantau otoritas kesehatan Afrika.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa situasi saat ini membutuhkan perhatian internasional karena masih terdapat ketidakpastian terkait jumlah sebenarnya pasien yang terinfeksi dan luas penyebaran wabah.

Meski demikian, WHO menegaskan kondisi tersebut belum masuk kategori pandemi seperti COVID-19 sehingga belum ada rekomendasi penutupan perbatasan internasional.

Strain Bundibugyo Dinilai Sangat Berbahaya

Kemunculan strain Bundibugyo menjadi perhatian utama para ahli kesehatan dunia.

Varian ini tergolong sangat jarang ditemukan dibanding strain Zaire yang selama ini lebih sering menyebabkan wabah Ebola di Afrika.

Menurut otoritas kesehatan Kongo, strain Bundibugyo memiliki tingkat kematian tinggi yang dapat mencapai 50 persen.

Yang lebih mengkhawatirkan, hingga kini belum tersedia vaksin maupun terapi spesifik untuk menangani virus tersebut.

Virus Bundibugyo pertama kali ditemukan di Uganda pada 2007 dan baru beberapa kali muncul sejak saat itu.

Wabah terbaru ini menjadi kasus ketiga yang melibatkan strain tersebut sejak pertama kali teridentifikasi.

Gejala Ebola sendiri umumnya diawali dengan demam tinggi, tubuh lemas, muntah, hingga pendarahan pada kondisi berat.

Virus dapat menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita seperti darah, muntah, maupun cairan lainnya.

WHO dan Otoritas Afrika Bergerak Cepat

Menghadapi lonjakan kasus yang terus bertambah, WHO bersama CDC Afrika dan pemerintah Kongo langsung mengaktifkan respons darurat kesehatan.

Tim medis dan petugas epidemiologi telah diterjunkan ke wilayah terdampak untuk melakukan pelacakan kontak, pemeriksaan laboratorium, serta pengawasan ketat terhadap kemungkinan penyebaran lebih luas.

CDC Afrika juga memperingatkan bahwa saat ini telah terjadi penularan komunitas aktif di beberapa wilayah terdampak sehingga risiko penyebaran masih sangat tinggi.

Selain itu, sejumlah organisasi kemanusiaan internasional mulai mempersiapkan bantuan medis dan dukungan logistik guna membantu proses penanganan wabah.

Situasi menjadi semakin rumit karena sebagian wilayah terdampak berada di daerah konflik bersenjata dan memiliki fasilitas kesehatan yang terbatas.

WHO menyebut tantangan terbesar saat ini adalah mendeteksi kasus lebih cepat dan mencegah penyebaran virus ke wilayah perkotaan yang lebih padat penduduk.

Baca Juga: Baru Mulai Bangkit, Paul Pogba Kembali Dihantam Cedera hingga Absen Bela Monaco di Akhir Musim

Dunia Diminta Tetap Waspada

Munculnya kembali Ebola dalam skala besar membuat banyak negara mulai meningkatkan pengawasan kesehatan di pintu masuk internasional.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga dilaporkan mulai memperketat pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional sebagai langkah antisipasi dini.

Meski belum ada laporan penyebaran ke Asia Tenggara, para ahli mengingatkan bahwa mobilitas manusia antarnegara dapat mempercepat penyebaran penyakit menular jika tidak diantisipasi sejak awal.

WHO meminta seluruh negara untuk meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat sistem deteksi dini, dan memastikan koordinasi internasional berjalan maksimal demi mencegah wabah berkembang menjadi krisis kesehatan global yang lebih besar.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#wabah ebola kongo 2026 #virus bundibugyo #WHO darurat internasional ebola #ebola uganda terbaru #korban ebola kongo