Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Waspada Hantavirus! Bukan Hanya Tikus, Hewan Ini Juga Bisa Menularkan Virus Mematikan ke Manusia

M Robit Bilhaq • Senin, 11 Mei 2026 | 09:14 WIB
hantavirus, gejala hantavirus, hewan pembawa hantavirus, wabah hantavirus, penyakit dari tikus (sumber: BBC, hewan pembawa Hantavirus)
hantavirus, gejala hantavirus, hewan pembawa hantavirus, wabah hantavirus, penyakit dari tikus (sumber: BBC, hewan pembawa Hantavirus)

RADARBONANG.ID - Wabah hantavirus yang dilaporkan terjadi di atas kapal pesiar MV Hondius kini menjadi perhatian dunia internasional.

Berdasarkan laporan terbaru, sedikitnya tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi virus tersebut.

Situasi ini membuat banyak pihak mulai kembali menyoroti bahaya hantavirus yang selama ini dikenal sebagai penyakit langka namun mematikan.

World Health Organization atau WHO bahkan telah mengeluarkan peringatan terkait kemungkinan munculnya kasus tambahan.

Hal itu disebabkan hantavirus memiliki masa inkubasi yang cukup panjang, bahkan dapat mencapai enam minggu sebelum gejala muncul.

Baca Juga: Menu MBG di Wonogiri Diduga Tercampur Puntung Rokok, Kasus Viral Ini Picu Evaluasi Keamanan Pangan Sekolah

Banyak orang mengira hantavirus hanya berasal dari tikus. Padahal, menurut laporan Euronews, virus ini juga dapat dibawa oleh berbagai hewan pengerat lainnya seperti tupai, hamster, hingga marmut.

Penularan Bisa Terjadi Lewat Udara

Hantavirus termasuk kelompok virus zoonosis, yaitu virus yang menyebar dari hewan ke manusia.

Penularannya umumnya terjadi ketika seseorang menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi oleh urine, air liur, atau kotoran hewan pengerat yang mengering.

Risiko penularan biasanya meningkat saat seseorang membersihkan area tertutup yang lama tidak digunakan, seperti gudang, loteng, rumah kosong, atau tempat yang pernah menjadi sarang tikus.

Saat kotoran atau urine kering tersapu atau terganggu, partikel virus dapat terlepas ke udara dan tanpa sadar terhirup oleh manusia.

Selain melalui udara, penularan juga dapat terjadi ketika seseorang menyentuh benda yang sudah terkontaminasi lalu memegang mulut, hidung, atau mata tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

Dalam beberapa kasus yang lebih jarang, gigitan tikus atau hewan pengerat lain juga dapat menjadi media penularan virus.

Bukan Hanya Menyerang Paru-paru

Menurut Centers for Disease Control and Prevention atau CDC, hantavirus dapat menyebabkan dua jenis penyakit serius pada manusia.

Penyakit pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu kondisi yang menyerang paru-paru dan sistem pernapasan.

Sedangkan yang kedua adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang berdampak pada ginjal.

Pada tahap awal, gejala hantavirus sering kali mirip flu biasa sehingga sulit dikenali.

Penderita biasanya mengalami demam, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, tubuh lemas, hingga gangguan pencernaan seperti mual, muntah, diare, dan nyeri perut.

Namun pada beberapa kasus, kondisi dapat berkembang dengan sangat cepat menjadi gangguan berat.

Pasien bisa mengalami sesak napas, batuk, penumpukan cairan di paru-paru, tekanan darah menurun drastis, hingga gagal jantung dan gagal napas.

Kasus Global Mencapai Ratusan Ribu

Ahli virus asal Australia, Paul Griffin menyebutkan bahwa secara global terdapat sekitar 150 ribu hingga 200 ribu kasus hantavirus setiap tahunnya.

Meski jumlah kasusnya cukup tinggi, penularan langsung dari manusia ke manusia disebut sangat jarang terjadi.

Hal yang menjadi tantangan terbesar justru terletak pada proses diagnosis awal.

Karena gejalanya sangat mirip flu atau infeksi virus biasa, banyak pasien baru terdeteksi setelah kondisi memburuk.

Sonja Bartolome menjelaskan bahwa pada fase awal, dokter maupun pasien sering kesulitan membedakan hantavirus dengan penyakit flu umum.

Kondisi inilah yang membuat hantavirus menjadi penyakit yang cukup berbahaya jika terlambat ditangani.

Belum Ada Obat Khusus

Hingga saat ini, dunia medis belum menemukan antivirus atau obat khusus untuk membunuh hantavirus secara langsung.

Pengobatan yang tersedia masih bersifat suportif, yaitu membantu tubuh pasien bertahan selama melawan infeksi.

Pasien dengan kondisi berat biasanya memerlukan bantuan oksigen, ventilator, hingga tindakan dialisis atau cuci darah apabila ginjal mulai mengalami gangguan serius.

Baca Juga: Sungai di London Berubah Jadi Lautan Pink, Mekarnya Ribuan Azalea Ciptakan Pemandangan Bak Negeri Dongeng


sumber: BBC, hewan pembawa Hantavirus

 

Karena belum adanya pengobatan spesifik, pencegahan menjadi langkah paling penting untuk mengurangi risiko infeksi.

Cara Mencegah Infeksi Hantavirus

Para ahli kesehatan menyarankan masyarakat untuk lebih berhati-hati saat membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus atau hewan pengerat.

Gunakan masker dan sarung tangan ketika membersihkan gudang, loteng, atau ruangan tertutup yang lama tidak dipakai.

Hindari menyapu kotoran tikus dalam keadaan kering karena dapat membuat partikel virus beterbangan di udara.

Sebaiknya gunakan cairan disinfektan terlebih dahulu sebelum membersihkan area tersebut.

Selain itu, menjaga kebersihan rumah dan menutup akses masuk tikus juga menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran virus.

Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap wabah hantavirus, masyarakat diimbau untuk tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap lingkungan yang berpotensi menjadi tempat berkembangnya hewan pengerat.

Karena terkadang, ancaman penyakit serius justru datang dari hal-hal kecil yang sering dianggap sepele di sekitar kita.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#hantavirus #gejala hantavirus #hewan pembawa hantavirus #wabah hantavirus #penyakit dari tikus