RADARBONANG.ID — Fenomena baru sedang ramai di kalangan para ibu muda Indonesia.
Jika dulu dapur terasa penuh drama saat jam memasak MPASI tiba, kini banyak moms justru terlihat lebih santai.
Rahasianya ada pada satu alat kecil yang belakangan viral di media sosial: slow cooker.
Di TikTok, Instagram, hingga grup WhatsApp parenting, konten tentang MPASI slow cooker terus bermunculan.
Baca Juga: Dirjen Bea Cukai Terseret Dugaan Kasus Suap, Purbaya Tegaskan Tidak Otomatis Langsung Diberhentikan
Mulai dari video “tinggal masukin bahan lalu tinggal tidur”, hingga menu bubur bayi super lembut ala hotel, semuanya sukses menarik perhatian para orang tua baru.
Banyak ibu menyebut alat ini sebagai “penyelamat hidup” karena dianggap membuat proses memasak MPASI jadi jauh lebih praktis.
Namun di sisi lain, ada juga yang menilai tren ini hanyalah gimmick parenting modern yang sebenarnya belum tentu mempermudah.
Lalu, apakah MPASI slow cooker benar-benar praktis atau cuma ikut hype media sosial?
Dari Dapur Chaos Jadi Tinggal Tunggu
Fase MPASI sering menjadi momen yang cukup melelahkan bagi banyak orang tua baru.
Selain harus memikirkan kandungan gizi, mereka juga dituntut menyiapkan makanan dengan tekstur tepat, higienis, dan fresh setiap hari.
Di sinilah slow cooker mulai mencuri perhatian.
Alat ini bekerja dengan suhu rendah dalam waktu lama sehingga makanan matang perlahan tanpa perlu terus diawasi.
Moms cukup memasukkan beras, sayur, protein, dan air ke dalam pot, lalu membiarkannya matang sendiri selama beberapa jam.
Hasilnya adalah bubur dengan tekstur lembut dan creamy yang dianggap cocok untuk bayi usia awal MPASI.
Tidak heran jika banyak ibu menyebut metode ini sebagai “anti-war dapur”.
“Dulu bikin MPASI bisa sejam sendiri karena harus ditunggu. Sekarang tinggal siapin malam, paginya langsung jadi,” tulis seorang pengguna TikTok yang videonya viral jutaan kali ditonton.
Kenapa Slow Cooker Mendadak Viral?
Ada beberapa alasan kenapa tren MPASI slow cooker bisa meledak begitu cepat di media sosial.
1. Moms Sekarang Cari yang Praktis
Generasi orang tua muda saat ini punya ritme hidup berbeda dibanding sebelumnya.
Banyak ibu tetap bekerja, menjalankan side hustle, atau aktif membuat konten sambil mengurus anak.
Karena itu, mereka cenderung mencari cara memasak yang hemat tenaga dan waktu.
Slow cooker dianggap cocok karena proses memasak bisa ditinggal sambil melakukan aktivitas lain.
2. Efek Konten Estetik di Media Sosial
Media sosial juga punya pengaruh besar terhadap tren parenting modern.
Video MPASI dengan tampilan bubur super halus, warna menarik, dan wadah lucu membuat banyak moms penasaran ingin mencoba.
Bahkan kini muncul istilah “meal prep MPASI aesthetic” yang ramai di TikTok.
Slow cooker dianggap mampu menghasilkan tekstur bubur lembut yang mirip dengan konten-konten viral tersebut.
3. Dinilai Lebih Efisien
Sebagian ibu merasa penggunaan slow cooker lebih praktis dibanding memasak di kompor sambil terus mengaduk bubur bayi.
Apalagi banyak yang memilih memasak dalam jumlah besar untuk stok beberapa hari sekaligus.
Hal itu dianggap lebih hemat tenaga dan waktu.
Tapi Tidak Semua Moms Cocok
Meski sedang viral, ternyata tidak semua orang tua merasa metode ini benar-benar memudahkan.
Beberapa ibu justru mengaku proses menyiapkan bahan tetap cukup memakan waktu.
Belum lagi bagian pot slow cooker sering harus dicuci ekstra karena bubur mudah menempel.
Ada juga kekhawatiran soal kandungan nutrisi makanan yang dimasak terlalu lama.
Selain itu, sebagian bayi ternyata tidak cocok dengan tekstur bubur yang terlalu lembut terus-menerus.
“Awalnya praktis, tapi anak malah susah naik tekstur karena kebanyakan bubur halus,” tulis seorang ibu di forum parenting online.
Ahli Ingatkan Jangan Cuma Ikut Tren
Di tengah viralnya MPASI slow cooker, para ahli gizi mengingatkan bahwa alat hanyalah media memasak.
Yang paling penting tetap kualitas nutrisi dan variasi makanan bayi.
MPASI ideal tetap harus mengandung karbohidrat, protein hewani, lemak, sayur, dan buah sesuai kebutuhan usia bayi.
Orang tua juga diingatkan agar tidak terlalu fokus pada tampilan makanan yang estetik untuk konten media sosial.
Karena pada akhirnya, bayi tidak membutuhkan MPASI viral.
Bayi membutuhkan makanan yang bergizi dan sesuai tahap perkembangannya.
Simbol Parenting Modern
Menariknya, tren slow cooker sebenarnya bukan cuma soal alat dapur.
Fenomena ini juga menggambarkan perubahan pola parenting generasi sekarang.
Banyak orang tua ingin mengurus anak dengan cara yang lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas.
Teknologi rumah tangga kini dianggap sebagai “partner” penting dalam mengasuh anak.
Mulai dari sterilizer otomatis, penghangat ASI pintar, hingga slow cooker MPASI, semuanya hadir untuk membantu orang tua menghadapi ritme hidup modern yang semakin sibuk.
Jadi Praktis atau Malah Ribet?
Jawabannya ternyata kembali ke gaya hidup masing-masing keluarga.
Bagi moms dengan aktivitas padat, slow cooker bisa menjadi penyelamat karena membuat proses memasak terasa lebih santai dan minim drama.
Namun bagi yang lebih nyaman memasak cepat dengan porsi harian, metode tradisional mungkin tetap terasa lebih simpel.
Yang jelas, tren MPASI slow cooker menunjukkan satu hal menarik: dunia parenting terus berubah mengikuti perkembangan zaman.
Dan di era media sosial sekarang, bahkan bubur bayi pun bisa berubah menjadi tren viral. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah