Banyak Orang Tua Masih Salah, Ini Waktu yang Tepat Bayi Mulai MPASI Menurut Ahli Kesehatan Anak

Siska Yudianti • Dipublikasikan Jumat, 8 Mei 2026 | 09:54 WIB
Banyak orang tua masih salah kaprah soal MPASI. Bayi yang sering nangis atau lihat makanan belum tentu siap makan lho! Memberi MPASI terlalu dini justru bisa memicu gangguan pencernaan hingga risiko alergi. Jadi sebenarnya kapan usia ideal bayi mulai MPASI? (ilustrasi)
Banyak orang tua masih salah kaprah soal MPASI. Bayi yang sering nangis atau lihat makanan belum tentu siap makan lho! Memberi MPASI terlalu dini justru bisa memicu gangguan pencernaan hingga risiko alergi. Jadi sebenarnya kapan usia ideal bayi mulai MPASI? (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Banyak orang tua masih menganggap bayi yang mulai sering menangis, melihat makanan orang dewasa, atau tampak terus lapar berarti sudah siap makan.

Akibatnya, tidak sedikit bayi yang diberi makanan pendamping ASI (MPASI) terlalu dini, bahkan sebelum usia 6 bulan.

Padahal, kebiasaan “asal suap” ini justru bisa berdampak pada sistem pencernaan bayi yang sebenarnya belum siap bekerja secara optimal.

Fenomena tersebut masih cukup sering terjadi di Indonesia.

Baca Juga: Final Liga Champions 2026 PSG vs Arsenal Digelar di Budapest, Duel Pembuktian Dua Raksasa Eropa

Ada orang tua yang percaya bayi akan cepat gemuk jika diberi pisang atau bubur lebih awal. Ada pula yang yakin bayi akan tidur lebih nyenyak setelah dikenalkan makanan padat sejak usia 4 bulan.

Padahal menurut para ahli kesehatan anak, langkah tersebut justru berisiko menimbulkan masalah kesehatan yang sering tidak disadari.

Usia 6 Bulan Jadi Waktu Ideal MPASI

Para ahli merekomendasikan MPASI dimulai saat bayi memasuki usia 6 bulan.

Pada fase ini, sistem pencernaan bayi dinilai sudah lebih matang dan mulai siap menerima makanan selain ASI.

Sebelum usia tersebut, ASI tetap menjadi sumber nutrisi terbaik dan paling lengkap untuk mendukung tumbuh kembang bayi.

Memberikan makanan terlalu cepat justru dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan, alergi makanan, hingga obesitas di kemudian hari.

Tidak sedikit orang tua terkecoh karena bayi tampak lahap menyusu atau terus ingin minum ASI.

Padahal, kondisi itu belum tentu menandakan bayi membutuhkan makanan padat.

Dalam banyak kasus, frekuensi menyusu yang tinggi justru normal terjadi saat bayi mengalami growth spurt atau lonjakan pertumbuhan.

Jangan Tertipu, Ini Tanda Bayi Benar-Benar Siap MPASI

Bayi yang siap MPASI biasanya menunjukkan beberapa tanda penting, bukan sekadar tertarik melihat orang lain makan.

Berikut beberapa tanda bayi mulai siap menerima makanan pendamping ASI:

Jika tanda-tanda tersebut belum muncul, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru memberikan makanan padat.

Karena pada dasarnya, kesiapan MPASI bukan hanya soal usia, tetapi juga kesiapan organ tubuh bayi.

Risiko MPASI Terlalu Dini yang Sering Diabaikan

Masih banyak orang tua mengira semakin cepat bayi makan, maka tubuhnya akan semakin sehat dan cepat besar.

Padahal, sistem cerna bayi di bawah usia 6 bulan belum sepenuhnya siap menerima makanan selain ASI.

Akibatnya, pemberian MPASI terlalu dini bisa memicu berbagai masalah kesehatan.

1. Gangguan Pencernaan

Perut bayi lebih rentan mengalami kembung, sembelit, hingga diare karena organ pencernaan belum berkembang sempurna.

2. Risiko Tersedak Lebih Tinggi

Kemampuan menelan bayi kecil belum matang sehingga makanan lebih mudah masuk ke saluran napas.

3. Memicu Risiko Alergi

Pengenalan makanan terlalu cepat juga dapat meningkatkan sensitivitas terhadap beberapa jenis makanan tertentu.

4. Asupan Nutrisi Tidak Optimal

MPASI dini bisa membuat bayi lebih sedikit minum ASI, padahal ASI masih menjadi sumber nutrisi utama di awal kehidupan.

Banyak Orang Tua Masih Percaya Mitos Lama

Salah satu mitos paling populer adalah bayi akan cepat gemuk jika diberi pisang atau bubur sejak usia 4 bulan.

Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar.

Ada juga mitos bahwa bayi yang sering menyusu berarti ASI ibunya tidak cukup.

Faktanya, bayi memang secara alami lebih sering menyusu pada periode tertentu sebagai bagian dari proses pertumbuhan.

Kesalahan memahami sinyal bayi inilah yang sering membuat orang tua buru-buru memulai MPASI sebelum waktunya.

MPASI Pertama Tidak Harus Mahal

Selain soal waktu pemberian, banyak orang tua juga sering merasa stres karena menganggap MPASI harus selalu berupa menu mahal dan rumit.

Padahal, MPASI pertama cukup fokus pada tiga hal penting: tekstur lembut, nutrisi seimbang, dan kebersihan makanan.

Beberapa bahan sederhana yang sering direkomendasikan antara lain:

Yang paling penting bukan harga makanannya, melainkan kandungan gizinya dan cara pengolahannya yang tepat.

Jangan Paksa Bayi Harus Langsung Banyak Makan

Pada tahap awal MPASI, bayi mungkin hanya mau makan beberapa sendok lalu menolak lagi.

Hal tersebut sebenarnya sangat normal.

Karena di fase ini, bayi sedang belajar mengenal rasa, tekstur, aroma, dan cara mengunyah makanan.

Banyak orang tua panik lalu memaksa anak makan lebih banyak.

Baca Juga: Mahfud Ungkap Respons Prabowo soal Reformasi Polri, Sempat Minta Diskusi Lagi di Akhir Pertemuan

Padahal, pengalaman makan pertama sebaiknya dibuat menyenangkan agar bayi tidak trauma saat makan di kemudian hari.

Kunci MPASI Bukan Cepat, Tapi Tepat

Memulai MPASI bukan soal siapa yang paling cepat memberi makan pada bayi.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan tubuh bayi benar-benar siap menerima makanan selain ASI.

Karena itu, usia 6 bulan bukan sekadar angka, melainkan fase penting ketika sistem pencernaan bayi mulai matang.

Jadi sebelum mengikuti saran orang sekitar atau tren di media sosial, orang tua sebaiknya memastikan kesiapan si kecil terlebih dahulu.

Jangan sampai niat ingin membuat bayi cepat besar justru berujung menimbulkan masalah kesehatan di masa depan. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
usia ideal MPASI bayi tanda bayi siap MPASI risiko MPASI dini makanan pendamping ASI kesehatan bayi