Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Lari Bukan Cuma Soal Olahraga, Gen Z Mulai Anggap Jogging sebagai ‘Terapi Murah’ di Tengah Hidup Sibuk

Widodo • Kamis, 7 Mei 2026 | 16:24 WIB
Awalnya cuma biar nggak rebahan terus… eh malah jadi candu sehat, Buat banyak Gen Z, lari sekarang bukan soal cepat atau kompetisi, tapi cara buat jaga badan sekaligus warasin pikiran. Nggak harus langsung jauh, yang penting konsisten dulu. (Foto:RRI/Novi Ulyana )
Awalnya cuma biar nggak rebahan terus… eh malah jadi candu sehat, Buat banyak Gen Z, lari sekarang bukan soal cepat atau kompetisi, tapi cara buat jaga badan sekaligus warasin pikiran. Nggak harus langsung jauh, yang penting konsisten dulu. (Foto:RRI/Novi Ulyana )

RADARBONANG.ID – Awalnya mungkin cuma karena bosan rebahan terus di kamar. Sepatu olahraga dipakai, playlist favorit diputar, lalu langkah pertama dimulai—pelan, canggung, bahkan kadang cuma kuat beberapa menit.

Tapi dari kebiasaan kecil itu, banyak anak muda mulai menemukan satu aktivitas sederhana yang ternyata punya efek besar: lari.

Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat tapi minim gerak, lari perlahan berubah jadi semacam “reset button” bagi banyak Gen Z.

Baca Juga: Ingin Haji Sejak Muda, Gen Z Dihadapkan pada Dilema Antara Panggilan Hati dan Kondisi Finansial

Tidak perlu alat mahal. Tidak harus punya tubuh atletis. Bahkan tidak perlu langsung kuat lari jauh.

Yang dibutuhkan sebenarnya cuma satu: mulai dulu.

Lari Sekarang Bukan Soal Kompetisi

Menariknya, tren lari di kalangan anak muda sekarang sudah berbeda dibanding dulu.

Kalau dulu lari identik dengan olahraga berat atau latihan atlet, sekarang justru lebih santai dan fleksibel.

Mau jogging ringan, jalan-lari, pace santai, atau sekadar muter kompleks beberapa kilometer—semuanya dianggap valid.

Buat banyak Gen Z, lari bukan lagi soal siapa paling cepat.

Ini soal konsisten bergerak dan menjaga diri tetap sehat di tengah aktivitas digital yang padat.

Aplikasi seperti Strava juga ikut membuat aktivitas lari terasa lebih menyenangkan.

Setiap langkah bisa tercatat, progres terlihat jelas, dan hasil lari bisa dibagikan ke media sosial sebagai bentuk motivasi.

Bahkan bagi sebagian orang, unggahan hasil jogging di Instagram kini jadi bagian dari gaya hidup sehat yang sedang tren.

Efeknya Tidak Cuma Buat Fisik

Meski terlihat sederhana, manfaat lari ternyata cukup besar bagi kesehatan tubuh.

Menurut World Health Organization, aktivitas fisik rutin seperti jogging dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, diabetes, hingga menjaga berat badan tetap ideal.

Namun yang menarik, banyak pelari pemula justru bertahan bukan karena ingin punya badan ideal semata.

Mereka menikmati efek mental setelah berlari.

Studi dari Harvard Medical School menyebutkan bahwa lari dapat memicu pelepasan endorfin, hormon yang membantu meningkatkan mood dan mengurangi stres.

Karena itu, tidak sedikit orang yang menyebut lari sebagai “terapi murah”.

Setelah berlari, pikiran terasa lebih ringan, tubuh lebih segar, dan suasana hati membaik.

Konsistensi Lebih Penting daripada Ambisi

Kesalahan paling umum yang sering dialami pemula adalah terlalu bersemangat di awal.

Baru mulai dua hari langsung target lari 5 kilometer setiap hari.

Akibatnya tubuh kelelahan, cedera, lalu akhirnya berhenti total.

Padahal, inti dari kebiasaan lari bukan soal memaksa tubuh bekerja keras.

Kuncinya justru ada pada konsistensi.

Mulai dari jarak pendek, intensitas ringan, lalu meningkat perlahan seiring tubuh beradaptasi.

Menurut American Heart Association, olahraga intensitas sedang yang dilakukan rutin jauh lebih efektif dibanding latihan berat yang hanya dilakukan sesekali.

Karena itu, lari santai tiga kali seminggu sering kali lebih baik daripada memaksakan diri setiap hari lalu berhenti di tengah jalan.

Lari Jadi Waktu untuk “Napas”

Banyak anak muda juga mulai menjadikan waktu lari sebagai momen untuk “kabur sebentar” dari kebisingan digital.

Ada yang lari sambil mendengarkan lagu-lagu Taylor Swift, ada juga yang memilih playlist Drake untuk menjaga mood tetap naik sepanjang perjalanan.

Sebagian orang memakai waktu jogging untuk berpikir, menenangkan pikiran, atau sekadar menikmati udara pagi tanpa notifikasi HP yang terus berbunyi.

Lari jadi waktu untuk sendirian tanpa merasa kesepian.

Dan mungkin itu salah satu alasan kenapa kebiasaan ini terasa begitu “nagih”.

Dari Kebiasaan Jadi Lifestyle

Pelan-pelan, lari berubah bukan hanya aktivitas olahraga, tapi bagian dari identitas dan gaya hidup anak muda.

Mulai dari memilih sepatu running, mengatur jadwal jogging, mencari rute favorit, sampai ikut event fun run bersama teman-teman.

Semua menjadi bagian dari lifestyle sehat yang kini semakin populer.

Baca Juga: Bukan Cedera, Plester di Telinga Pemain Bayern Munchen Ternyata Bagian dari Teknologi Modern Sepak Bola

Di tengah dunia yang serba instan, lari justru mengajarkan proses.

Tidak ada hasil yang datang dalam semalam, tapi ada perubahan kecil yang terasa nyata jika dilakukan terus-menerus.

Dan mungkin itulah alasan banyak orang akhirnya jatuh cinta pada lari.

Karena pada akhirnya, maju sedikit setiap hari tetap jauh lebih baik daripada diam di tempat.

Jadi kalau hari ini masih ragu buat mulai, mungkin jawabannya memang sesederhana ini: pakai sepatu, keluar rumah, lalu ambil langkah pertama.

Sisanya, biarkan kaki yang bercerita. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#jogging gen z #gaya hidup sehat anak muda #olahraga lari #lari untuk kesehatan #manfaat lari