RADARBONANG.ID - Indonesia menghadapi tantangan besar dalam upaya menghapus malaria.
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa jumlah kasus malaria terus meningkat dalam setahun terakhir.
Hingga 2025, total kasus malaria di Indonesia telah melampaui angka 700 ribu.
Angka ini melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 543 ribu kasus.
Lonjakan ini menjadi sinyal kuat bahwa penanganan malaria masih membutuhkan perhatian serius.
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine, menyebut bahwa tahun 2025 menjadi periode dengan jumlah temuan kasus tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Papua Jadi Kunci Utama Eliminasi Malaria
Dalam upaya mencapai target Indonesia bebas malaria pada 2030, wilayah Tanah Papua menjadi fokus utama.
Hal ini bukan tanpa alasan. Sekitar 95% kasus malaria nasional berasal dari wilayah tersebut, yang mencakup enam provinsi di kawasan timur Indonesia.
Kondisi ini menjadikan Papua sebagai penentu utama keberhasilan program eliminasi malaria nasional.
Jika angka kasus di wilayah ini berhasil ditekan, maka dampaknya akan sangat signifikan terhadap penurunan angka secara keseluruhan.
Kemajuan Ada, Tapi Tantangan Masih Besar
Meski menghadapi lonjakan kasus, pemerintah mencatat adanya perkembangan positif.
Hingga 2026, sekitar 412 dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia telah berhasil mencapai status bebas malaria.
Artinya, sekitar 80% wilayah Indonesia sudah terbebas dari penyakit ini. Namun, keberhasilan tersebut belum merata.
Sebagian besar tantangan kini terkonsentrasi di wilayah timur, terutama daerah dengan kondisi geografis yang sulit dijangkau dan akses layanan kesehatan yang terbatas.
Faktor Penyebab Lonjakan Kasus
Lonjakan kasus malaria tidak terjadi tanpa sebab. Menurut para ahli, ada beberapa faktor utama yang memicu peningkatan ini.
Pertama, mobilitas masyarakat yang tinggi membuat penyebaran penyakit menjadi lebih cepat.
Kedua, perubahan iklim turut menciptakan kondisi ideal bagi berkembangnya nyamuk pembawa malaria.
Malaria sendiri merupakan penyakit akibat infeksi parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina.
Gejala yang ditimbulkan antara lain demam tinggi, menggigil, sakit kepala, hingga nyeri otot.
Dalam kondisi tertentu, penyakit ini bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat.
Kelompok Paling Rentan Terpapar
Tidak semua orang memiliki risiko yang sama. Ada beberapa kelompok yang lebih rentan terhadap malaria, di antaranya mereka yang tinggal atau bepergian ke daerah endemis.
Selain itu, masyarakat yang tinggal di sekitar genangan air atau lingkungan dengan sanitasi kurang baik juga memiliki risiko lebih tinggi.
Aktivitas di luar ruangan pada malam hari—ketika nyamuk lebih aktif—juga meningkatkan peluang terpapar penyakit ini.
Upaya Pengendalian yang Terus Ditingkatkan
Pemerintah tidak tinggal diam. Berbagai strategi telah dilakukan untuk menekan penyebaran malaria, mulai dari pendekatan medis hingga perubahan perilaku masyarakat.
Upaya pengendalian populasi nyamuk dilakukan dengan berbagai cara, seperti penggunaan larvasida, pelepasan ikan pemakan jentik, hingga penanaman tanaman pengusir nyamuk seperti serai dan lavender.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga menjadi kunci penting.
Perubahan kebiasaan hidup, seperti penggunaan kelambu dan menjaga kebersihan lingkungan, dinilai sangat efektif dalam memutus rantai penularan.
Indonesia di Peta Global Malaria
Dalam skala internasional, Indonesia masih berada di posisi yang cukup memprihatinkan.
Saat ini, Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara dengan kasus malaria tertinggi di kawasan Pasifik Barat, tepat di bawah Papua Nugini.
Secara global, malaria masih menjadi ancaman serius dengan sekitar 282 juta kasus yang tersebar di lebih dari 80 negara. Sebagian besar kasus tersebut terjadi di benua Afrika.
Butuh Kolaborasi Semua Pihak
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa pemberantasan malaria tidak bisa dilakukan oleh sektor kesehatan saja.
Baca Juga: Mitos atau Fakta: Minuman Soda Bisa Memadamkan Api dalam Kondisi Darurat?
Dibutuhkan kerja sama lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, dunia usaha, hingga masyarakat luas.
Tanpa kolaborasi yang kuat, target bebas malaria pada 2030 akan sulit tercapai.
Target 2030: Mimpi atau Kenyataan?
Dengan waktu yang semakin sempit, Indonesia harus bergerak lebih cepat dan terarah.
Fokus utama kini adalah menekan kasus di Papua sebagai episentrum penyebaran malaria.
Jika strategi berjalan efektif dan kolaborasi terjalin dengan baik, bukan tidak mungkin Indonesia benar-benar bisa mencapai status bebas malaria pada 2030.
Namun jika tidak, lonjakan kasus seperti yang terjadi saat ini bisa menjadi penghambat besar dalam perjalanan menuju target tersebut.
Editor : Muhammad Azlan Syah