Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Hapus Label 'Makanan Jahat', dr Nadhira Afifa: Diet Itu Jaga Otot, Bukan Siksaan Pantang Nasi

Nadia Nur Riyadotul Aicha • Rabu, 22 April 2026 | 09:10 WIB
Pola makan konsisten dan seimbang lebih penting daripada diet ekstrem untuk menjaga kesehatan tubuh dan metabolisme. (sumber : freepik)
Pola makan konsisten dan seimbang lebih penting daripada diet ekstrem untuk menjaga kesehatan tubuh dan metabolisme. (sumber : freepik)

 

RADARBONANG.ID – Ungkapan “you are what you eat” kerap dipahami secara sempit, seolah kesehatan hanya ditentukan oleh apa yang dikonsumsi dalam satu waktu.

Padahal, menurut Nadhira Afifa, spesialis gizi klinik, kualitas hidup lebih ditentukan oleh pola makan jangka panjang yang konsisten.

Dalam perbincangan di kanal YouTube Nikita Willy Official, ia menekankan bahwa pendekatan ekstrem dalam diet justru sering menimbulkan masalah baru, baik dari sisi fisik maupun psikologis.

Baca Juga: Iran Balas Penyitaan Kapal dengan Serangan Drone ke Kapal AS di Teluk Oman, Ketegangan Memanas

Pola Makan Lebih Penting dari Pantangan

Banyak orang menganggap hidup sehat berarti menghindari makanan tertentu seperti nasi atau gula sepenuhnya.

Namun, Nadhira Afifa menegaskan bahwa tubuh tetap membutuhkan keseimbangan nutrisi.

Karbohidrat, protein, dan lemak memiliki peran masing-masing dalam menjaga fungsi tubuh.

Menghilangkan salah satu makronutrien secara total justru berisiko mengganggu metabolisme dan keseimbangan hormon.

“Tidak ada makanan yang harus dipantang 100 persen. Yang penting adalah bagaimana pola makannya secara keseluruhan,” jelasnya.

Pendekatan ini dikenal sebagai mindful eating, yaitu kesadaran dalam memilih dan mengonsumsi makanan tanpa tekanan atau rasa bersalah berlebihan.

Diet Ekstrem Picu Efek Yoyo

Salah satu kesalahan umum dalam diet adalah mengejar penurunan berat badan secara cepat.

Hal ini sering berujung pada fenomena diet yoyo, di mana berat badan turun drastis lalu naik kembali dalam waktu singkat.

Menurut Nadhira Afifa, penurunan berat badan yang ideal berkisar antara 0,5 hingga 1 kilogram per minggu.

Penurunan yang terlalu cepat justru berpotensi mengurangi massa otot, bukan lemak. Padahal, otot memiliki peran penting dalam membakar kalori.

“Kalau ototnya turun, metabolisme ikut melambat. Akhirnya berat badan lebih mudah naik lagi,” ujarnya.

Karena itu, menjaga massa otot melalui asupan protein yang cukup dan aktivitas fisik menjadi kunci penting dalam program diet yang sehat.

Faktor Emosional Tak Bisa Diabaikan

Selain pola makan, kondisi psikologis juga berpengaruh besar terhadap berat badan.

Fenomena seperti emotional eating atau makan karena stres sering kali menjadi pemicu utama kebiasaan makan berlebihan.

Saat stres, tubuh memproduksi hormon kortisol yang meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak.

Hal ini merupakan respons alami tubuh, namun perlu dikendalikan.

Nadhira Afifa menyarankan pendekatan yang lebih realistis, seperti mengatur porsi makan dan memilih alternatif yang lebih sehat.

Misalnya, mengganti camilan manis dengan yoghurt dan buah, tanpa harus melarang diri secara total.

Pendekatan ini dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan diet ketat yang sulit dipertahankan.

Pentingnya Hubungan Sehat dengan Makanan

Cara seseorang memandang makanan sering kali terbentuk sejak kecil.

Kebiasaan memberi label “makanan baik” atau “makanan buruk” dapat memengaruhi hubungan emosional seseorang dengan makanan di masa dewasa.

Menurut Nadhira Afifa, penting untuk membangun hubungan yang lebih netral dan sehat dengan makanan.

Dengan begitu, seseorang tidak mudah merasa bersalah saat makan, sekaligus tetap mampu mengontrol asupan secara bijak.

Nutrisi Penting untuk Perempuan

Dalam setiap fase kehidupan, perempuan memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda.

Untuk menjaga kesehatan jangka panjang, perhatian terhadap asupan vitamin dan mineral menjadi sangat penting.

Nadhira Afifa menyarankan pemeriksaan rutin kadar Vitamin D, mengingat banyak perempuan di Indonesia mengalami defisiensi tanpa disadari.

Selain itu, asupan antioksidan seperti Vitamin C, Vitamin E, serta Omega-3 juga penting untuk mengurangi peradangan dalam tubuh dan mendukung kesehatan sel.

“Kita tidak mengejar awet muda, tapi healthy aging,” jelasnya.

Baca Juga: Viral Guru Ngaji di Bogor Diduga Lakukan Pelecehan, Lima Korban Sudah Diperiksa Polisi

Fokus pada Kesehatan Jangka Panjang

Konsep healthy aging atau penuaan sehat menjadi tujuan utama dalam menjaga pola makan.

Penuaan adalah proses alami yang tidak bisa dihindari, tetapi kualitasnya dapat ditentukan oleh gaya hidup.

Dengan pola makan seimbang, pengelolaan stres, dan aktivitas fisik yang cukup, seseorang dapat menjalani proses penuaan dengan kondisi tubuh yang tetap optimal.

Pada akhirnya, diet bukan soal membatasi diri secara ekstrem, melainkan tentang membangun kebiasaan yang berkelanjutan. Kesehatan tidak ditentukan oleh satu jenis makanan, tetapi oleh konsistensi dalam menjalani pola hidup yang seimbang. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#pola makan seimbang #dr Nadhira Afifa #diet yoyo #diet sehat #mindful eating