RADARBONANG.ID – Banyak orang menganggap trauma sebagai luka batin yang muncul akibat pengalaman buruk di masa lalu.
Padahal menurut psikiater sekaligus penulis buku Pulih dari Trauma, Jiemi Ardian, trauma tidak hanya berhenti pada pengalaman emosional seseorang.
Ia menjelaskan bahwa trauma dapat meninggalkan jejak dalam sistem saraf dan bahkan berpotensi diwariskan kepada generasi berikutnya.
Hal tersebut ia ungkapkan dalam perbincangan di kanal YouTube Uncensored bersama jurnalis Andini Effendi.
Dalam diskusi tersebut, dr Jiemi menjelaskan bagaimana otak manusia memproses pengalaman hidup melalui memori yang kemudian memengaruhi cara seseorang memahami realitas.
Trauma Berasal dari Memori Emosional yang Kuat
Menurut dr Jiemi, otak manusia bekerja dengan memanfaatkan memori untuk menilai dan merespons situasi di sekitarnya. Setiap pengalaman yang memiliki muatan emosional kuat akan tersimpan lebih dalam di dalam otak.
Peristiwa yang menyenangkan tentu dapat meninggalkan kenangan positif. Namun jika pengalaman tersebut bersifat menyakitkan, menakutkan, atau menimbulkan tekanan emosional tinggi, memori tersebut bisa berkembang menjadi trauma.
“Otak menggunakan memori yang dia punya untuk mempersepsi realitas. Kalau kejadiannya kuat, meaningful, atau penuh emosional, jelas otak kita akan mengingatnya lebih kuat. Tapi karena rasanya tidak enak, kita menyebutnya trauma,” jelas dr Jiemi.
Ia menambahkan bahwa trauma sering kali tidak hilang begitu saja meskipun waktu telah berlalu lama. Jika memori tersebut tidak diproses secara sehat, ia bisa muncul kembali saat seseorang menghadapi situasi yang mirip dengan pengalaman masa lalu.
Akibatnya, seseorang dapat merasakan kecemasan, ketakutan, bahkan reaksi emosional berlebihan tanpa memahami penyebabnya secara jelas.
Penelitian Menunjukkan Trauma Bisa Diturunkan
Fakta yang paling menarik dari penjelasan dr Jiemi adalah kemungkinan trauma diwariskan kepada generasi berikutnya. Ia mengutip penelitian ilmiah pada hewan yang menunjukkan bahwa pengalaman emosional tertentu dapat memengaruhi ekspresi genetik.
Dalam salah satu penelitian, tikus dilatih untuk mengasosiasikan aroma tertentu dengan pengalaman yang menakutkan. Setelah beberapa waktu, tikus tersebut menunjukkan reaksi takut setiap kali mencium aroma tersebut.
Yang mengejutkan, anak-anak tikus yang lahir kemudian juga menunjukkan reaksi takut terhadap aroma yang sama, meskipun mereka tidak pernah mengalami pengalaman traumatis tersebut secara langsung.
Menurut dr Jiemi, temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman emosional ekstrem dapat meninggalkan jejak biologis yang diwariskan kepada generasi selanjutnya.
“Trauma diturunkan bahkan tanpa cerita, tanpa kisah. Saya percaya kejadian besar seperti konflik atau bencana bisa diturunkan secara genetik. Karena itu tidak cukup hanya dengan terapi person-to-person,” ungkapnya.
Pada manusia, fenomena ini dapat terlihat dari pola emosi atau kecemasan yang diwariskan secara tidak langsung melalui pola pengasuhan maupun kondisi biologis.
Hubungan Mengejutkan Antara Gula dan Kesehatan Mental
Selain membahas trauma dari sudut pandang psikologi dan genetika, dr Jiemi juga menyinggung faktor lain yang jarang dikaitkan dengan kesehatan mental, yakni pola makan.
Ia menjelaskan bahwa konsumsi gula berlebihan dapat memicu inflamasi dalam tubuh, termasuk pada otak. Peradangan tersebut dapat memengaruhi keseimbangan kimia otak yang berkaitan dengan suasana hati.
Kondisi ini pada akhirnya dapat memperburuk gangguan mental seperti depresi dan kecemasan.
“Depression dan anxiety itu juga dipicu oleh oksidan dan inflamasi di kepala, dan gula bisa berkontribusi ke arah sana,” jelasnya.
Menurutnya, gula sering kali menjadi “musuh tersembunyi” dalam gaya hidup modern karena keberadaannya sangat mudah ditemukan dalam berbagai makanan dan minuman sehari-hari.
Berani Mencari Bantuan untuk Memutus Rantai Trauma
Di akhir perbincangan, dr Jiemi menekankan bahwa proses pemulihan trauma tidak selalu mudah. Banyak orang mencoba mengatasi luka batin sendirian dengan cara memaafkan atau melupakan masa lalu.
Namun menurutnya, langkah tersebut tidak selalu cukup jika trauma sudah terlalu dalam memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk tidak ragu mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater apabila strategi mandiri tidak lagi efektif.
Bagi dr Jiemi, mengakui kerentanan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah penting untuk proses penyembuhan.
Lebih jauh lagi, upaya pemulihan trauma tidak hanya bermanfaat bagi individu yang mengalaminya, tetapi juga bagi generasi berikutnya. Dengan menyembuhkan luka batin, seseorang dapat membantu memutus rantai trauma agar tidak terus diwariskan kepada anak cucu.
Editor : Muhammad Azlan Syah