RADARBONANG.ID – Ribuan warga yang menjadi penyintas banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, masih menghadapi ancaman kesehatan serius setelah bencana yang terjadi beberapa waktu lalu.
Kondisi lingkungan pengungsian yang padat, terbatasnya akses air bersih, serta buruknya sanitasi memicu lonjakan berbagai penyakit, mulai dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), diare, hingga gangguan kulit.
Dalam tiga bulan terakhir, tenaga kesehatan mencatat peningkatan signifikan kasus penyakit di kalangan warga terdampak.
Situasi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena dapat berkembang menjadi krisis kesehatan jika tidak segera ditangani secara menyeluruh.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Meroket, Tembus Rp3 Juta per Gram
Lonjakan Kasus Penyakit di Pengungsian
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Aceh Tamiang, Mulianto, mengungkapkan bahwa jumlah kasus penyakit yang tercatat di wilayah tersebut mencapai puluhan ribu.
Sepanjang periode pascabanjir, tercatat sebanyak 15.632 kasus ISPA yang menyerang para penyintas.
Penyakit ini menjadi yang paling banyak dialami warga karena kondisi udara yang lembap, kepadatan pengungsian, serta paparan debu dan asap.
Selain itu, 6.848 kasus penyakit kulit juga ditemukan, yang sebagian besar disebabkan oleh air banjir yang tercemar serta kebersihan lingkungan yang sulit dijaga.
Kasus diare akut juga cukup tinggi dengan jumlah 2.843 kasus, sementara influenza tercatat mencapai 1.383 kasus.
Tak hanya itu, tenaga kesehatan juga menemukan 326 kasus suspek demam tifoid atau tifus. Jumlah tersebut dikhawatirkan dapat berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB) apabila tidak segera ditangani dengan pengawasan ketat.
Menurut Mulianto, kondisi tersebut tidak terlepas dari lingkungan pengungsian yang belum sepenuhnya pulih dari dampak bencana.
“Banyak warga masih tinggal di tempat sementara dengan fasilitas sanitasi terbatas. Hal ini meningkatkan risiko penularan berbagai penyakit,” jelasnya.
Lingkungan Pengungsian Jadi Faktor Utama
Banjir yang melanda Aceh Tamiang tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum, tetapi juga sistem sanitasi masyarakat.
Air bersih menjadi sulit diakses di beberapa wilayah, sementara pengelolaan limbah dan sampah belum sepenuhnya optimal.
Situasi tersebut membuat warga lebih rentan terpapar bakteri, virus, maupun parasit yang dapat menyebabkan berbagai penyakit.
Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan terkena dampaknya. Sistem kekebalan tubuh mereka yang relatif lebih lemah membuat risiko komplikasi penyakit menjadi lebih tinggi.
Selain penyakit menular, para tenaga medis juga mulai mengkhawatirkan potensi meningkatnya penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan jantung pada para penyintas yang mengalami stres berkepanjangan setelah bencana.
Upaya Penanganan dari Pemerintah
Untuk menekan penyebaran penyakit, Dinas Kesehatan Aceh Tamiang telah melakukan berbagai langkah penanganan. Salah satunya melalui kegiatan pengobatan massal bagi para penyintas banjir.
Tenaga kesehatan juga aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebagai langkah sederhana namun efektif untuk mencegah penularan penyakit.
Selain itu, Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dalam pengelolaan sampah di kawasan terdampak banjir guna menjaga kebersihan lingkungan.
Upaya tersebut juga didukung oleh Tim Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) dari Kementerian Kesehatan yang telah turun sejak awal masa tanggap darurat.
Tim ini berfokus pada pelayanan kesehatan bagi kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, serta lansia.
Tantangan Pemulihan Fasilitas Kesehatan
Meski kondisi pengungsian mulai berkurang, tantangan besar masih dihadapi dalam proses pemulihan fasilitas kesehatan.
Sejak 1 Maret 2026, posko kesehatan darurat resmi ditutup, dan layanan kesehatan kembali dialihkan ke 12 puskesmas yang ada di Aceh Tamiang.
Namun, sebagian fasilitas tersebut belum dapat berfungsi secara maksimal. Sebanyak 12 puskesmas dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat banjir besar yang terjadi pada Desember 2025 lalu.
Kerusakan fasilitas kesehatan tersebut membuat pelayanan medis kepada masyarakat menjadi kurang optimal.
Pemerintah daerah saat ini tengah berupaya mempercepat proses rehabilitasi dan perbaikan fasilitas kesehatan agar pelayanan medis dapat kembali berjalan normal.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, diharapkan kondisi kesehatan para penyintas banjir Aceh Tamiang dapat segera pulih dan risiko penyebaran penyakit dapat ditekan.
Baca Juga: Ramadan Jadi “Bootcamp” Frugal Living: Saat Puasa Diam-Diam Mengajarkan Hidup Lebih Hemat
Pentingnya Kewaspadaan Pascabencana
Bencana banjir sering kali tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga ancaman kesehatan yang berkepanjangan.
Oleh karena itu, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, sanitasi, serta pola hidup sehat menjadi hal yang sangat penting.
Kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, serta masyarakat menjadi kunci utama untuk mencegah terjadinya krisis kesehatan pascabencana.
Jika upaya pencegahan dan penanganan dilakukan secara konsisten, risiko wabah penyakit di wilayah terdampak dapat diminimalkan sehingga para penyintas dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih sehat dan aman.
Editor : Muhammad Azlan Syah