RADARBONANG.ID – Penggunaan perangkat audio nirkabel atau True Wireless Stereo (TWS) kini semakin populer di kalangan masyarakat.
Perangkat ini banyak digunakan untuk mendengarkan musik, menonton video, hingga menemani aktivitas sehari-hari.
Namun di balik kemudahannya, penggunaan TWS yang tidak bijak ternyata dapat menimbulkan risiko kesehatan, khususnya pada organ pendengaran.
Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan banyak orang adalah menggunakan TWS hingga tertidur.
Kebiasaan tersebut ternyata dapat berdampak buruk bagi kesehatan telinga jika dilakukan terus-menerus.
Dokter spesialis THT dari Rumah Sakit Akademik UGM, Mahatma Sotya Bawono, Sp.THT-KL atau yang akrab disapa dr Boni, mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menggunakan perangkat audio tersebut.
Menurutnya, organ pendengaran manusia memiliki batas kemampuan kerja yang harus dijaga agar tidak mengalami penurunan fungsi terlalu cepat.
Organ Telinga Memiliki Batas Kemampuan
Dalam perbincangan bersama Tirta Mandira Hudhi, dr Boni menjelaskan bahwa telinga manusia memiliki masa pakai yang panjang, tetapi tetap bisa mengalami penurunan fungsi seiring waktu.
Ia menjelaskan bahwa organ telinga sebenarnya hanya berkembang hingga usia sekitar 12 bulan. Setelah itu, manusia menggunakan organ yang sama sepanjang hidupnya.
Karena itu, cara seseorang menggunakan telinganya akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan pendengaran di masa depan.
“Telinga kita itu hanya tumbuh sampai usia sekitar 12 bulan. Setelah itu organ yang sama kita pakai sampai seumur hidup, sehingga ada proses penurunan fungsi tergantung bagaimana kita menggunakannya,” jelas dr Boni.
Ia mengibaratkan telinga seperti mesin kendaraan yang terus bekerja. Jika dipaksa bekerja terlalu keras atau terlalu lama, maka organ tersebut bisa mengalami “keausan” lebih cepat.
Bahaya Tidur Menggunakan TWS
Salah satu kebiasaan yang menjadi perhatian adalah penggunaan TWS saat tidur. Banyak orang yang mendengarkan musik atau podcast hingga tertidur dengan earbud masih terpasang di telinga.
Menurut dr Boni, meskipun seseorang sudah tertidur, organ koklea di dalam telinga tetap aktif menerima dan memproses suara yang masuk.
Artinya, telinga tetap bekerja selama perangkat tersebut masih menyala.
Jika seseorang tertidur selama delapan jam dengan TWS yang masih memutar suara, maka selama delapan jam itu pula telinga terus bekerja tanpa henti.
Ia bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai “tuno rugi”, karena suara yang diputar tidak lagi dinikmati oleh pendengar, tetapi telinga tetap menerima beban suara.
“Bayangkan kalau delapan jam suara terus masuk, organ telinga tidak pernah benar-benar beristirahat,” jelasnya.
Terapkan Aturan 60-60
Untuk mencegah kerusakan pendengaran, dr Boni menyarankan masyarakat menerapkan aturan sederhana yang dikenal sebagai Rule of 60.
Aturan ini merupakan pedoman penggunaan perangkat audio agar tetap aman bagi telinga.
Prinsipnya adalah tidak menggunakan perangkat audio lebih dari 60 menit secara terus-menerus dan menjaga volume suara tidak lebih dari 60 persen dari kapasitas maksimal perangkat.
Dengan cara ini, telinga memiliki waktu untuk beristirahat sehingga risiko kelelahan organ pendengaran dapat diminimalkan.
Pentingnya Penggunaan Teknologi Secara Bijak
Selain risiko penurunan fungsi pendengaran, penggunaan TWS yang tidak tepat juga dapat memicu masalah kesehatan lainnya.
Baca Juga: Lebaran 2026 Versi Muhammadiyah Sudah Ditetapkan, Ini Penjelasan Metode Hisab dan Tanggal Pastinya
Misalnya infeksi telinga akibat perangkat yang jarang dibersihkan atau penggunaan dalam waktu terlalu lama.
Karena itu, dr Boni mengingatkan generasi muda untuk lebih bijak dalam menggunakan teknologi audio.
Menurutnya, menjaga kesehatan telinga sejak dini sangat penting agar fungsi pendengaran tetap optimal hingga usia lanjut.
“Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Kalau kita sudah memilih gaya hidup tertentu, maka kita juga harus siap menjaga kesehatannya,” pesannya.
Kesadaran akan pentingnya penggunaan perangkat audio secara sehat menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan telinga di tengah gaya hidup modern yang semakin bergantung pada teknologi.
Editor : Muhammad Azlan Syah