RADARBONANG.ID – Bagi penderita asam lambung kronis atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), puasa kerap dianggap sebagai tantangan berat.
Kekhawatiran utama biasanya muncul karena perut dibiarkan kosong selama berjam-jam, sementara pada hari biasa penderita GERD dianjurkan makan teratur agar gejala tidak kambuh.
Tak sedikit pula yang beranggapan bahwa penderita GERD sebaiknya tidak berpuasa demi menghindari risiko kesehatan. Namun, benarkah demikian?
Secara medis, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat memberikan manfaat bagi sistem pencernaan, termasuk membantu menstabilkan produksi asam lambung.
Baca Juga: Formalin, Boraks, hingga Pewarna Tekstil Mengintai Takjil Anda! Konsumen Wajib Tahu Ini
Hal ini juga ditegaskan oleh dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, Aru Ariadno.
Menurut dr. Aru, puasa di bulan Ramadan justru dapat membantu proses pemulihan pada sebagian penderita GERD.
Kuncinya terletak pada pengendalian stres dan kestabilan psikis selama menjalani ibadah.
Faktor Psikis Dominan Picu GERD
Dr. Aru menjelaskan bahwa mayoritas kasus naiknya asam lambung berkaitan dengan faktor psikis atau yang dikenal sebagai dispepsia fungsional.
Dalam kondisi ini, sering kali tidak ditemukan kerusakan organ secara nyata, tetapi gejala tetap muncul akibat stres, kecemasan, atau tekanan mental.
Puasa, kata dia, melatih seseorang untuk lebih tenang, sabar, dan mampu mengendalikan emosi. Ketika pikiran lebih stabil, produksi asam lambung pun cenderung lebih terkontrol.
“Dengan puasa, seseorang belajar mengelola stres dan menahan diri. Dampaknya, gejala asam lambung bisa mereda, bahkan pada beberapa kasus dapat membaik secara signifikan,” jelasnya.
Meski demikian, dr. Aru tetap mengingatkan bahwa konsultasi medis sebelum berpuasa sangat dianjurkan, terutama bagi pasien dengan riwayat GERD berat.
Penderita yang sudah mengalami komplikasi seperti ulkus gaster (luka pada lambung) mungkin memerlukan evaluasi khusus dan pengawasan ketat dari dokter.
Atur Pola Makan, Bukan Balas Dendam
Selain faktor mental, pengaturan pola makan selama Ramadan menjadi kunci utama agar puasa berjalan nyaman bagi penderita GERD.
Dr. Aru menegaskan tidak ada suplemen khusus yang wajib dikonsumsi. Namun, disiplin dalam memilih makanan saat sahur dan berbuka sangat penting.
Saat sahur, penderita GERD disarankan mengonsumsi makanan kaya serat dan protein dengan porsi seimbang.
Hindari kopi, makanan pedas, ketan, tape, serta makanan terlalu berlemak atau bersantan.
Menu sahur ideal sebaiknya tidak terlalu berat, tetapi cukup untuk menjaga energi sepanjang hari. Asupan cairan juga harus diperhatikan agar tubuh tetap terhidrasi.
Ketika berbuka, hindari kebiasaan “balas dendam” dengan makan berlebihan secara tiba-tiba. Perut yang kosong seharian akan lebih sensitif terhadap lonjakan asam jika langsung diberi makanan berat dalam jumlah besar.
Prosedur berbuka yang dianjurkan adalah memulai dengan makanan manis ringan seperti kurma atau teh hangat. Setelah itu, beri jeda sebelum mengonsumsi makanan utama.
Makan besar sebaiknya dilakukan setelah salat Magrib, dan penting memberi jarak minimal dua jam antara makan malam dan waktu tidur untuk mencegah refluks asam lambung saat berbaring.
Daftar Makanan yang Perlu Dihindari
Agar puasa tetap nyaman, penderita GERD dianjurkan menghindari:
-
Makanan pedas
-
Buah atau makanan asam
-
Makanan bersantan
-
Minuman berkafein seperti kopi
-
Makanan berbahan dasar ketan
-
Produk fermentasi seperti tape
-
Minuman berkarbonasi
Dengan pengelolaan stres yang baik serta pola makan yang teratur, puasa bukan hanya aman bagi sebagian penderita GERD, tetapi juga berpotensi membantu meredakan gejala secara alami.
Namun, setiap kondisi bersifat individual. Evaluasi medis tetap menjadi langkah terbaik sebelum memutuskan untuk berpuasa, terutama bagi mereka dengan riwayat GERD berat atau komplikasi.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah