RADARBONANG.ID – Tampilan makanan yang menarik dan menggoda selera belum tentu menjamin keamanannya untuk dikonsumsi.
Di tengah maraknya penjualan takjil dan aneka jajanan, masyarakat diminta lebih waspada terhadap potensi penyalahgunaan bahan kimia berbahaya dalam pangan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan peringatan keras agar konsumen lebih teliti sebelum membeli produk makanan.
Melalui unggahan di akun Instagram resmi BPOM RI, lembaga tersebut menegaskan bahwa visual pangan yang memikat kerap kali menipu dan tidak mencerminkan kualitas keamanan produk.
Baca Juga: Takjil Bukan Sekadar Gratisan: Makna dan Relevansinya di Bulan Ramadan untuk Gen Z
BPOM mengungkapkan, masih ditemukan praktik ilegal berupa pencampuran zat kimia industri ke dalam makanan.
Tujuannya beragam, mulai dari mempercantik tampilan, membuat tekstur lebih kenyal, hingga memperpanjang masa simpan secara instan.
Padahal, bahan-bahan tersebut sama sekali tidak diperuntukkan bagi konsumsi manusia.
Formalin untuk Pengawet Ilegal
Salah satu zat yang paling sering ditemukan adalah formalin. Secara umum, formalin digunakan sebagai bahan pengawet kayu, cairan pengawet spesimen biologis, hingga kebutuhan industri tekstil.
Namun dalam praktik curang, zat ini disalahgunakan untuk mengawetkan makanan agar tidak cepat basi.
BPOM menjelaskan beberapa ciri makanan yang diduga mengandung formalin. Di antaranya memiliki tekstur sangat kokoh dan tidak mudah hancur, beraroma menyengat khas bahan kimia, serta mampu bertahan lebih dari 24 jam pada suhu ruang tanpa mengalami perubahan berarti.
Jenis pangan yang kerap ditemukan terpapar formalin antara lain mi basah, tahu, serta ikan dan hasil laut lainnya.
Jika dikonsumsi terus-menerus dalam jangka panjang, formalin berisiko menyebabkan gangguan serius pada organ tubuh, terutama hati dan ginjal.
Boraks Bikin Kenyal Berlebihan
Selain formalin, boraks juga menjadi perhatian serius. Bahan yang di sejumlah daerah dikenal dengan sebutan pijer atau bleng ini sebenarnya dipakai untuk keperluan industri non-pangan.
Namun, sebagian oknum menggunakannya untuk membuat tekstur makanan lebih kenyal dan elastis.
Makanan yang mengandung boraks biasanya terasa sangat kenyal, tidak mudah putus, serta permukaannya tampak halus dan tidak lengket. Pada produk seperti kerupuk gendar, boraks dapat meninggalkan rasa getir di lidah.
BPOM menyebutkan sejumlah produk yang rawan dicampur boraks, seperti bakso, siomay, mi basah, lontong, dan kerupuk.
Konsumsi boraks dalam jangka panjang berpotensi mengganggu fungsi ginjal, hati, dan sistem saraf.
Pewarna Tekstil dalam Makanan
Tak hanya bahan pengawet dan pengenyal, BPOM juga menyoroti penyalahgunaan pewarna tekstil pada makanan.
Salah satu yang sering ditemukan adalah Rhodamin B, zat pewarna sintetis untuk industri kertas dan tekstil.
Makanan yang mengandung Rhodamin B biasanya memiliki warna merah atau merah muda yang sangat terang dan mencolok, bahkan tampak seperti neon. Warna tersebut sering kali tidak merata dan terlihat bintik-bintik.
Produk seperti kerupuk, kue tradisional, hingga minuman berwarna cerah patut diwaspadai.
Selain Rhodamin B, terdapat pula Methanyl Yellow, pewarna tekstil berwarna kuning yang kadang disalahgunakan pada tahu kuning atau kerupuk kuning.
Ciri khasnya adalah warna kuning yang terlalu mencolok dan tampak tidak alami.
Paparan bahan-bahan kimia ini secara akumulatif dapat merusak sistem pencernaan dan meningkatkan risiko penyakit serius, termasuk kanker.
Baca Juga: Warga Dataran Tinggi Gayo Serbu SPBU Pakai Jeriken, Panic Buying BBM Melanda Meski Stok Masih Cukup
Jadi Konsumen Cerdas
BPOM mengimbau masyarakat untuk lebih selektif dalam membeli pangan, terutama dari penjual yang tidak memiliki informasi jelas mengenai produk. Konsumen disarankan memperhatikan warna, tekstur, aroma, serta daya tahan makanan.
Selain itu, pilihlah produk yang memiliki izin edar resmi dan berasal dari produsen terpercaya.
Kesadaran dan ketelitian konsumen menjadi benteng pertama untuk melindungi diri dari risiko bahan berbahaya.
Di tengah maraknya jajanan dan takjil yang menggoda selera, kewaspadaan menjadi kunci. Jangan hanya tergiur tampilan luar.
Pastikan makanan yang dikonsumsi aman, sehat, dan tidak mengandung zat berbahaya yang mengintai diam-diam.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah