RADARBONANG.ID – Banyak orang mengeluhkan perut terasa kembung meski hanya makan dalam porsi kecil. Rasa penuh, begah, hingga produksi gas berlebih sering langsung dikaitkan dengan maag atau asam lambung.
Padahal, kembung tidak selalu berasal dari lambung. Dalam beberapa kasus, sumber masalah justru berada di usus halus, bukan di organ lambung seperti yang selama ini diduga.
Mengenal SIBO, Gangguan di Usus Halus
Seorang dokter sekaligus ahli manajemen layanan kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama, MARS, FISQua, menjelaskan bahwa keluhan tersebut bisa berkaitan dengan kondisi medis bernama Small Intestinal Bacterial Overgrowth atau SIBO.
Baca Juga: Alasan Kenapa Kemampuan Berpikir Kritis Semakin Dibutuhkan di Era Modern
Dalam kondisi normal, usus halus hanya memiliki populasi bakteri dalam jumlah sangat minim. Sebaliknya, usus besar menjadi tempat utama berkumpulnya berbagai jenis bakteri.
Masalah muncul ketika bakteri dari usus besar berpindah ke usus halus dan berkembang biak secara berlebihan. Ketidakseimbangan inilah yang memicu gangguan pencernaan.
Proses Fermentasi Prematur Picu Gas Berlebih
Melalui unggahan Instagram pribadinya @adityaspratama, dr. Aditya menjelaskan bahwa pada kondisi SIBO, makanan yang baru saja dikonsumsi langsung mengalami fermentasi prematur di usus halus.
Akibatnya, gas terbentuk lebih cepat dan dalam jumlah lebih banyak. Tekanan di rongga perut pun meningkat, sehingga muncul rasa kembung yang signifikan walau porsi makan tergolong sedikit.
Inilah yang membuat banyak orang bingung. Mereka merasa sudah membatasi makanan, tetapi perut tetap terasa begah dan tidak nyaman.
Sering Berkaitan dengan IBS dan Diabetes
SIBO juga kerap berhubungan dengan kondisi kesehatan lain seperti Irritable Bowel Syndrome (IBS), diabetes, serta gangguan motilitas atau perlambatan gerakan usus.
Ketika pergerakan usus melambat, bakteri lebih mudah menumpuk dan berkembang secara tidak terkendali. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri berlebih di tempat yang seharusnya relatif steril.
Gejala SIBO sering kali mirip dengan maag atau IBS. Beberapa tanda yang umum dirasakan antara lain:
-
Kembung ekstrem setelah makan
-
Produksi gas berlebihan dengan bau menyengat
-
Diare atau sembelit yang muncul bergantian
-
Gangguan penyerapan nutrisi seperti vitamin B12, zat besi, dan vitamin larut lemak
Kemiripan gejala inilah yang membuat SIBO sering tidak terdiagnosis dengan tepat.
Diagnosis Tidak Bisa Lewat USG Biasa
Dr. Aditya menegaskan bahwa SIBO tidak dapat dideteksi hanya melalui pemeriksaan rutin seperti USG atau rontgen.
Metode yang lebih akurat adalah breath test, yaitu tes pernapasan untuk mengukur kadar gas hidrogen atau metana yang dihasilkan dari fermentasi bakteri di usus.
Tes ini membantu dokter memastikan apakah memang terjadi pertumbuhan bakteri berlebih di usus halus.
Jangan Sembarangan Konsumsi Probiotik
Banyak orang mengira gangguan pencernaan bisa diatasi dengan probiotik. Namun pada kasus SIBO, pendekatan tersebut belum tentu tepat.
Masalah utama SIBO adalah jumlah bakteri yang berlebihan di lokasi yang tidak semestinya. Menambah probiotik tanpa evaluasi medis justru berpotensi memperparah keluhan.
Baca Juga: Bangkok Rapikan Kabel Listrik dan Telekomunikasi, Buat Jalanan Bersih dan Tertata
Penanganan SIBO biasanya dilakukan secara bertahap, meliputi:
-
Pemberian antibiotik tertentu
-
Pola makan rendah fermentasi
-
Perbaikan motilitas usus
-
Penanganan penyakit dasar yang menjadi pemicu
Pendekatan ini harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Jangan Sepelekan Kembung Berkepanjangan
Perut kembung yang terjadi terus-menerus meski makan sedikit sebaiknya tidak langsung disimpulkan sebagai asam lambung.
Ada kemungkinan terdapat gangguan tersembunyi pada usus halus yang memerlukan pemeriksaan lebih mendalam.
Konsultasi dengan tenaga medis menjadi langkah penting untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.
Dengan begitu, penanganan yang diberikan pun bisa sesuai sasaran dan tidak sekadar mengatasi gejala sementara.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah