RADARBONANG.ID – Magrib tiba. Azan berkumandang. Story WhatsApp langsung penuh foto gelas berembun dengan caption, “Auto seger!”
Siapa yang tak tergoda buka puasa pakai es? Apalagi di Tuban yang cuacanya sering bikin tenggorokan kering maksimal. Dari es teh jumbo sampai es buah warna-warni, semuanya tampak seperti penyelamat setelah hampir 13 jam menahan haus.
Namun, kenapa sering kali setelah minum es justru badan terasa lemas? Bukannya makin segar, malah rasanya seperti “low batt 5 persen”.
Ternyata, fenomena ini bukan sekadar sugesti.
Baca Juga: Multitasking Terlihat Hebat, tapi Sebenarnya Tidak Efektif, Kenapa Demikian?
Kenapa Buka Pakai Es Bikin Lemas?
Secara fisiologis, tubuh saat puasa berada dalam mode “hemat energi”. Kadar gula darah menurun, cairan tubuh berkurang, dan metabolisme melambat. Saat azan magrib tiba, tubuh membutuhkan asupan yang bisa mengembalikan energi secara bertahap.
Mengacu pada edukasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, saat berbuka puasa disarankan mengonsumsi makanan atau minuman yang dapat menaikkan kadar glukosa darah secara perlahan, bukan yang memicu lonjakan drastis.
Minuman es manis justru bisa memicu dua respons sekaligus:
Shock suhu pada lambung
Minuman yang terlalu dingin dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah sementara di area lambung.
Tubuh perlu bekerja ekstra untuk menyesuaikan suhu internal. Proses adaptasi ini membutuhkan energi, sehingga muncul sensasi lemas atau tidak nyaman.
Lonjakan gula darah cepat
Minuman manis dingin, apalagi dengan gula tambahan tinggi, membuat kadar gula darah naik drastis.
Namun lonjakan ini sering diikuti penurunan cepat (sugar crash). Efeknya? Mengantuk, pusing ringan, dan rasa lelah mendadak.
Sejumlah edukasi kesehatan Ramadan yang juga dipublikasikan platform kesehatan seperti Alodokter menyarankan berbuka dengan minuman suhu ruang atau hangat agar sistem pencernaan tidak “kaget”.
Tubuh Lagi Kosong, Jangan Langsung Digaspol
Bayangkan tubuh seperti motor yang habis dipakai jauh tanpa bensin cadangan. Saat berhenti, tentu tidak langsung disiram es batu, melainkan diisi pelan-pelan.
Setelah puasa panjang, tubuh butuh:
-
Cairan untuk rehidrasi
-
Gula alami secukupnya untuk energi
-
Waktu adaptasi sebelum menerima makanan berat
Itulah sebabnya anjuran klasik berbuka dengan kurma dan air putih bukan sekadar tradisi. Dalam hadis riwayat Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menganjurkan berbuka dengan kurma atau air.
Secara ilmiah, kurma mengandung glukosa dan fruktosa alami yang cepat diserap tubuh tanpa memicu lonjakan ekstrem seperti gula tambahan pada minuman kekinian.
Efek Psikologis: Segar di Mulut, Bukan di Seluruh Badan
Sensasi dingin memang memberi efek “fresh” instan di tenggorokan. Ini adalah respons sensorik—saraf di mulut dan kerongkongan merespons suhu dingin sebagai sesuatu yang menyegarkan.
Namun sensasi itu tidak selalu sejalan dengan pemulihan energi secara menyeluruh. Tubuh tetap membutuhkan waktu untuk memproses asupan dan menstabilkan kembali metabolisme.
Jika kebanyakan es, efek lain yang bisa muncul antara lain:
-
Perut kembung dan begah
-
Cepat merasa kenyang palsu
-
Nafsu makan utama berkurang
Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan asupan nutrisi optimal saat makan besar.
Harus Stop Es Total?
Tidak juga. Ini bukan ajakan anti-es.
Jika tetap ingin minum dingin saat berbuka, ada beberapa trik agar tidak langsung “tumbang”:
-
Minum air putih suhu ruang terlebih dahulu
-
Konsumsi 1–3 butir kurma atau camilan ringan
-
Tunggu 5–10 menit sebelum minum es
-
Batasi gula tambahan
Intinya, jangan langsung menyerbu minuman dingin saat perut benar-benar kosong.
Baca Juga: Azan Magrib Langsung Ngopi? Kebiasaan Sepele Ini Ternyata Bisa Bikin Tubuh ‘Kaget’ Saat Buka Puasa!
Generasi Ngabuburit, Jangan Cuma FOMO Menu Viral
Setiap Ramadan, tren minuman selalu berganti. Dari es teh ukuran galon sampai minuman warna neon viral di TikTok, semuanya menggoda.
Sah-sah saja mengikuti tren. Namun tubuh tetap punya batas. Puasa bukan hanya tentang kuat menahan lapar hingga magrib, tetapi juga tentang menjaga kondisi tubuh tetap stabil sampai tarawih, sahur, bahkan aktivitas esok hari.
Jadi, masih mau buka pakai es duluan? Atau mulai memberi jeda agar badan tidak drama setiap habis magrib?
Pilihan ada di tangan Anda. Tapi jangan heran kalau tubuh mendadak minta rebahan sebelum Isya jika pola berbuka tidak diatur dengan bijak.
Editor : Muhammad Azlan Syah