Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

“Balas Dendam” Saat Buka Puasa: Kenapa Kita Tiba-Tiba Kalap? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

Arinie Khaqqo • Selasa, 24 Februari 2026 | 13:20 WIB

Sering kalap saat buka puasa? Hati-hati, itu bukan cuma lapar—tapi bisa jadi “balas dendam” yang berdampak ke kesehatan.
Sering kalap saat buka puasa? Hati-hati, itu bukan cuma lapar—tapi bisa jadi “balas dendam” yang berdampak ke kesehatan.

RADARBONANG.ID – Setelah seharian menahan lapar dan haus, momen berbuka puasa sering berubah menjadi ajang “balas dendam”.

Meja makan penuh dengan gorengan, kolak, es buah, hingga aneka minuman manis. Tanpa sadar, tangan bergerak cepat mengambil apa saja yang terlihat menggoda. Rasanya seperti semua harus disantap saat itu juga.

Fenomena ini ternyata bukan sekadar soal lapar biasa. Ada kombinasi faktor biologis, psikologis, hingga kebiasaan yang membuat seseorang cenderung kalap saat azan magrib berkumandang.

Bahkan, dalam dunia psikologi perilaku, kondisi ini kerap disebut sebagai revenge eating—makan berlebihan sebagai bentuk kompensasi setelah menahan diri dalam waktu lama.

Baca Juga: 10 Lagu Sheila On 7 yang Tak Lekang Waktu: Hits Paling Seru untuk Sing-A-Long Beserta Kisah dan Makna di Baliknya

Bukan Sekadar Lapar, Ini yang Terjadi di Dalam Tubuh

Selama berpuasa, kadar gula darah dalam tubuh menurun secara bertahap. Ketika glukosa sebagai sumber energi utama berkurang, tubuh mulai mengirimkan sinyal darurat ke otak bahwa energi perlu segera diisi kembali.

Inilah yang membuat rasa lapar terasa jauh lebih intens menjelang waktu berbuka.

Pada saat yang sama, hormon ghrelin—yang dikenal sebagai hormon pemicu rasa lapar—meningkat signifikan.

Hormon ini memberi sinyal kuat bahwa tubuh membutuhkan asupan makanan. Tak heran, keinginan makan bukan hanya muncul, tetapi terasa mendesak dan sulit dikendalikan.

Selain itu, tubuh juga cenderung melakukan overcompensation atau “balas jasa” setelah seharian berpuasa.

Secara naluriah, otak mendorong kita untuk memilih makanan tinggi kalori, gula, dan lemak karena dianggap paling cepat mengembalikan energi. Sayangnya, pilihan ini justru memicu konsumsi berlebihan.

Efek Psikologis: Dari Menahan Jadi Melampiaskan

Faktor psikologis memainkan peran yang tidak kalah besar. Selama berjam-jam, kita menahan keinginan makan dan minum. Penahanan ini menciptakan tekanan mental kecil yang terus menumpuk sepanjang hari.

Ketika waktu berbuka tiba, otak menganggap momen tersebut sebagai reward time atau waktu hadiah. Ada sensasi “akhirnya boleh” yang memicu perilaku konsumtif.

Dalam kondisi ini, kontrol diri yang sudah lelah seharian menjadi lebih lemah. Akibatnya, keputusan makan sering didasarkan pada dorongan emosional, bukan kebutuhan tubuh.

Tidak sedikit orang yang sebenarnya sudah cukup dengan segelas air dan beberapa butir kurma, tetapi tetap merasa ingin menambah gorengan, minuman manis, dan makanan berat sekaligus. Inilah yang membuat makan balas dendam terasa begitu sulit dihentikan.

Godaan Takjil dan Efek “Lapar Mata”

Meja berbuka identik dengan warna-warni makanan yang menggoda. Kolak dengan kuah santan manis, es buah segar, gorengan renyah, hingga kue-kue legit menjadi pemandangan yang sulit ditolak.

Makanan tinggi gula dan lemak memang memberikan sensasi puas secara instan. Kombinasi rasa manis dan gurih merangsang pusat kesenangan di otak, sehingga memicu keinginan untuk terus makan.

Fenomena ini sering disebut sebagai lapar mata—di mana keinginan makan dipicu oleh tampilan visual, bukan rasa lapar sebenarnya.

Akibatnya, seseorang bisa mengambil porsi jauh lebih besar dari yang dibutuhkan tubuh.

Dampaknya Tak Sepele

Kalap saat berbuka bukan hanya soal perut kekenyangan. Dampaknya bisa cukup serius, antara lain perut begah, gangguan pencernaan, lonjakan gula darah drastis, hingga rasa lemas setelah makan.

Lonjakan gula yang terlalu cepat juga bisa membuat tubuh cepat mengantuk dan menurunkan kualitas ibadah malam hari.

Jika kebiasaan ini terus berulang, risiko kenaikan berat badan dan gangguan metabolisme pun meningkat.

Alih-alih mendapatkan manfaat kesehatan dari puasa, tubuh justru mengalami tekanan tambahan.

Cara Menghindari “Balas Dendam” Saat Berbuka

Agar tidak terjebak pola makan berlebihan, ada beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan:

Baca Juga: Posisi Duduk Salah Bikin Cepat Lelah, Ini Tips Mengemudi Nyaman dan Aman

Kunci utamanya adalah kesadaran. Berbuka bukan ajang pelampiasan, melainkan proses mengembalikan energi secara bertahap dan sehat.

Ramadan sejatinya bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kontrol diri. Termasuk dalam hal memilih dan mengatur porsi makan saat berbuka.

Jadi, sebelum mengambil semua yang ada di meja, cobalah bertanya pada diri sendiri: ini benar-benar lapar, atau sekadar “balas dendam”? Karena pada akhirnya, yang menang bukan yang makan paling banyak—melainkan yang paling mampu mengendalikan diri.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#penyebab makan berlebihan #revenge eating Ramadan #kalap saat berbuka #tips berbuka sehat #balas dendam saat buka puasa