RADARBONANG.ID – Kebiasaan berbuka puasa dengan gorengan dan minuman manis kembali menjadi sorotan.
Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, mengingatkan masyarakat agar lebih bijak memilih asupan saat waktu berbuka tiba.
Melalui video “Budi Gemar Sharing” yang diunggah di akun Instagram pribadinya, ia menyoroti fenomena umum: banyak orang langsung menyantap dua hingga tiga potong gorengan, lalu meneguk minuman sirup manis ketika azan Magrib berkumandang.
Padahal, menurutnya, kebiasaan tersebut dapat memberi dampak kurang baik bagi metabolisme tubuh, khususnya organ pankreas.
Lambung Kosong, Beban Mendadak
Setelah berpuasa sekitar 12–14 jam, lambung berada dalam kondisi kosong. Tubuh memang membutuhkan asupan energi untuk memulihkan kadar gula darah yang menurun. Namun, cara memenuhinya perlu diperhatikan.
Budi menjelaskan bahwa mengonsumsi minuman sangat manis secara berlebihan akan memicu lonjakan gula darah (spike) dalam waktu singkat.
Kenaikan drastis ini memaksa pankreas bekerja ekstra keras untuk memproduksi insulin dalam jumlah besar guna menstabilkan kadar gula.
Jika pola ini terus berulang setiap hari selama Ramadan, beban metabolik dapat meningkat. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut berisiko mengganggu sensitivitas insulin dan keseimbangan gula darah.
Tak hanya minuman manis, makanan yang digoreng dengan minyak jenuh juga memberi tekanan tambahan pada sistem pencernaan.
Lemak jenuh yang tinggi dapat memperlambat proses pengosongan lambung dan membuat tubuh terasa lebih berat setelah berbuka.
Kenapa Gorengan Kurang Ideal?
Gorengan umumnya mengandung kalori tinggi, lemak jenuh, dan sering kali digoreng berulang kali dalam minyak yang sama.
Kombinasi ini bukan hanya meningkatkan asupan lemak, tetapi juga berpotensi menghasilkan senyawa yang kurang baik bagi kesehatan jika dikonsumsi terus-menerus.
Saat perut kosong, makanan berminyak dalam jumlah banyak bisa memicu rasa tidak nyaman, seperti kembung atau mual.
Selain itu, lonjakan gula dari minuman manis yang dikombinasikan dengan lemak tinggi membuat metabolisme bekerja lebih keras dalam waktu singkat.
Menurut Budi, berbuka puasa seharusnya menjadi momen mengembalikan energi secara bertahap, bukan memberikan “kejutan” besar pada tubuh.
Pilih Karbohidrat Kompleks
Sebagai alternatif, Menkes menganjurkan masyarakat beralih ke sumber karbohidrat kompleks.
Dalam videonya, ia menyebut beberapa contoh seperti jagung rebus, singkong, kacang kulit, pisang rebus, dan kentang rebus.
Karbohidrat kompleks dicerna lebih lambat oleh tubuh. Glukosa dilepaskan secara bertahap ke dalam aliran darah, sehingga kadar gula meningkat perlahan dan stabil.
Dengan cara ini, energi pulih tanpa membebani pankreas secara mendadak.
Selain itu, makanan seperti umbi-umbian dan kacang-kacangan juga mengandung serat yang membantu memperlambat penyerapan gula.
Efeknya, rasa kenyang bertahan lebih lama dan risiko makan berlebihan saat malam hari bisa ditekan.
Budi juga mengingatkan agar pola makan sehat yang sudah disosialisasikan sebelumnya—seperti mengonsumsi umbi-umbian dan telur rebus sebagai menu sarapan—tetap diterapkan selama Ramadan.
Nikmat Sesaat atau Sehat Jangka Panjang?
Di akhir pesannya, Budi Gunadi Sadikin memberikan tantangan reflektif kepada masyarakat.
Ia mengajak setiap orang mempertimbangkan pilihan saat berbuka: mengejar kenikmatan sesaat dari gorengan renyah dan sirup manis, atau memilih menu yang mendukung kebugaran tubuh dalam jangka panjang.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga kesempatan memperbaiki pola makan. Momentum Ramadan dapat menjadi titik awal membangun kebiasaan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Pilihan akhirnya memang ada di tangan masing-masing. Namun, dengan memahami dampak metabolik dari makanan yang dikonsumsi, masyarakat diharapkan dapat mengambil keputusan yang lebih bijak demi kesehatan tubuh, bukan hanya selama Ramadan, tetapi juga setelahnya.
Editor : Muhammad Azlan Syah