RADARBONANG.ID – Pernah melihat kulit seseorang tampak bersisik, kemerahan, bahkan menebal, lalu langsung berpikir itu penyakit menular? Jika iya, saatnya meluruskan pemahaman tersebut.
Bisa jadi kondisi itu adalah psoriasis—penyakit kulit kronis yang sering disalahartikan sebagai infeksi atau akibat kurang menjaga kebersihan.
Di era media sosial yang menampilkan standar kulit mulus tanpa noda, penderita psoriasis kerap menghadapi tantangan ganda.
Bukan hanya gejala fisik yang mengganggu, tetapi juga stigma sosial yang membuat mereka merasa terasing.
Psoriasis Itu Apa?
Psoriasis adalah penyakit autoimun kronis yang menyebabkan pertumbuhan sel kulit berlangsung jauh lebih cepat dari normal.
Menurut World Health Organization, psoriasis terjadi akibat gangguan sistem imun, bukan karena bakteri atau virus.
Artinya, kondisi ini tidak menular melalui sentuhan, berbagi barang, atau kontak fisik lainnya.
Pada kulit normal, proses regenerasi sel berlangsung sekitar 28 hari. Namun pada penderita psoriasis, siklus ini bisa terjadi hanya dalam 3–4 hari.
Sel-sel kulit yang belum sempat luruh sudah digantikan lapisan baru, sehingga menumpuk di permukaan kulit dan membentuk bercak merah, tebal, bersisik, serta terkadang terasa gatal atau perih.
Area yang paling sering terdampak antara lain siku, lutut, kulit kepala, dan punggung bagian bawah.
Kenapa Bisa Terlihat “Parah”?
Secara medis, penumpukan sel kulit inilah yang membuat psoriasis tampak mencolok. Berdasarkan penjelasan dari Mayo Clinic, psoriasis dapat muncul dalam siklus kambuh dan mereda. Ada fase tenang, lalu tiba-tiba kambuh ketika dipicu faktor tertentu.
Beberapa pemicu umum antara lain:
-
Stres berlebihan
-
Kurang tidur
-
Infeksi tertentu
-
Cuaca dingin
-
Kelelahan fisik maupun mental
Karena sifatnya kronis, psoriasis memang belum bisa disembuhkan total. Namun, gejalanya dapat dikontrol dengan perawatan yang tepat.
Bukan Sekadar Masalah Kulit
Psoriasis bukan hanya persoalan fisik. Banyak penderita mengaku mengalami penurunan rasa percaya diri, kecemasan sosial, hingga depresi. Terutama pada usia remaja dan dewasa muda, ketika penampilan sering menjadi sorotan.
American Academy of Dermatology menyebutkan bahwa dampak psikologis psoriasis sering kali lebih berat dibandingkan gejala kulitnya sendiri.
Tatapan heran, pertanyaan yang menghakimi, atau perlakuan menjauh bisa meninggalkan luka emosional yang tidak terlihat.
Inilah mengapa edukasi publik menjadi sangat penting. Kesalahpahaman bisa memperburuk kondisi mental penderita.
Apakah Psoriasis Bisa Diobati?
Meski belum bisa sembuh total, psoriasis dapat dikontrol. Dokter biasanya menyarankan beberapa metode terapi seperti:
-
Obat oles (topikal)
-
Terapi cahaya (fototerapi)
-
Obat sistemik atau biologis untuk kasus tertentu
Kunci utamanya adalah diagnosis dan pengawasan dokter spesialis kulit. Self-diagnose atau penggunaan produk skincare viral tanpa konsultasi justru berisiko memperparah kondisi.
Mitos yang Masih Beredar
Beberapa mitos yang masih sering dipercaya masyarakat antara lain:
-
Psoriasis menular → Salah
-
Terjadi karena malas mandi → Salah
-
Hanya penyakit kulit biasa → Salah
Psoriasis adalah kondisi autoimun kronis yang membutuhkan pemahaman dan dukungan, bukan penghakiman.
Empati Lebih Penting dari Komentar
Sering kali, yang dibutuhkan penderita psoriasis bukan saran berlebihan atau komentar spontan, melainkan empati sederhana.
Tidak menjauh saat berjabat tangan. Tidak menatap dengan rasa curiga. Tidak menyamakan dengan penyakit lain tanpa dasar.
Di balik kulit yang terlihat berbeda, mereka tetap individu dengan mimpi, aktivitas, dan hak untuk merasa nyaman dengan tubuhnya sendiri.
Memahami psoriasis bukan hanya soal menambah pengetahuan medis, tetapi juga soal membangun kepedulian sosial. Karena kadang, luka terbesar bukan pada kulit—melainkan pada cara orang lain memandangnya.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah