RADARBONANG.ID – Rasa perih di dada, sensasi panas hingga ke tenggorokan, dan asam lambung yang naik sering kali langsung dikaitkan dengan GERD. Di sisi lain, beredar pula anggapan bahwa GERD bisa memicu henti jantung hingga kematian mendadak. Benarkah demikian?
Isu ini membuat banyak orang panik setiap kali dada terasa tidak nyaman. Padahal, menurut penjelasan medis, tidak semua nyeri dada berkaitan dengan gangguan jantung.
Penting untuk memahami perbedaan keduanya agar tidak terjebak pada ketakutan berlebihan maupun salah diagnosis.
Baca Juga: Capung Sebagai Bioindikator: Mengapa Serangga Ini Menjadi Penanda Kualitas Lingkungan?
GERD Bukan Penyebab Langsung Henti Jantung
Dokter Spesialis Gastroenterologi dan Hepatologi dari Gleneagles Hospital Kuala Lumpur, Paul Yap Ray Ree, menegaskan bahwa GERD tidak secara langsung menyebabkan henti jantung.
Dalam perbincangan di kanal YouTube milik Gritte Agatha, dr. Paul menjelaskan bahwa GERD murni merupakan gangguan pada lambung, tepatnya ketika asam lambung naik ke kerongkongan (refluks).
Kondisi ini tidak memiliki mekanisme langsung yang mengganggu fungsi jantung hingga menyebabkan henti jantung.
“GERD sendiri tidak mengganggu jantung karena itu murni masalah lambung di mana asam naik ke atas. Tidak ada teorinya GERD langsung menyebabkan henti jantung,” jelasnya.
Namun, yang kerap menimbulkan kekhawatiran adalah kemiripan gejala. Nyeri dada akibat refluks asam lambung bisa terasa seperti tekanan atau sensasi terbakar, yang sekilas mirip dengan gejala serangan jantung. Inilah yang sering membuat orang salah mengira.
Kemiripan Gejala yang Membingungkan
Nyeri dada memang menjadi gejala umum pada berbagai kondisi, termasuk gangguan lambung dan jantung.
Pada GERD, rasa nyeri biasanya disertai sensasi panas di dada (heartburn), rasa asam atau pahit di mulut, serta memburuk setelah makan atau saat berbaring.
Sementara itu, nyeri akibat gangguan jantung sering disertai gejala lain seperti nyeri menjalar ke lengan kiri, rahang, atau punggung, keringat dingin, mual berat, hingga sesak napas ekstrem.
Karena gejalanya bisa tumpang tindih, pemeriksaan medis menjadi sangat penting. Mengabaikan gejala jantung karena mengira hanya GERD bisa berisiko fatal.
Sebaliknya, menganggap semua nyeri dada sebagai serangan jantung juga bisa memicu kepanikan berlebihan.
Bahaya Self-Diagnosis di Era Internet
Di era digital, informasi kesehatan sangat mudah diakses. Sayangnya, kemudahan ini sering membuat orang melakukan diagnosis mandiri atau self-diagnosis tanpa pemeriksaan medis.
Menurut dr. Paul, tidak sedikit pasien yang datang dengan keyakinan sudah menderita GERD, padahal belum pernah menjalani pemeriksaan penunjang.
Ia mengingatkan bahwa keluhan lambung bisa saja merupakan gejala penyakit lain yang lebih serius.
“Ramai pasien datang bilang saya ada GERD, tapi mungkin dia tidak tahu apa itu GERD. Kita harus tes dulu untuk buktikan, sebab bisa jadi itu penyakit lain yang lebih serius tapi disangka cuma GERD,” ujarnya.
Self-diagnosis berisiko menutupi kondisi sebenarnya. Jika ternyata yang dialami adalah gangguan jantung atau penyakit lain, keterlambatan penanganan bisa berakibat fatal.
Stres, Pemicu yang Sering Diabaikan
Selain pola makan, faktor psikologis juga berperan besar dalam munculnya gejala GERD. Stres dan kecemasan dapat meningkatkan produksi asam lambung serta memperburuk sensasi nyeri.
Dr. Paul menjelaskan bahwa pasien dengan tingkat kecemasan tinggi sering datang dengan keluhan beragam, mulai dari sesak napas, pusing, sulit tidur, hingga gangguan pencernaan. Semua keluhan tersebut kerap muncul bersamaan.
Artinya, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga pola makan. Manajemen stres seperti olahraga ringan, teknik relaksasi, tidur cukup, dan pengaturan beban kerja bisa membantu meredakan gejala.
Jangan Terlalu Ekstrem dalam Pantangan
Banyak penderita GERD langsung menghindari berbagai jenis makanan secara berlebihan. Padahal, tidak semua makanan memicu gejala pada setiap orang.
Dr. Paul menyarankan pendekatan yang lebih realistis. Jika suatu makanan tidak menimbulkan keluhan, tidak perlu dihindari secara ekstrem. Terlalu banyak pantangan justru bisa menambah stres, yang pada akhirnya memperburuk kondisi lambung.
Tips sederhana yang bisa diterapkan antara lain makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering, memperbanyak asupan serat, menghindari makan terlalu larut malam, serta menjaga berat badan ideal.
Yang terpenting, segera konsultasikan ke dokter jika nyeri dada terasa berat, berbeda dari biasanya, disertai sesak napas, atau menyebabkan penurunan berat badan drastis. Jangan menunggu sampai kondisi memburuk.
Memahami fakta medis yang benar dapat membantu kita lebih tenang dan bijak dalam menyikapi gejala.
GERD memang bisa menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi bukan berarti otomatis menyebabkan henti jantung. Pemeriksaan dan diagnosis yang tepat tetap menjadi kunci utama menjaga kesehatan.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah