RADARBONANG.ID – Anggapan bahwa vape lebih aman dibanding rokok kembali dipatahkan oleh pakar paru dan kanker, Dr. Jaka Pradipta.
Dalam podcast Room for Improvement bersama Rory Asyari, ia memberikan peringatan keras soal bahaya vape yang kini makin populer, terutama di kalangan anak muda.
Menurutnya, vape bukan solusi berhenti merokok. Justru sebaliknya, ia menyebut vape sebagai “masalah kesehatan baru” yang terlihat lebih modern dan seolah aman, padahal tetap membawa risiko serius bagi tubuh.
Ilusi “Lebih Sehat” karena Tanpa Tar
Banyak orang beralih ke vape karena percaya tidak mengandung tar seperti rokok konvensional. Namun Dr. Jaka menegaskan, ketiadaan tar bukan berarti bebas bahaya.
Liquid vape tetap mengandung berbagai zat berisiko, seperti logam berat, radikal bebas, serta senyawa kimia berbahaya seperti formaldehida yang diketahui berpotensi memicu kanker.
Uap yang dihirup tetap masuk ke paru-paru dan dapat menimbulkan peradangan serta kerusakan jaringan dalam jangka panjang.
Artinya, perbedaannya lebih pada bentuk dan cara konsumsi, bukan pada tingkat keamanannya.
Risiko Popcorn Lung dan EVALI
Salah satu risiko yang disoroti adalah penyakit paru serius yang dikenal sebagai “Popcorn Lung”, kondisi yang dikaitkan dengan zat perasa tertentu dalam liquid vape.
Penyakit ini menyebabkan peradangan dan penyempitan saluran napas kecil, yang berdampak pada gangguan pernapasan permanen.
Selain itu, terdapat kondisi bernama EVALI (E-cigarette or Vaping Product Use-Associated Lung Injury), yaitu cedera paru akut akibat penggunaan vape.
Kasus EVALI dilaporkan dapat membuat penderitanya mengalami gangguan pernapasan berat dalam waktu singkat, bahkan hingga kondisi kritis.
Jika rokok konvensional sering disebut sebagai “pembunuh pelan-pelan”, maka beberapa kasus vape justru menunjukkan dampak yang bisa muncul cepat dan agresif.
Penyalahgunaan Zat Berbahaya
Dalam perbincangan tersebut, Dr. Jaka juga menyinggung alasan sejumlah negara mengambil langkah tegas terhadap vape.
Salah satunya adalah Singapura yang melarang penggunaan dan penjualan vape secara total.
Larangan itu bukan tanpa alasan. Ditemukan kasus penyalahgunaan zat seperti etomidate—obat anestesi—yang dicampurkan ke dalam liquid vape.
Dampaknya bisa sangat berbahaya, mulai dari halusinasi, tubuh lemas seperti kehilangan kendali, hingga gangguan pernapasan serius.
Fenomena ini menunjukkan bahwa vape tidak lagi sekadar isu gaya hidup, tetapi sudah masuk ke ranah kesehatan publik dan penyalahgunaan zat.
Remaja Jadi Target Rentan
Tren vape yang meningkat di kalangan remaja juga menjadi perhatian. Desain yang modern, rasa yang beragam, serta promosi di media sosial membuat vape terlihat “kekinian” dan lebih bisa diterima secara sosial, termasuk di ruang publik.
Padahal, nikotin tetap menjadi zat adiktif utama di dalamnya. Ketergantungan nikotin pada usia muda dapat berdampak pada perkembangan otak, konsentrasi, serta kontrol emosi.
Dr. Jaka menegaskan bahwa mengganti rokok dengan vape bukanlah solusi. Ia mengibaratkannya seperti keluar dari kandang harimau, tetapi masuk ke kandang buaya—sama-sama berbahaya, hanya berbeda bentuk ancamannya.
Baca Juga: Cadillac Kejutkan Dunia F1: Livery Mobil 2026 Muncul Perdana di Panggung Super Bowl
Cara Berhenti yang Lebih Tepat
Menurutnya, berhenti merokok yang benar seharusnya melalui pendekatan medis dan terapi resmi.
Konsultasi dengan tenaga kesehatan, penggunaan terapi pengganti nikotin yang terkontrol, serta dukungan psikologis jauh lebih direkomendasikan dibanding beralih ke vape.
Kunci utamanya tetap pada niat kuat dan komitmen pribadi. Tanpa itu, pergantian produk hanya akan mempertahankan ketergantungan dalam bentuk lain.
Pesan yang ingin disampaikan jelas: jangan terkecoh oleh kemasan modern dan aroma manis. Risiko kesehatan tetap ada, dan bisa sama seriusnya dengan rokok konvensional.
Editor : Muhammad Azlan Syah