Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Remaja dan Kurang Tidur, Bukuan Sekadar Begadang Biasa

Widodo • Rabu, 4 Februari 2026 | 07:36 WIB

Kurang tidur pada remaja bukan sekadar soal ngantuk. Dampaknya bisa memengaruhi otak, emosi, kesehatan fisik, hingga perilaku sehari-hari.
Kurang tidur pada remaja bukan sekadar soal ngantuk. Dampaknya bisa memengaruhi otak, emosi, kesehatan fisik, hingga perilaku sehari-hari.

RADARBONANG.ID – Fenomena kurang tidur pada remaja kini bukan lagi sekadar kebiasaan begadang yang bisa dianggap remeh.

Di era modern, kurang tidur telah berkembang menjadi persoalan kesehatan serius yang berdampak luas, mulai dari kemampuan belajar, kestabilan emosi, hingga kesehatan fisik jangka panjang.

Pada masa pubertas, tubuh remaja membutuhkan waktu tidur sekitar 8–10 jam setiap malam.

Tidur berperan penting dalam proses pertumbuhan, pematangan otak, penguatan daya ingat, serta pengaturan emosi.

Namun, berbagai riset menunjukkan sebagian besar remaja hanya tidur 5–7 jam per malam, jauh di bawah kebutuhan ideal.

Baca Juga: Menkes Ingatkan Bahaya Gorengan Berlebihan, Satu Potong Bisa Setara Lari Kilometaran

Perubahan Biologis dan Tekanan Gaya Hidup

Salah satu penyebab utama kurang tidur pada remaja adalah perubahan ritme sirkadian.

Secara biologis, remaja cenderung merasa mengantuk lebih larut malam. Sayangnya, jadwal sekolah tetap menuntut mereka bangun pagi.

Selain faktor biologis, gaya hidup modern turut memperparah kondisi ini. Penggunaan gawai dan media sosial menjelang tidur membuat otak terus aktif.

Paparan cahaya biru dari layar ponsel menghambat produksi melatonin, hormon yang membantu tubuh merasa mengantuk.

Di sisi lain, tuntutan akademik, tugas sekolah, les tambahan, dan aktivitas organisasi membuat waktu istirahat semakin tergerus.

Dampak Kurang Tidur terhadap Fungsi Otak

Tidur bukan sekadar waktu beristirahat pasif. Saat tidur, otak bekerja memproses informasi, menyimpan memori, dan membersihkan zat sisa yang mengganggu fungsi saraf. Ketika remaja kurang tidur, proses ini terganggu.

Akibatnya, konsentrasi di kelas menurun, daya ingat melemah, dan kemampuan menyelesaikan masalah menjadi kurang optimal.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa remaja yang tidur cukup memiliki kemampuan membaca, belajar, dan berpikir kritis yang lebih baik dibandingkan mereka yang kurang tidur.

Penurunan prestasi akademik pun sering kali bukan disebabkan kurangnya usaha, melainkan otak yang belum pulih secara maksimal.

Emosi Tidak Stabil dan Risiko Gangguan Mental

Kurang tidur juga berdampak besar pada kondisi emosional remaja. Mereka menjadi lebih mudah marah, sensitif, dan mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem.

Penelitian mengaitkan gangguan tidur dengan meningkatnya gejala depresi dan kecemasan pada remaja.

Ketidakstabilan emosi ini dapat memengaruhi hubungan sosial, baik dengan keluarga maupun teman sebaya.

Rasa mudah tersinggung dan lelah secara mental juga dapat menurunkan kepercayaan diri serta membuat remaja lebih rentan terhadap stres.

Meningkatkan Risiko Perilaku Berbahaya

Dampak kurang tidur tidak berhenti pada aspek psikologis. Remaja yang tidur kurang dari enam jam per malam memiliki risiko lebih tinggi terlibat dalam perilaku berbahaya, seperti agresi, konsumsi alkohol dan rokok, serta kecelakaan di lingkungan sekolah maupun di jalan.

Kurangnya tidur memengaruhi kemampuan mengambil keputusan dan mengontrol impuls. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mendorong remaja pada pilihan-pilihan yang merugikan diri sendiri.

Pengaruh pada Kesehatan Fisik dan Berat Badan

Kurang tidur juga berdampak langsung pada kesehatan fisik. Gangguan tidur memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang, sehingga meningkatkan keinginan makan berlebih. Hal ini berkaitan dengan risiko obesitas dan gangguan metabolisme, termasuk resistensi insulin.

Selain itu, sistem kekebalan tubuh yang melemah akibat kurang tidur membuat remaja lebih mudah sakit. Jika dibiarkan terus-menerus, dampaknya dapat berlanjut hingga usia dewasa.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Sehari-hari yang Terbukti Menjaga Kesehatan Mental dan Emosi Tetap Stabil

Tidur Bukan Luksus, Melainkan Kebutuhan

Banyak remaja menganggap kurang tidur bisa ditebus dengan tidur lebih lama di akhir pekan. Padahal, tidur malam yang berkualitas dan konsisten tetap menjadi kunci utama kesehatan.

Kebiasaan tidur buruk di masa remaja dapat meninggalkan dampak jangka panjang terhadap perkembangan otak dan kestabilan emosi.

Oleh karena itu, perhatian terhadap kualitas tidur remaja perlu menjadi prioritas bersama.

Mengatur waktu penggunaan gawai, membangun rutinitas tidur yang teratur, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya istirahat merupakan langkah awal yang krusial.

Kurang tidur pada remaja bukan sekadar masalah ngantuk di kelas. Ini adalah isu kesehatan yang perlu ditangani sejak dini demi masa depan generasi yang lebih sehat, fokus, dan seimbang secara emosional.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#kurang tidur #masa pubertas #efek kurang tidur #Kebiasaan begadang #begadang #remaja