Kondisi ini justru bisa terus kambuh jika gaya hidup sehari-hari tidak diperhatikan dengan serius.
GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan, menyebabkan sensasi panas, mual, sampai rasa tidak nyaman di dada.
Jika dibiarkan, gejalanya dapat mengganggu kualitas hidup dan produktivitas.
Penyakit yang sering diremehkan ini kerap disebabkan bukan oleh satu faktor besar, tetapi oleh kumpulan kebiasaan yang tampak biasa dilakukan setiap hari.
Sejumlah penelitian dan tinjauan medis menunjukkan bahwa berbagai perilaku yang umum dijumpai di kehidupan modern punya pengaruh langsung terhadap frekuensi kambuhnya GERD.
1. Merokok: Risiko GERD Meningkat Signifikan
Salah satu kebiasaan yang paling kuat dikaitkan dengan refluks asam lambung adalah merokok. Nikotin dan bahan kimia dalam tembakau dapat melemahkan lower esophageal sphincter (LES), yaitu otot yang bekerja sebagai pintu antara kerongkongan dan lambung.
Ketika LES melemah, asam lambung lebih mudah naik ke atas dan memicu gejala GERD.
Penelitian menunjukkan dalam kondisi tertentu, risiko terkena GERD bisa naik signifikan pada perokok berat dibanding non-perokok.
Bagi yang telah mengalami gejala, berhenti merokok terbukti dapat meredakan frekuensi kambuh sekaligus meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.
2. Kopi dan Minuman Berkafein: Bukan Musuh Semua Orang, Tapi Waspadai Sensitivitasmu
Kopi sering menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas pagi banyak orang. Namun bagi sebagian pengidap GERD, minuman berkafein ini dapat memperburuk gejala.
Meski hubungan langsung antara kafein dan refluks masih diteliti lebih lanjut oleh para ahli, banyak orang melaporkan sensasi terbakar atau tidak nyaman setelah minum kopi, terutama saat perut kosong.
Respons terhadap kafein sangat individual. Ada orang yang toleran terhadap satu cangkir kopi sehari, sementara yang lain merasakan ge
jala kambuh meskipun sedikit saja mengonsumsinya. Jika kamu sering mengalami sensasi asam atau panas di dada setelah minum kopi, pertimbangkan untuk mengurangi atau mengganti dengan teh herbal.
3. Makan dalam Porsi Besar atau Terlalu Larut Malam
Waktu dan porsi makan juga memainkan peran penting dalam mengendalikan refluks asam lambung.
Makan dalam jumlah besar atau sangat dekat dengan waktu tidur membuat lambung harus bekerja ekstra keras.
Sementara tubuh sedang bersiap untuk tidur, proses pencernaan yang intens justru mendorong asam lambung naik ke kerongkongan.
Ahli kesehatan menyarankan memberi jeda minimal dua hingga tiga jam antara makan malam dan waktu tidur. Jeda waktu ini membantu sistem pencernaan memproses makanan secara optimal sebelum tubuh berbaring dan mengurangi potensi naiknya asam lambung.
4. Aktivitas Fisik Berat Tepat Setelah Makan
Kegiatan berat—baik saat berolahraga maupun mengangkat barang berat—dapat meningkatkan tekanan pada perut.
Tekanan ini mendorong isi lambung dan asamnya naik ke kerongkongan, memicu gejala refluks.
Hal yang sama berlaku untuk olahraga intens yang dilakukan segera setelah makan, karena tubuh belum sempat menyelesaikan proses pencernaan dengan baik.
Sebaliknya, tubuh yang kurang bergerak juga berkontribusi pada risiko GERD.
Kurangnya aktivitas fisik berarti proses pencernaan berjalan lebih lambat dan asam lambung lebih mudah kembali ke kerongkongan.
Menjaga keseimbangan antara waktu makan dan aktivitas fisik, serta memilih olahraga ringan seperti jalan kaki setelah makan, dapat membantu mengurangi efek ini.
5. Faktor Lain yang Sering Terlewatkan
Selain keempat kebiasaan di atas, faktor-faktor tambahan juga ikut berkontribusi terhadap kambuhnya GERD.
Kebiasaan duduk membungkuk atau postur tubuh yang salah saat bekerja, konsumsi makanan pedas, tinggi lemak atau asam, serta pola tidur yang tidak teratur semuanya dilaporkan memperburuk refluks asam lambung.
Baca Juga: “Siap” vs “Noted”: Perang Bahasa di Kantor Saat Gen Z dan Boomer Saling Salah Paham
Di luar itu, kelebihan berat badan juga memberikan tekanan ekstra pada perut, melemahkan LES, dan membuat asam lambung lebih mudah naik.
Memantau pola makan, berhenti merokok, serta menerapkan gaya hidup sehat secara konsisten merupakan langkah awal yang efektif untuk mengendalikan gejala.
GERD bukan sekadar penyakit ringan yang akan hilang sendiri. Kebiasaan sehari-hari memiliki peran besar terhadap frekuensi kambuhnya gangguan ini.
Dengan mengenali pemicu personal dan melakukan perubahan gaya hidup sedini mungkin—mulai dari pola makan, kebiasaan minum, hingga aktivitas fisik—perjalanan hidup pun bisa lebih nyaman tanpa gangguan refluks yang terus-menerus.
Editor : Muhammad Azlan Syah