RADARBONANG.ID — Nestlé, perusahaan makanan dan minuman global asal Swiss, melakukan penarikan kembali (recall) susu formula bayi di 49 negara menyusul temuan potensi kontaminasi racun cereulide, toksin berbahaya yang dihasilkan oleh bakteri Bacillus cereus.
Langkah ini diambil sebagai upaya pencegahan demi melindungi kesehatan bayi, kelompok konsumen paling rentan terhadap risiko kontaminasi pangan.
Proses penarikan telah berlangsung sejak Desember 2025 dan mencakup sejumlah merek susu formula bayi populer di bawah naungan Nestlé, seperti SMA, BEBA, dan NAN.
Produk-produk tersebut dipasarkan di berbagai wilayah, mulai dari Eropa, Turki, Argentina, hingga beberapa negara di benua lain.
Baca Juga: Bukan Sekadar Hafal Dialog, Kim Seon-ho Sampai Belajar Empat Bahasa demi Drama Ini
Apa Itu Bacillus cereus dan Racun Cereulide?
Bacillus cereus merupakan bakteri yang secara alami banyak ditemukan di lingkungan, termasuk tanah dan bahan pangan. Dalam kondisi tertentu, beberapa strain bakteri ini dapat menghasilkan racun bernama cereulide.
Cereulide dikenal sangat berbahaya karena bersifat tahan panas. Artinya, proses pemanasan atau sterilisasi standar yang biasa diterapkan dalam industri pangan tidak selalu mampu menghancurkan racun ini.
Jika toksin sudah terbentuk di dalam produk, risiko kesehatan tetap ada meskipun bakteri hidupnya sudah tidak aktif.
Mengapa Cereulide Berbahaya bagi Bayi?
Paparan cereulide dapat menyebabkan keracunan makanan tipe emetik, dengan gejala utama berupa mual hebat dan muntah.
Pada orang dewasa, kondisi ini biasanya bersifat sementara. Namun pada bayi, dampaknya bisa jauh lebih serius.
Sistem pencernaan bayi yang belum matang membuat mereka lebih rentan mengalami dehidrasi akut, gangguan elektrolit, hingga penurunan kondisi kesehatan secara cepat. Oleh karena itu, potensi paparan racun sekecil apa pun dianggap sebagai risiko yang tidak bisa diabaikan.
Gejala yang Perlu Diwaspadai Orang Tua
Gejala keracunan cereulide umumnya muncul dalam waktu beberapa jam setelah konsumsi. Tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
-
Mual dan muntah berulang
-
Kram perut
-
Diare
-
Bayi tampak lemas atau rewel tidak biasa
Hingga saat ini, Nestlé dan otoritas kesehatan menyatakan belum ada laporan kasus penyakit serius yang terkonfirmasi akibat konsumsi produk susu formula yang terindikasi terdampak.
Meski demikian, langkah penarikan tetap dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian maksimal.
Dugaan Sumber Kontaminasi Bahan Baku
Dalam pernyataan resminya, Nestlé menjelaskan bahwa indikasi kontaminasi ditemukan pada minyak asam arakidonat (ARA), salah satu bahan baku penting dalam susu formula bayi. ARA merupakan asam lemak esensial yang ditambahkan untuk mendekati komposisi nutrisi ASI.
Diduga, proses produksi atau penyimpanan bahan baku tersebut menjadi celah masuknya Bacillus cereus.
Nestlé menegaskan bahwa keberadaan toksin pada minyak nabati merupakan kejadian yang sangat jarang, dan saat ini perusahaan bekerja sama dengan pemasok untuk menelusuri akar masalah secara menyeluruh.
Negara Terdampak dan Respons Otoritas
Penarikan produk dilakukan di berbagai negara Eropa seperti Austria, Belgia, Prancis, Italia, dan Inggris, serta di wilayah lain termasuk Turki, Argentina, dan beberapa negara Asia.
Otoritas kesehatan di masing-masing negara telah mengeluarkan peringatan resmi kepada masyarakat.
Di Indonesia, BPOM dilaporkan tengah melakukan pemeriksaan terkait kemungkinan masuknya produk terdampak ke pasar domestik.
Sementara itu, pihak Nestlé Indonesia menyatakan bahwa produk yang beredar di dalam negeri aman dan tidak termasuk dalam daftar recall global.
Baca Juga: Kerja Bukan di Kantor, Pulang Bukan ke Rumah: Fenomena Work From Café
Imbauan Penting untuk Orang Tua
Otoritas kesehatan mengimbau orang tua untuk:
-
Memeriksa kode batch dan nomor produksi pada kemasan susu formula
-
Mengikuti informasi resmi dari Nestlé dan otoritas pangan setempat
-
Menghentikan penggunaan produk jika termasuk dalam daftar penarikan
-
Segera berkonsultasi ke tenaga medis jika bayi menunjukkan gejala mencurigakan
Langkah pencegahan ini dinilai krusial demi menjaga keselamatan bayi, sekaligus mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap keamanan pangan, terutama pada produk yang dikonsumsi kelompok rentan.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah