RADARBONANG.ID – Pernah tiba-tiba sangat ingin makan pedas, lalu di lain waktu mendadak mengincar keripik asin atau dessert manis tanpa alasan jelas? Banyak orang menganggap ngidam sebagai hal sepele—sekadar selera, lapar mata, atau kebiasaan.
Padahal, di balik craving pedas, asin, dan manis, tubuh sebenarnya sedang mengirim sinyal penting yang sering kita abaikan.
Fenomena ngidam semakin sering terjadi di tengah gaya hidup serba cepat, tingkat stres tinggi, jam tidur berantakan, serta pola makan yang tak teratur.
Alih-alih melawan atau merasa bersalah, memahami arti di balik ngidam justru bisa membantu kita lebih peduli pada kondisi tubuh sendiri.
Baca Juga: Bukan Jogja atau Solo, Ternyata Ini dia asal usul Angkringan yang Sebenarnya
Ngidam Pedas: Tubuh Cari Sensasi atau Sedang Lelah?
Keinginan makan pedas sering muncul saat seseorang berada dalam kondisi jenuh, stres, atau kelelahan mental.
Makanan pedas memicu pelepasan endorfin dan dopamin—hormon yang memberi efek senang dan lega.
Itulah sebabnya, setelah hari yang berat, banyak orang memilih sambal, seblak, atau mi pedas sebagai “penghibur”.
Selain faktor psikologis, ngidam pedas juga bisa berkaitan dengan kondisi fisik, seperti metabolisme yang melambat atau tubuh yang membutuhkan rangsangan untuk meningkatkan sirkulasi dan suhu tubuh.
Tak jarang pula pedas dikaitkan dengan kenyamanan emosional karena kebiasaan makan sejak lama.
Namun, jika keinginan pedas muncul berlebihan dan terus-menerus, itu bisa menjadi tanda bahwa stres belum dikelola dengan baik. Bukan sambalnya yang salah, tapi sinyal tubuh yang perlu didengar.
Ngidam Asin: Kurang Cairan atau Tertekan Diam-Diam?
Craving asin sering muncul saat tubuh mengalami dehidrasi ringan atau kelelahan fisik, misalnya setelah berkeringat banyak, kurang minum, atau tidur tidak cukup.
Garam berperan penting dalam keseimbangan elektrolit, sehingga tubuh otomatis mencarinya saat kadar cairan tidak stabil.
Menariknya, rasa asin juga kerap dikaitkan dengan kondisi emosional. Saat seseorang merasa tertekan atau kehilangan kendali, makanan asin dapat memberi sensasi menenangkan dan “membumi”.
Inilah alasan mengapa camilan asin sering menjadi pelarian di tengah tekanan pekerjaan atau masalah pribadi.
Ngidam asin bisa menjadi sinyal bahwa tubuh kekurangan cairan, pola tidur kacau, stres berkepanjangan, atau konsumsi makanan olahan terlalu sering.
Jika dibiarkan, kebiasaan ini berisiko meningkatkan asupan garam berlebih yang berdampak pada kesehatan jangka panjang.
Ngidam Manis: Lebih dari Sekadar Suka Gula
Ngidam manis adalah jenis craving yang paling umum—dan paling sering disalahpahami. Banyak yang mengira ini murni soal selera, padahal keinginan makan manis erat kaitannya dengan energi dan emosi.
Saat kadar gula darah menurun atau tubuh kelelahan, otak akan mencari sumber energi cepat. Gula menjadi pilihan instan karena efeknya yang langsung terasa.
Selain itu, makanan manis juga memicu hormon serotonin yang memberi rasa nyaman dan tenang.
Tak heran, keinginan makan cokelat, es krim, atau kue sering muncul saat seseorang stres, kurang tidur, merasa sedih atau cemas, bahkan menjelang menstruasi.
Namun jika ngidam manis terlalu sering, ini bisa menandakan pola makan yang tidak seimbang atau kecenderungan emotional eating.
Craving Bukan Musuh, Tapi Bahasa Tubuh
Alih-alih langsung merasa bersalah, para ahli menyarankan untuk mendengarkan craving dengan lebih sadar. Tubuh jarang “ngidam tanpa alasan”. Yang perlu diperhatikan adalah konteksnya.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain memperbaiki pola tidur, mengelola stres, mencukupi cairan tubuh, menjaga asupan nutrisi seimbang, dan tidak melewatkan waktu makan.
Craving yang terus ditekan atau diabaikan justru berisiko memicu makan berlebihan di kemudian hari.
Baca Juga: Media Jerman Soroti Kevin Diks, Lebih Viral dari Klubnya Sendiri
Berdamai dengan Ngidam, Bukan Melawannya
Pendekatan terhadap ngidam kini mulai bergeser. Bukan lagi soal menahan diri sekuat mungkin, melainkan memahami akar keinginannya.
Konsep seperti mindful eating dan intuitive eating semakin banyak diterapkan—makan dengan sadar, tanpa rasa bersalah, dan tetap mengenali batas tubuh.
Karena pada akhirnya, ngidam pedas, asin, atau manis bukan kelemahan. Itu adalah pesan halus dari tubuh yang meminta perhatian.
Jika lain kali tiba-tiba ingin makanan tertentu, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Bisa jadi, tubuh hanya sedang berbisik, “Aku butuh kamu lebih peduli.” (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah