RADARBONANG.ID – Telur kerap mendapat stigma sebagai makanan penyebab kolesterol tinggi. Banyak orang memilih menghindarinya karena khawatir kadar kolesterol darah melonjak drastis.
Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Sejumlah penelitian ilmiah justru menunjukkan bahwa telur dapat menjadi bagian dari pola makan sehat, termasuk untuk menjaga kesehatan jantung.
Dalam beberapa tahun terakhir, pandangan tentang telur mulai bergeser.
Studi kesehatan terbaru mengungkapkan bahwa konsumsi telur tidak otomatis meningkatkan kolesterol darah seperti yang selama ini dipercaya.
Bahkan, dalam konteks pola makan seimbang, telur justru memberikan banyak manfaat nutrisi bagi tubuh.
Telur memang mengandung kolesterol, terutama pada bagian kuningnya. Namun, kolesterol dari makanan tidak bekerja secara langsung menaikkan kolesterol darah.
Baca Juga: Bukan Bitcoin Saja! Ini Deretan Crypto Favorit Pemuda Indonesia, Nomor 3 Paling Banyak Diburu
Tubuh manusia memiliki mekanisme alami yang jauh lebih kompleks dalam mengatur kadar kolesterol.
Kolesterol Darah Lebih Banyak Diproduksi Tubuh
Fakta penting yang sering terlewat adalah bahwa sebagian besar kolesterol dalam darah tidak berasal dari makanan, melainkan diproduksi oleh hati.
Organ ini akan menyesuaikan produksi kolesterol berdasarkan asupan nutrisi harian. Ketika asupan kolesterol dari makanan meningkat, tubuh cenderung menurunkan produksi internalnya.
Dengan kata lain, makan telur tidak otomatis membuat kolesterol darah melonjak. Yang justru berperan besar adalah jenis lemak yang dikonsumsi setiap hari.
Lemak Jenuh Lebih Berpengaruh Dibanding Telur
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans memiliki pengaruh lebih besar terhadap peningkatan kolesterol jahat atau LDL.
Mentega, daging olahan, gorengan, serta makanan cepat saji mendorong hati memproduksi LDL dalam jumlah lebih tinggi.
Sebaliknya, telur yang dikonsumsi tanpa tambahan lemak jenuh berlebih tidak memberikan dampak signifikan terhadap kolesterol darah pada orang dewasa yang sehat.
Masalah sering muncul karena telur kerap dikonsumsi bersama bacon, sosis, atau digoreng dengan banyak minyak.
Kesalahan Studi Lama Tentang Telur
Sejumlah studi terdahulu yang mengaitkan telur dengan kolesterol tinggi ternyata tidak sepenuhnya mempertimbangkan pola makan keseluruhan para partisipan.
Banyak di antaranya mengonsumsi telur bersamaan dengan makanan tinggi lemak jenuh, sehingga hasil penelitian menjadi bias.
Penelitian yang lebih baru dan komprehensif menunjukkan bahwa telur, jika dikonsumsi dalam jumlah wajar dan dikombinasikan dengan pola makan sehat, tidak meningkatkan risiko penyakit jantung.
Telur dan Kesehatan Jantung
Pada orang dewasa yang berada dalam kondisi sehat, konsumsi telur tidak terbukti berkaitan dengan peningkatan kolesterol darah.
Bahkan, beberapa penelitian menemukan bahwa makan hingga satu butir telur per hari dikaitkan dengan risiko penyakit jantung yang lebih rendah.
Telur mengandung protein berkualitas tinggi, vitamin B, vitamin D, kolin, serta antioksidan yang penting bagi kesehatan otak dan metabolisme.
Kandungan nutrisi ini membuat telur menjadi salah satu sumber gizi yang padat dan terjangkau.
Cara Aman Mengonsumsi Telur
Meski relatif aman, cara konsumsi tetap perlu diperhatikan agar manfaat telur maksimal tanpa meningkatkan risiko kesehatan.
Bagi sebagian orang, terutama yang memiliki kolesterol tinggi, pendekatan bijak sangat disarankan.
Mengonsumsi putih telur lebih sering dapat menjadi pilihan karena rendah kolesterol dan tinggi protein.
Selain itu, metode memasak juga berpengaruh. Telur rebus atau telur kukus lebih baik dibanding telur goreng dengan banyak minyak.
Pola makan secara keseluruhan tetap menjadi kunci. Mengimbangi konsumsi telur dengan makanan tinggi serat seperti sayur, buah, dan biji-bijian utuh membantu menjaga keseimbangan kolesterol.
Asupan protein rendah lemak seperti ikan dan dada ayam tanpa kulit juga mendukung kesehatan jantung.
Perhatikan Kondisi Kesehatan Pribadi
Setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda. Riwayat penyakit keluarga, gaya hidup, dan kondisi medis seperti kolesterol tinggi, diabetes, atau obesitas perlu menjadi pertimbangan utama.
Pada kondisi tertentu, pembatasan kolesterol dari makanan tetap diperlukan sesuai anjuran tenaga medis.
Kesimpulannya, telur bukan musuh bagi kolesterol seperti yang sering ditakutkan. Dengan konsumsi yang tepat dan pola makan seimbang, telur justru dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat.
Yang terpenting bukan sekadar menghindari satu jenis makanan, melainkan membangun kebiasaan makan yang menyeluruh dan berkelanjutan.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah